TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Okupansi hotel di Denpasar saat libur panjang Idul Fitri dan Nyepi tak sesuai ekspektasi atau harapan.
Situasi geopolitik global turut memberi dampak, khususnya dari pasar wisatawan Eropa.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Denpasar, Ida Bagus Sidarta Putra, mengungkapkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah mulai berimbas pada pola perjalanan wisatawan mancanegara.
Baca juga: KOSTER Sebut Kunjungan Wisatawan ke Bali Meningkat 8 Persen, Simak Penjelasannya
Ia menyebut, wisatawan asal Eropa memilih menunda bahkan mengalihkan rencana liburan mereka ke Bali dalam beberapa bulan ke depan.
Hal ini dipicu ketidakpastian akibat perang yang berdampak pada jalur penerbangan dan psikologis wisatawan.
"Sudah mulai ada pembatalan untuk jangka pendek, dan tren penundaan juga terlihat untuk beberapa bulan ke depan. Situasi perang membuat wisatawan cenderung menahan perjalanan," katanya Selasa, 24 Maret 2026.
Baca juga: Libur Idul Fitri, Pelayanan Publik Tetap Buka Tanggal 23 dan 24 Maret 2026 di Denpasar Bali
Sidarta menyebut, kawasan Timur Tengah selama ini menjadi salah satu jalur penting penerbangan dari Eropa menuju Bali.
Gangguan pada rute tersebut berpengaruh signifikan terhadap suplai wisatawan ke Pulau Dewata.
Meski demikian, pasar wisatawan dari Australia dinilai masih stabil dan menjadi penopang utama kunjungan ke Bali, termasuk Denpasar.
Sementara itu, Denpasar yang bukan merupakan destinasi utama wisata domestik juga tidak mengalami lonjakan signifikan selama periode liburan.
"Untuk pasar domestik di Denpasar memang tidak terlalu signifikan. Berbeda dengan daerah tujuan wisata utama lainnya," jelasnya.
Dari sisi tingkat hunian hotel atau okupansi, capaian selama libur Lebaran berada di kisaran 70 persen. (*)