Anggota DPR Tolak Wacana Belajar dari Rumah Mulai April: Kurang Efektif bagi Siswa!
GH News March 24, 2026 06:09 PM
Jakarta -

Muncul wacana agar siswa belajar dari rumah mulai April 2026. Khusus pembelajar yang bersifat praktikum, diarahkan tetap berjalan secara tatap muka.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia (Menko PMK) Pratikno mengatakan wacana ini dibahas dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Kebijakan Penghematan BBM yang digelar daring, Selasa (17/3/2026) lalu.

Ia menjelaskan, wacana belajar daring dan luring tersebut merupakan bagian dari penyusunan strategi penghematan energi lintas instansi sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto. Langkah ini di antaranya mempertimbangkan pengalaman saat pandemi Covid-19 dan berbasis data.

"Langkah efisiensi harus disusun secara terukur dan berbasis data konsumsi energi serta tingkat mobilitas di masing-masing sektor, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif yang berlebihan bagi masyarakat," kata Pratikno, dilansir dari Antara.

Khawatir Dampak Belajar Daring

Merespons hal ini, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, menolak wacana opsi penerapan sekolah online sebagai bagian dari strategi nasional untuk penghematan konsumsi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).

Ia menjelaskan, jika bercermin pada masa COVID-19, strategi pembelajaran online justru kurang efektif bagi siswa sekolah.

"Ketika isu mengenai pembelajaran secara daring mulai muncul di banyak media, sesungguhnya itu adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan kembali secara mendalam," kata Esti dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (23/3/2026).

Esti mengatakan, wacana ini muncul di tengah tekanan pasokan energi global dan harga minyak dunia imbas konflik geopolitik saat ini. Di sisi lain, pembelajaran daring menyisakan masalah bagi sistem pendidikan nasional.

Dampak pembelajaran daring tersebut antara lain adalah tantangan bagi anak untuk menyerap materi pelajaran, belajar dengan disiplin, hingga membentuk karakter. Hambatan teknologi juga dialami anak-anak.

Ia mengingatkan pemerintah untuk mencari alternatif solusi hemat energi yang lebih baik. Contohnya, siswa SMP, SMA, dan SMK dapat dilayani dengan sistem mobil antar-jemput, bekerja sama dengan angkutan umum saat ini. Titik-titik penjemputan ditentukan.

Sementara bagi siswa SD, yang menerapkan zonasi, penghematan energi dari belajar daring menurutnya relatif tidak berpengaruh besar.

Learning Loss

Ia mengingatkan, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, sempat menyatakan, tidak mudah untuk mengejar ketertinggalan pembelajaran atau learning loss murid akibat pandemi Covid-19 dan belajar daring yang diterapkan saat itu.

"Walaupun efektif dan menjadi solusi untuk mencegah penyebaran COVID-19, pembelajaran jarak jauh menyebabkan penurunan kualitas para pelajar," ucapnya.

Ia mencontohkan, skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia menunjukkan penurunan pada periode pandemi. Diketahui, skor PISA mengukur siswa usia 15 tahun berdasarkan literasi membaca, matematika, dan sains, serta kemampuan menerapkannya pada kehidupan nyata.

"Salah satunya tergambar melalui skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia yang mengalami penurunan," ucapnya.

Skor PISA Indonesia tahun 2022 secara keseluruhan sebesar 396 poin. Per bidang, skor PISA Indonesia turun pada literasi membaca (359 poin), matematika (366 poin), dan sains (383 poin).

Dampak Fisik-Psikologis Anak

Sementara itu, ia menyoroti dampak pembelajaran daring pada pemahaman materi yang menurun dan berkurangnya kesempatan anak untuk bersosialisasi. Di samping meningkatkan stres, belajar daring juga berisiko memicu kecanduan gawai dan ketergantungan anak pada pendampingan orang tua.

"Sistem daring sulit menerapkan pelajaran pada aspek afektif seperti kepribadian, sikap, dan karakter," ucapnya.

Pernikahan Dini

Sementara itu, pernikahan anak juga berisiko muncul seiring penerapan belajar online. Faktornya mulai dari lemahnya pengawasan orang tua maupun pendidik.

Berdasarkan data Kementerian PPN/Bappenas 2021, ada sekitar 400-500 anak perempuan usia 10-17 tahun yang berisiko menikah dini akibat pandemi COVID-19. Sementara itu, pada 2020, ada lebih dari 64 ribu pengajuan dispensasi pernikahan anak bawah umur. Menurut Esti, pembelajaran daring membuat siswa merasa tidak memiliki kebutuhan untuk belajar sehingga tidak ada rasa tanggung jawab dalam belajar.

"Sistem pembelajaran jarak jauh juga menyebabkan rendahnya nilai karakter siswa yang memang sulit untuk diajarkan menggunakan sistem belajar secara daring," paparnya.

Karena itu, ia berharap wacana belajar daring tidak diterapkan pemerintah sebagai langkah penghematan energi. Untuk itu, pemerintah perlu mencari solusi lain atas tantangan pasokan BBM ke depan.

"Jangan jadikan pembelajaran daring sebagai alternatif pilihan pembelajaran," ucapnya.

"Keterbatasan kemampuan fiskal perlu diatasi dengan cara yang lebih baik tanpa mengorbankan sektor pendidikan. Semoga isu pembelajaran daring hanya sekadar wacana," imbuh Esti.

Dampak Belajar Daring dari UNESCO

Laporan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO), Bank Dunia, dan Dana Anak Internasional PBB (UNICEF) merinci sejumlah dampak penutupan sekolah saat pandemi COVID-19 pada 2021 dan pembelajaran daring.

Berikut beberapa di antaranya:

1. Kemampuan anak-anak pada matematika dan literasi membaca menurun, terutama pada anak usia lebih kecil, anak dari keluarga berpenghasilan lebih rendah, dan anak perempuan.

2. Anak dari keluarga berpenghasilan rendah, anak berkebutuhan khusus, dan anak perempuan lebih kesulitan untuk bisa belajar dari rumah karena kurangnya akses ke teknologi, listrik, internet, HP atau komputer, serta diskriminasi dan ketimpangan gender.

3. Anak dengan usia lebih kecil punya akses ke pembelajaran daring yang lebih sedikit.

4. Risiko menjadi pekerja anak dan pernikahan dini meningkat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.