SURYA.CO.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan sosok pemimpin baru Iran.
Berdasarkan info yang dihimpun SURYA.CO.ID dari laman Politico, nama Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menjadi kandidat terkuat.
Hal tersebut diungkap dua pejabat pemerintahan setempat.
Menurutnya, Ghalibaf bisa membuka jalur komunikasi dengan pemerintahan Trump ke depan.
Meski demikian, para pejabat menegaskan bahwa Gedung Putih belum menetapkan pilihan pada satu tokoh tertentu dan masih mengkaji berbagai opsi yang tersedia.
“Dia salah satu yang paling berpengaruh. Tapi kita harus mengujinya, dan kita tidak bisa terburu-buru," katanya.
Baca juga: Sosok Paus Leo yang Dinilai Pengamat Bisa Damaikan Konflik AS-Iran, Sentuh Sisi Humanis Donald Trump
Sementara itu, Presiden Donald Trump sebelumnya menyampaikan bahwa perubahan besar dalam kepemimpinan Iran kemungkinan akan terjadi dalam waktu dekat.
Presiden AS itu mengatakan akan ada "perubahan rezim yang sangat serius" di Iran. Ia juga mengeklaim proses tersebut sudah mulai berlangsung seiring melemahnya struktur kepemimpinan lama.
“Mereka benar-benar baru memulai."
"Secara otomatis akan terjadi perubahan rezim, tetapi kita berurusan dengan beberapa orang yang menurut saya sangat masuk akal, sangat solid,” katanya.
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa Trump disebut tidak ingin menyerang Pulau Kharg, yang merupakan pusat utama ekspor minyak Iran.
Hal ini karena ia berharap pemimpin berikutnya akan membuat kesepakatan mengenai minyak yang mirip dengan yang dibuat oleh Presiden interim Venezuela saat ini.
Seorang pejabat menyebut pendekatan yang diinginkan Trump menyerupai skenario di Venezuela, ketika Wakil Presiden Delcy Rodriguez mengambil alih peran penting setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap.
“Ini semua tentang menempatkan seseorang seperti Delcy Rodriguez di Venezuela yang kita katakan, ‘Kami akan mempertahankan Anda di sana."
"Kami tidak akan menyingkirkan Anda. Anda akan bekerja sama dengan kami. Anda akan memberi kami kesepakatan yang baik, kesepakatan pertama tentang minyak,’” kata pejabat itu.
Namun, beberapa sekutu Gedung Putih skeptis terhadap keinginan AS untuk memilih pemimpin Iran berikutnya seperti yang dilakukannya terhadap Rodríguez di Venezuela.
“Sepertinya hanya gertakan, seolah-olah dia mencoba mewujudkan sesuatu dengan kata-kata,” kata seseorang yang dekat dengan tim keamanan nasional presiden.
“Iran telah membuktikan bahwa mereka dapat menerima pukulan dan tetap mempersulit kita. Mereka tidak akan begitu saja menyerah dan memberikan minyak mereka kepada Trump," imbuhnya.
Mohammad Bagher Ghalibaf merupakan tokoh paling berpengaruh dalam politik Iran saat ini.
Pria kelahiran 1961 ini memulai karier di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sejak awal berdirinya pada 1980.
Selama perang Iran-Irak, ia naik cepat dalam struktur militer dan menjadi salah satu komandan penting.
Ia kemudian menjabat sebagai Komandan Angkatan Udara IRGC, sebelum ditunjuk oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei sebagai Kepala Kepolisian Iran.
Dalam karier sipil, Ghalibaf pernah menjabat sebagai Wali Kota Teheran selama bertahun-tahun dan kini menjadi Ketua Parlemen Iran sejak 2020.
Ia juga beberapa kali mencalonkan diri sebagai presiden, meski selalu gagal memenangkan pemilu.
Seorang peneliti senior, Dr Raz Zimmt, menyebut Ghalibaf sebagai figur “orang dalam” yang kuat.
“Ia adalah ‘orang dalam’ dengan cara yang jarang dimiliki politisi lain,” katanya.
“Tidak seperti moderat sipil, Ghalibaf memiliki koneksi dengan (Qasem) Soleimani, yang memberinya kredibilitas di IRGC.”
Meski demikian, reputasinya tidak lepas dari kontroversi.
Ia kerap dituduh terlibat dalam kasus korupsi saat menjabat wali kota, meski juga dipuji sebagai sosok “konservatif pragmatis” yang mampu mengelola birokrasi kompleks.
===
Kami mengajak Anda untuk4 bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.
Klik di sini untuk untuk bergabung