Laporan Wartawan TribunJatim.com, Luhur Pambudi
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Dua orang komplotan maling motor yang kerap meresahkan warga Kota Surabaya ditangkap.
Komplotan tersebut terdiri dari pasangan pria wanita yang berstatus sebagai suami istri (pasutri).
Baca juga: Tak Dibelikan PCX, Pemuda di Tuban Aniaya Ayah Kandung, sempat Ancam Pilih Hidup atau Mati
Hal itulah yang membuat Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, ngamuk saat diinterogasi.
Luthfie juga geregetan karena komplotan tersebut sudah hampir mencuri belasan motor milik warga di parkiran pusat perbelanjaan.
Bahkan, beberapa lokasi aksi pencurian motor yang dilakukan komplotan pasutri tersebut berada di wilayah Kabupaten dan Kota Kediri.
Mereka berasal dari Kota Surabaya, sang suami berinisial LD (46) warga Kecamatan Jambangan, sedangkan sang istri berinisial WP (38) warga Kecamatan Sukolilo.
Keduanya dijerat Pasal 477 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan dan kini ditahan di Ruang Tahanan Mapolsek Lakarsantri Polrestabes Surabaya.
Luthfie terus geleng-geleng kepala melihat kelakuan pasutri tersebut.
Ia tak habis pikir dengan sang istri yang mau saja diajak sang suami melakukan aksi kriminalitas. Padahal, sudah memiliki anak.
"Perempuan kok maling motor, piye karepmu," ujar Luthfie dalam video unggahan akun Instagram @luthfie.daily, yang dilihat TribunJatim.com, Selasa (24/3/2026).
Selain itu, Luthfie juga merasa geram dengan kelakuan sang suami yang mengajak dan mengajarkan sang istri untuk berkomplot menjalankan aksi curanmor.
Padahal, sang suami juga memiliki pekerjaan tetap sebagai sopir travel.
Lagipula, mereka juga memiliki anak yang masih harus dibimbing.
"Kok kamu laki laki enggak membimbing istri. Kok malah mbimbing ke jalan kemalingan," tukas Luthfie.
Dongkolnya lagi, selama diinterogasi, Luthfie makin naik pitam saat mendengar pengakuan komplotan tersebut yang sudah beraksi di sembilan lokasi.
Apalagi saat sang suami menjawab pertanyaan Luthfie menggunakan istilah yang khas biasa dipakai oleh pelaku curanmor kawakan.
"Perannya apa saja kalian?" tanya Luthfie.
Sang suami menjawab, "Saya yang 'metik' (eksekutor) biasanya, ndan."
"Wah kok tahu istilah 'metik' pemain ahli kamu ini. Kamu enggak kasihan orang nyicil lama, tapi motornya kamu curi?" lugas Luthfie.
Sang suami menjawab bahwa diri merasa kasihan dengan nasib para korbannya yang barangkali membeli motor tersebut dengan cara bersusah payah mencicil bertahun-tahun.
Namun, ia berdalih bahwa semua aksi kriminalitas ini terpaksa dilakukannya karena terdesak biaya kebutuhan hidup sehari-hari.
Lantaran ia merasa gaji bulanan sebagai sopir travel masih terbilang kurang mencukupi kebutuhan hidup istri dan anaknya.
"Saya sopir travel. Kepepet saya ndan. Punya anak. Ya kebutuhan untuk anak sakit," dalih sang suami LD.
Baca juga: Bus Terjebak Kemacetan Arus Balik, Penumpang di Terminal Tulungagung Harus Menunggu Lebih dari 1 Jam
Sang suami juga mengaku sudah memulai kebiasaan mencuri motor bersama sang istri sejak awal tahun 2025 silam.
Modusnya, ia bersama sang istri berboncengan motor jenis beberapa berkeliling layaknya pasutri yang hendak mencari destinasi tempat nongkrong atau makan malam di pusat perbelanjaan pinggir kota.
Lalu jika berhasil melihat adanya motor calon korban yang diparkir dalam suatu area sepi tanpa pengawasan, ia mulai berusaha mencurinya.
Selama ini, sang suami mengaku sudah sekitar sembilan kali beraksi mencuri motor.
Ia memiliki kode khusus saat beraksi bersama istrinya, kodenya: yuk jalan-jalan.
"9 kali (beraksi). Yang ajak kadang saya, kadang istri saya. Kalau istri saya yang ngajak, (pakai kode) jalan-jalan gitu ndan," ungkapnya.
Biasanya setelah berhasil mencuri motor, sang suami bakal langsung menjualnya ke seorang penadah kenalannya berinisial YO seharga kisaran Rp2,5 juta.
Sosok YO juga sudah berhasil ditangkap anggota Polsek Lakarsantri Polrestabes Surabaya.
"Saya serahkan ke Mas YO," ujar sang suami.
Kemudian, giliran Pelaku YO penadah motor curian diinterogasi Luthfie.
"Sekitar 20-an. Iya (ketambahan 9 motor hasil curian pasutri itu jadi 29 motor)," ujar Pelaku YO.
Sementara itu, Kapolsek Lakarsantri Polrestabes Surabaya Kompol Imam Solikin mengatakan, komplotan curanmor pasutri tersebut sudah beraksi di delapan lokasi.
Namun, sepak terjang kejahatan mereka akhirnya terhenti saat kepergok mencuri motor di lokasi kesembilan, yakni Surabaya Barat beberapa waktu lalu.
"Pengakuannya sudah beraksi di banyak TKP, Surabaya dan kabupaten lain," ujar Imam, saat dihubungi TribunJatim.com, pada Selasa (24/3/2026).
Tercatat, komplotan pasutri maling motor tersebut pernah mencuri di tiga Kecamatan di Kota Surabaya, yakni dua lokasi di Kecamatan Sambikerep.
Seperti parkiran bakmi Jalan Niaga Gapura Road Gwalk Citraland Surabaya, pada Jumat (18/7/2025), mencuri motor Honda Supra 125 bernopol L-2399-CB.
Lalu, salah satu toko di jalan yang sama, pada Rabu (3/12/2026), mencuri motor Honda Beat warna Merah bernopol L-5495-CAS.
Selanjutnya, di Kecamatan Jambangan, satu lokasi, yakni di parkiran Pasar Raya Pagesangan Surabaya, pada Bulan Oktober 2025, mencuri motor Honda Supra.
Ada pula, di Kecamatan Sukolilo, dua lokasi yakni di parkiran Pasar Nginden, pada Rabu (25/2/2026), mencuri motor Honda Supra.
Lalu, di sebuah parkiran warung Jalan Plumpungan, mencuri motor Honda Vario.
Selanjutnya, komplotan pasutri tersebut juga pernah beraksi mencuri motor di Kabupaten dan Kota Kediri.
Di antaranya, parkiran Kampung Inggris, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, lalu pada pertengahan tahun 2025, mereka mencuri motor Honda Beat.
Lalu, di Kota Kediri, mereka pernah mencuri motor Honda Supra 125, pada akhir tahun 2025.
Dan, masih di akhir tahun 2025, pasutri tersebut juga pernah mencuri motor Honda Vario 125 di parkiran warung dekat GOR Kota Kediri.
"Kami menyita motor Honda Karisma sarana aksi. Lalu kunci R dan 3 anak mata kuncinya," pungkas mantan Kapolsek Tambaksari itu.