TRIBUN-TIMUR.COM - Pemberlakuan kerja dari mana saja atau work from anywhere (WfA) pasca-Lebaran Idulfitri 1447 H direspons sebagai peluang oleh manajemen hotel berbintang di Makassar.
Kebijakan pemerintah pusat mulai diuji cobakan akhir Maret dan diperkirakan berlanjut hingga meredanya ekses perang di Selat Hormuz, Iran, dan Semenanjung Arab.
Manajemen hotel mengaku menyiapkan paket micro-creative guna menyiasati efek efisiensi anggaran dan penurunan okupansi pascapandemi.
Manajemen Hotel Aryaduta Makassar, misalnya, merespons dengan merealokasi akses internet nirkabel (WiFi) ke working space kafe, menambah kapasitas tempat duduk (seating capacity) lounge, hingga menyiapkan aneka paket kuliner ringan.
“Selain tambah space indoor, lounge, dan outdoor, kita juga realokasi services staff,” kata GM Aryaduta Hotel, Erwin Arisandy (44), kepada Tribun, Selasa (24/3/2026), di sela-sela acara Halalbihalal KKDB di Aryaduta, Jalan Somba Opu, Makassar.
Hotel berbintang di Pantai Losari ini kini memiliki 250 kapasitas tempat duduk untuk indoor dan outdoor lounge.
Selain itu, guna menampung lebih lama pekerja kantoran, pihaknya juga merevitalisasi ruang ibadah.
“Paket Kopi Professor, kuliner ringan padat sokko mandoti, kita jual sebagai siasat baru menghadapi krisis,” ujarnya.
Hal serupa juga dikemukakan GM Rinra Hotel, Andi Junaidi.
Selain menambah paket camilan dan minuman ringan, pihaknya menata ulang lounge, restoran, serta menambah kapasitas akses internet.
“Tantangannya, efek efisiensi anggaran korporasi dan governance spending turun sejak tahun lalu. Kita siasati dengan paket mikro, tapi layanan makro,” ujarnya, pengelola hotel di pantai barat Makassar ini.
Pihaknya menyebut potensi Makassar sebagai destinasi Meeting, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) dilihat sebagai ceruk pasar.
“Pokoknya yang penting bisa survive dulu,” ujarnya.
Secara terpisah, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, Anggiat Sinaga, menyebut bagi industri hospitality, kebijakan ini di satu sisi menjadi beban biaya tambahan, dan di sisi lain menjadi peluang.
“Hotel dan restoran itu tidak seperti perkantoran pada umumnya yang bisa dikerjakan dari mana saja. Operasional hotel butuh kehadiran fisik,” ujar Anggiat saat dikonfirmasi.
Belajar dari ekses masa pandemi Covid-19 lima tahun lalu, ia menyebut layanan kebersihan kamar, aktivitas dapur, engineering, maupun pengamanan masih sulit digantikan.
Ia berharap pemerintah kembali membuka peluang stimulus, misalnya relaksasi pajak dan regulasi lain.
Melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, akhir pekan lalu disebutkan bahwa pemerintah pusat tengah menyiapkan skema kebijakan WfA dan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN), pekerja swasta, hingga pemerintah daerah tahun ini.
Skema kebijakan ini merupakan respons atas meningkatnya harga minyak dunia akibat perang di kawasan Timur Tengah.
“Terkait dengan kajian bahwa dengan tingginya harga minyak, maka perlu efisiensi waktu kerja, di mana akan dibuka fleksibilitas untuk work from home,” kata Airlangga usai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana, Jakarta, Kamis (19/3/2026).
Kebijakan ini merupakan implementasi instruksi Presiden Prabowo Subianto.
Menurut dia, kemungkinan penerapan kebijakan WFH akan dimulai setelah Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau 2026 Masehi.
Memanfaatkan libur cuti Lebaran, WfA diberlakukan hingga Sabtu (28/3/2026) akhir pekan ini.
Awal Maret lalu, libur dan cuti Lebaran hanya ditetapkan hingga 25 Maret.
Jika konsep kebijakannya sudah dimatangkan, ia mengatakan pengumuman lanjutan akan disampaikan ke publik.
“Pasca-Lebaran, tapi nanti kita akan tentukan kapan waktunya,” katanya.(*)