Dahulukan Bayar Utang Puasa Ramadhan Atau Puasa Syawal? Ini Penjelasannya
Nur Pratama March 25, 2026 12:07 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Hari ini telah masuk 4 Syawal 1447 H yang bertepatan dengan 24Maret 2026.

Utang puasa harus dibayar selagi masih diberi kesempatan hidup di dunia.

Bagaimana tata cara membayar puasa tertinggal dalam bulan Ramadhan simak penjelasan ini.

Inilah bacaan niat puasa Syawal dan amalan pada bulan Syawal.

Syawal merupakan bulan kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

Baca juga: Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Seperti Berpuasa Setahun Penuh, Ini Bacaan Niatnya

Bulan Syawal memiliki keistimewaan sebagai pelengkap ibadah di bulan Ramadhan, sehingga keberkahannya akan terus mengalir bagi semua muslim.

Pada bulan Syawal, umat Islam disunnahkan berpuasa selama enam hari.

Puasa Syawal dimulai tanggal 2 Syawal atau sehari setelah Lebaran.

Waktu terbaik untuk melaksanakan puasa Syawal adalah tanggal 2-7 Syawal.

Puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan atau berseling, yang penting masih di bulan Syawal.

Jika Anda mempunyai utang puasa Ramadan, maka disarankan untuk menggantinya terlebih dahulu (puasa qadha).

Hal ini berdasarkan pada penjelasan dari Ibnu Hambali dalam kitabnya Lathoiful Ma’arif.

Ibnu Rajab Al Hambali berkata:

“Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’ puasa Ramadhan, hendaklah ia memulai puasa qodho’nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasa qodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

Niat Puasa Syawal

Inilah bacaan niat puasa Syawal yang dianjurkan untuk dilafalkan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.
Artinya:

“Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT.”

Niat puasa Syawal juga bisa dilafalkan pada siang hari selama belum makan atau minum.

Berikut niat puasa Syawal yang dibaca pada siang hari:

نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.
Artinya:

“Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah SWT.

Amalan di Bulan Syawal

Ada sejumlah amalan yang dapat mendatangkan pahala berlimpah apabila dikerjakan semata-mata karena Allah SWT.

Inilah amalan-amalan yang bisa dikerjakan pada bulan Syawal sebagaimana dilansir baznas-sumedang.org:

1. Puasa Syawal 6 Hari

Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan seperti puasa sepanjang tahun.

Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang berasal dari Abu Ayub Al Anshari, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر

“Barang siapa berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu setara dengan puasa sepanjang tahun.” (HR Muslim, Imam Ahmad juga meriwayatkan dari hadits Jabir).

2. Puasa Senin Kamis

Beberapa riwayat mengatakan puasa Senin dan Kamis merupakan salah satu puasa sunnah yang dianjurkan Rasulullah SAW.

Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah ra:

“Rasulullah SAW sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Imam Ahmad).

3. Puasa Ayyamul Bidh

Amalan sunnah di bulan Syawal lainnya adalah puasa Ayyamul Bidh.

Puasa sunnah ini dikerjakan setiap tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriah) setiap bulannya.

Dalam riwayat Bukhari yang berasal dari Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash RA disebutkan, salah satu keutamaan dari puasa Ayyamul Bidh adalah seperti berpuasa sepanjang tahun.

4. Silaturahmi

Syawal adalah bulan yang baik untuk menyambung tali silaturahmi.

Anjuran dan perintah untuk menjalin tali silaturahmi disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasulullah menjawab:

تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ

Artinya: “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari no. 5983)

5. Bersedekah

Sedekah merupakan amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk dilakukan kapanpun.

Sedekah sebaiknya dilakukan segera sebagai salah satu bentuk ungkapan syukur atas nikmat Allah SWT.

Amalan ini sangat dicintai Allah SWT, sehingga diberikan balasan dan pahala yang berlipat ganda bagi setiap muslim yang mengerjakannya.

Dengan melaksanakan sedekah, maka kita akan memiliki rasa empati yang tinggi, terhindar dari sifat kikir dan selalu bersyukur, serta membukakan pintu rezeki dari arah manapun.

Jadi sedekah tidaklah mengurangi harta.

Sebaliknya, sedekah malah akan membuka pintu rezeki selebar-lebarnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

Artinya : “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2558, dari Abu Hurairah)

6. Melangsungkan Pernikahan

Amalan lain yang dianjurkan pada bulan Syawal adalah melangsungkan pernikahan atau membangun rumah tangga.

Menikah pada bulan Syawal merupakan salah satu sunah Rasul yang pada masa dahulu ditujukan untuk menepis kepercayan sesat dari orang-orang jahiliyah yang menganggap pernikahan di bulan Syawal dapat membawa kesialan atau bencana.

Sebagaimana hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu Anha:

تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي

Artinya: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara istri-istri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR Muslim).

7. Iktikaf

Iktikaf adalah aktivitas berdiam diri di masjid dalam satu tempo tertentu dengan melakukan amalan-amalan (ibadah-ibadah) tertentu untuk mengharapkan ridha Allah.

Kebiasaan iktikaf yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan disunahkan untuk terus dikerjakan pada bulan Syawal.

Berbagai amalan dan ibadah dapat dilakukan selama melaksanakan iktikaf untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan berzikir, melaksanakan salat lima waktu dan salat sunnah, serta membaca Alquran.

Pada tahun ini, Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026 atau 1 Syawal 1447 H. Dengan demikian, puasa Syawal dimulai pada 2 Syawal 1447 H.

Jika dikonversikan ke kalender Masehi, tanggal tersebut bertepatan dengan Minggu, 22 Maret 2026 sebagai awal puasa Syawal.

Pelaksanaan yang paling utama adalah dilakukan secara berurutan selama enam hari, yaitu mulai 2 hingga 7 Syawal.

Namun demikian, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj menjelaskan bahwa puasa Syawal tidak wajib dilakukan berturut-turut.

Umat Muslim dapat memilih enam hari mana saja selama masih berada di bulan Syawal, sebagaimana dikutip dari baznas.go.id.

Karena itu, puasa Syawal bisa dilakukan, misalnya, bertepatan dengan puasa Senin dan Kamis, atau dengan melewati tanggal 13, 14, dan 15, selama masih dalam rentang bulan Syawal.

Bahkan, jika seseorang berniat menjalankan puasa Senin-Kamis atau puasa ayyamul bidl (13, 14, 15 setiap bulan hijriah), ia tetap memperoleh keutamaan puasa Syawal.

Hal ini karena yang menjadi tujuan utama adalah pelaksanaan puasanya itu sendiri, terlepas dari niat tambahan yang menyertainya.

Puasa sunnah ini dapat dilaksanakan hingga akhir bulan Syawal, yakni sampai 29 Syawal 1447 H yang bertepatan dengan Sabtu, 18 April 2026. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.