TRIBUN-MEDAN.COM - Konflik di kawasan Timur Tengah yang kembali memanas sejak eskalasi serangan antara Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran pada akhir Februari 2026 telah menimbulkan dampak luas terhadap sektor pariwisata dan penerbangan dunia.
Lonjakan harga minyak, potensi gangguan operasional di bandara-bandara Teluk Persia, serta melemahnya permintaan perjalanan global membuat maskapai berada dalam tekanan besar.
Menurut laporan Financial Times, dikutip Selasa (24/3/2026), sekitar 20 maskapai besar diperkirakan menanggung kerugian hingga 53 miliar dollar AS atau hampir Rp 900 triliun.
Untuk menjaga stabilitas keuangan, maskapai mulai menaikkan tarif tiket penerbangan.
Kenaikan ini tidak hanya berlaku pada rute yang bersinggungan langsung dengan Timur Tengah, tetapi juga rute internasional lain.
Konsumen pun harus menanggung beban tambahan biaya perjalanan, termasuk mereka yang hendak melakukan perjalanan religius.
Penurunan Kunjungan WNI ke Vatican
Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, aktivitas peziarahan di Basilika Santo Petrus, Vatikan, tetap berlangsung ramai.
Antrean panjang peziarah dari berbagai negara terlihat mengular di Lapangan Santo Petrus, dengan pengamanan ketat aparat Italia.
Rombongan besar dari Polandia, Perancis, Jerman, Portugal, dan Kongo hadir membawa bendera kebangsaan mereka.
Namun, berbeda dengan periode normal, kali ini tidak terlihat kehadiran peziarah asal Indonesia.
Wartawan Radio Sonora, Stanislaus Jumar Sudiyana, yang tengah meliput kegiatan delegasi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Roma melaporkan bahwa biasanya WNI cukup rutin hadir dalam rombongan internasional, tetapi kini banyak yang membatalkan perjalanan.
Suster Yunita, pengelola wisma peziarah di Roma, menyebutkan bahwa sedikitnya 27 peziarah asal Timor Leste membatalkan rencana kunjungan ke Vatikan pada akhir Maret hingga awal April 2026 karena tidak tersedia penerbangan dari wilayah mereka. Hal serupa juga terjadi pada peziarah asal Indonesia.
Dampak di Indonesia
Konflik Timur Tengah juga langsung terasa di Indonesia.
Sejumlah penerbangan dari dan menuju Timur Tengah melalui Bandara Soekarno-Hatta dilaporkan mengalami pembatalan sejak akhir Februari 2026.
Rute menuju Doha, Dubai, dan Riyadh masih banyak yang ditangguhkan hingga April 2026.
Maskapai mengimbau calon penumpang untuk melakukan penjadwalan ulang atau pengembalian dana tiket.
Kondisi ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga merembet hingga aktivitas religius dan mobilitas global.
Antusiasme Peziarah dari Negara Lain
Meski peziarah asal Indonesia dan Timor Leste mengalami hambatan, peziarah dari negara lain tetap menunjukkan antusiasme tinggi.
Pasangan muda asal Filipina, misalnya, mengaku bersyukur dapat berziarah ke Basilika Santo Petrus.
Mereka tidak ingin kehilangan kesempatan pertama berkunjung ke Vatikan, dan tidak terlalu khawatir dengan penerbangan dari negaranya ke Roma.
Hal ini memperlihatkan bahwa dampak konflik tidak dirasakan secara merata, tergantung pada jalur penerbangan dan kebijakan maskapai masing-masing negara.
Fenomena ini menjadi cerminan betapa eratnya keterhubungan dunia modern.
Ketegangan di satu kawasan dapat memengaruhi aktivitas keagamaan ribuan kilometer jauhnya.
Mobilitas spiritual seperti ziarah ternyata sangat rentan terhadap dinamika politik global.
Dalam jangka panjang, umat mungkin akan mencari alternatif jalur atau bahkan bentuk baru ziarah yang lebih aman dan terjangkau, baik melalui jalur regional maupun pengalaman digital.
Konflik Timur Tengah bukan hanya soal geopolitik dan energi, tetapi juga tentang bagaimana kehidupan religius, budaya, dan sosial masyarakat dunia ikut terguncang.
Bagi Indonesia, penurunan kunjungan ke Vatikan menjadi salah satu bukti nyata bahwa krisis global dapat langsung menyentuh aspek spiritual umat.
(*/Tribun-medan.com/Sonora)
Baca juga: Mohammad Bagher Ghalibaf Ramai Dibahas di AS, Sosoknya Akan Dijadikan Trump sebagai Pemimpin Iran?
Baca juga: Harga Minyak Dunia Naik Lagi 3 Persen setelah Negara Teluk Mulai Terseret ke Dalam Perang Iran
Baca juga: Negara Teluk Mulai Terseret ke Dalam Perang Iran, Arab Saudi: Antara Kesabaran dan Tekanan