TRIBUNNEWS.COM - Iran menyatakan kapal-kapal “non-musuh” kini dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman di tengah menurunnya lalu lintas maritim yang memicu krisis energi global.
Al Jazeera melaporkan, pernyataan itu disampaikan misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (25/3/2026).
Iran menegaskan kapal diperbolehkan melewati jalur tersebut selama tidak terlibat atau mendukung tindakan agresi terhadap Teheran.
Selain itu, kapal wajib mematuhi seluruh aturan keselamatan dan keamanan yang telah ditetapkan otoritas Iran.
Dalam pernyataannya, Iran juga menyebut kapal harus berkoordinasi dengan otoritas terkait sebelum melintasi selat tersebut.
Sebelumnya, Iran telah menyampaikan kebijakan serupa kepada Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Al Jazeera melaporkan, langkah ini dipandang sebagai sinyal bahwa Iran tidak memberlakukan blokade total di Selat Hormuz.
Baca juga: Iran Tegaskan Pertahankan Kendali Selat Hormuz, AS Kirim Rencana 15 Poin Akhiri Perang Timur Tengah
Namun, Teheran tidak merinci aturan teknis yang harus dipenuhi kapal untuk dapat melintas dengan aman.
Iran hanya menegaskan bahwa jalur aman tersedia bagi kapal yang tidak dianggap sebagai “musuh”.
Sejak pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran pada 28 Februari, lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun tajam.
Sebelum konflik, sekitar 120 kapal melintasi jalur tersebut setiap hari.
Kini, hanya sekitar lima kapal yang terdeteksi melintas dalam satu hari, menurut perusahaan intelijen maritim Windward.
The New York Times melaporkan, ratusan kapal tanker bahkan menganggur di kedua sisi selat karena kekhawatiran serangan.
Kondisi ini terjadi karena operator kapal enggan mengambil risiko di jalur yang menjadi salah satu titik terpenting distribusi energi dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Terhambatnya aktivitas pelayaran di kawasan ini memicu lonjakan harga energi global dalam beberapa pekan terakhir.
Baca juga: AS dan Iran Saling Ancam soal Selat Hormuz, Pakar: Berbahaya bagi Dunia
Sejumlah analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga 150 hingga 200 dolar AS per barel jika gangguan berlanjut.
Tampaknya, tanda-tanda deeskalasi mulai terlihat.
Reuters melaporkan, harga minyak mentah Brent turun lebih dari 9 persen setelah muncul laporan adanya rencana perdamaian dari Amerika Serikat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan sedang berlangsung untuk mengakhiri perang.
Dilansir BBC, Trump menyebut Iran ingin “membuat kesepakatan” meski Teheran sebelumnya membantah adanya negosiasi langsung.
Meski demikian, pejabat Iran mengakui adanya pertukaran pesan melalui pihak ketiga terkait upaya deeskalasi konflik.
Iran menegaskan bahwa stabilitas penuh di Selat Hormuz hanya bisa tercapai jika agresi militer dihentikan.
Harapan meredanya konflik langsung berdampak pada pasar keuangan global.
Indeks saham utama di Asia dibuka menguat pada Rabu.
Indeks Nikkei 225 Jepang naik sekitar 2,3 persen.
KOSPI Korea Selatan menguat 2,6 persen.
Sementara itu, Indeks Hang Seng di Hong Kong naik 0,7 persen.
Pemulihan ini mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap kemungkinan berakhirnya konflik yang selama ini mengguncang ekonomi global.
Meski Iran membuka jalur aman bagi kapal non-musuh, belum jelas apakah langkah ini cukup untuk mengembalikan kepercayaan pelaku industri pelayaran.
Baca juga: AS dan Iran Saling Ancam soal Selat Hormuz, Deadline hingga Selasa Pagi
Banyak perusahaan kapal tanker diperkirakan masih menunggu kepastian kesepakatan damai sebelum kembali melintasi Selat Hormuz secara normal.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada sinyal deeskalasi, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah masih sangat tinggi.
Perkembangan negosiasi antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel akan menjadi penentu utama stabilitas jalur energi global ke depan.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)