Kasus DBD di Mojokerto Ancam Balita dan Anak-anak, Diprediksi Terjadi saat Puncak Musim Hujan
Januar March 25, 2026 02:14 PM

 

Laporan wartawan TribunJatim.com, M Romadoni

TRIBUNJATIM.COM, MOJOKERTO- Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan seiring lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Kabupaten Mojokerto menyusul puncak musim hujan. 

Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, tercatat sebanyak 73 kasus DBD mayoritas menyasar balita dan anak-anak yang terjadi di awal Tahun 2026 

Bahkan kasus DBD ini telah merenggut satu korban jiwa, yakni seorang bocah berusia 5 tahun asal Desa Gayaman, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. 

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggrahini Sulistyowati, mengkonfirmasi, bahwa kasus DBD mencapai 73 kasus pada bulan Januari- Maret tahun 2026.

Baca juga: Pemkab Sidoarjo Catat Penurunan Kasus Demam Berdarah, Pencegahan Tetap Prioritas

Dengan rincian 37 kasus pada bulan Januari, 30 kasus Februari dan enam kasus DBD pada Maret . 

"Total 73 kasus DBD di Kabupaten Mojokerto, berdasarkan siklus setiap tahun bahwa tren peningkatan memang terjadi di triwulan pertama. Dengan penderita terbanyak yaitu anak usia 5- 15 tahun," ujar Dyan, Selasa (24/3/2026).

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto, Agus Dwi Cahyono menjelaskan, hasil penelusuran satu pasien dinyatakan meninggal dunia akibat wabah DBD. 

Korban inisial QA (5) warga Mojoanyar yang sebelumnya dirawat di rumah sakit Mojokerto, kemudian dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. 

"Hasil pengecekan data, satu anak memang meninggal karena sakit DBD. Petugas juga sudah melakukan fogging di kawasan tersebut," ucap Agus. 

Menurutnya, kasus DBD merebak bersamaan dengan musim hujan yang terus meningkat sehingga perlu diwaspadai hingga beberapa pekan kedepan. 

Intensitas hujan menyebabkan potensi banyaknya tempat berkembangbiak jentik nyamuk Aedes aegypti, seperti genangan air jernih wadah barang bekas dan lainnya. 

Kebersihan lingkungan juga menjadi salah satu faktor utama dalam memberantas jentik nyamuk pembawa wabah DBD. 

"Jadi ada dua faktor yang memicu (DBD), faktor lingkungan, kebersihan lingkungan banyak sarang nyamuk diperparah kondisi cuaca. Kemudian faktor individu, berkaitan kekebalan tubuh, gizi, kebersihan diri dan riwayat penyakit lainnya," pungkas Agus.

Agus menambahkan, pihaknya telah melayangkan surat edaran untuk mengantisipasi penyebaran kasus DBD khususnya di seluruh Fasyankes 27 puskesmas dan rumah sakit. 

UPTD Puskesmas juga diimbau mengintensifkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M Plus yang melibatkan masyarakat setempat. 

"Kita sudah menerbitkan surat edaran kewaspadaan DBD ke seluruh puskesmas dan rumah sakit, terkait waspada DBD," tukasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.