Kisah seorang gadis yang diusir oleh ayah kandungnya sehari menjelang Hari Raya Idulfitri karena menolak dijodohkan.
Peristiwa ini terjadi di Johor, Malaysia.
Sang gadis memilih pergi dari rumah demi melanjutkan pendidikannya.
Kisah gadis ini terungkap usai pengusaha sekaligus pendakwah Malaysia, Herman Sudil, membagikan kisah itu di media sosial pada Jumat (20/3/2026).
Dalam unggahan tersebut, Herman mengungkapkan bahwa remaja itu memilih untuk melanjutkan pendidikan dan menolak dinikahkan dengan pria pilihan ayahnya.
“Besok Hari Raya, tetapi remaja ini diusir dari rumah oleh ayahnya sendiri karena ingin terus sekolah dan menolak menikah dengan seseorang yang telah dipilihkan,” tulisnya.
Setelah kejadian tersebut, remaja itu akhirnya ditempatkan di sebuah rumah perlindungan anak.
Ia disebut dibawa ke sana setelah laporan polisi dibuat, dan kemudian diserahkan secara resmi oleh ibunya.
Herman menyebutkan, saat meninggalkan rumah, gadis tersebut masih mengenakan seragam sekolah dan hanya membawa tas berisi buku-bukunya.
Ia menggambarkan remaja itu sebagai sosok yang berprestasi secara akademik dan memiliki cita-cita untuk masa depannya, namun justru dihadapkan pada tekanan untuk menikah.
“Dia anak yang baik, cerdas, dan punya mimpi. Tapi dipaksa menikah. Dia memilih pergi, meski harus meninggalkan ibu dan saudara-saudaranya,” ujarnya, sebagaimana dilansir World of Buzz.
Di rumah perlindungan, remaja tersebut langsung berbaur dengan anak-anak lain dan bahkan mengikuti kegiatan membaca Al-Qur'an bersama pada waktu subuh.
Herman menilai, meskipun situasinya menyedihkan, keputusan untuk menjauh dari keluarga justru membuka peluang bagi remaja itu untuk tetap melanjutkan pendidikan.
“Kami merasa kasihan padanya, tetapi lebih baik ia berada di sini agar bisa terus bersekolah. Insyaallah, suatu hari nanti dia bisa membantu keluarganya,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa kasus seperti ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan terhadap anak, sekaligus mendorong pihaknya untuk terus menggalang dana dan memperluas fasilitas rumah perlindungan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Peristiwa ini menyoroti persoalan pernikahan dini dan tekanan keluarga yang masih terjadi di sejumlah wilayah, serta pentingnya akses pendidikan bagi anak-anak sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik.