SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Kondisi banjir yang merendam kawasan Bengawan Jero di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur (Jatim), dilaporkan mulai berangsur membaik pada Rabu (25/3/2026).
Pemerintah daerah memastikan situasi tetap terkendali, seiring dengan menurunnya debit air secara signifikan di sejumlah titik genangan utama.
Banjir Bengawan Jero kini mulai dialirkan keluar menuju Bengawan Solo melalui Pintu Sluis Kuro tanpa memerlukan bantuan mesin pompa.
Baca juga: Wagub Jatim Emil Dardak Percepat Penanganan Banjir Lamongan, Kerahkan Pompa Apung
Penurunan debit air ini, dimungkinkan karena permukaan air Bengawan Solo di titik pembuangan saat ini jauh lebih rendah dibandingkan elevasi air di dalam kawasan.
Kondisi gravitasi ini membuat aliran banjir dari Bengawan Jero dapat meluncur deras keluar menuju arus utama Bengawan Solo secara alami.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lamongan, Moh Nalikan, mengonfirmasi bahwa secara umum kondisi wilayah terdampak banjir masih dalam keadaan kondusif.
"Alhamdulillah kondisi Lamongan secara umum tetap kondusif. Untuk genangan air di Bengawan Jero juga sudah mulai surut, saat ini kurang lebih di angka 50 sentimeter," ujar Nalikan.
Baca juga: Strategi SDABK Atasi Banjir Lamongan: Pintu Sluis Kuro Dibuka Usai Debit Melandai
Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, angka 50 centimeter menunjukkan tren positif dibandingkan pekan sebelumnya yang mengganggu mobilitas ekonomi.
Berikut adalah poin-poin terkini penanganan banjir di Bengawan Jero Lamongan:
Nalikan berharap, kondisi cuaca tetap mendukung agar genangan dapat hilang sepenuhnya dalam waktu dekat sehingga aktivitas masyarakat kembali normal.
Kabar surutnya air ini, menjadi angin segar bagi warga yang mengaku sudah merasakan dampak banjir selama 4 bulan terakhir.
Baca juga: Update Banjir Lamongan: 2.105 Rumah Terendam Selama 4 Bulan, Warga Jalani Ramadan di Atas Perahu
Kawasan Bengawan Jero merupakan daerah dataran rendah di Lamongan yang secara geografis berbentuk menyerupai mangkuk. Lokasi ini mencakup beberapa kecamatan seperti Turi, Karangbinangun, Kalitengah, Deket dan Glagah.
Masalah banjir di wilayah ini, seringkali bersifat tahunan akibat sedimentasi sungai dan tingginya elevasi muka air Bengawan Solo yang menghambat pembuangan air dari anak sungai.