Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Nasib tragis menimpa Dewi Safitri (23), seorang perempuan muda asal Dusun Ciokong, Desa Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran.
Ia meninggal dunia setelah tertimpa dahan kering pohon mahoni di jalan raya nasional Parigi–Pangandaran, Selasa (24/3/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.
Peristiwa nahas itu terjadi di kawasan blok Desa Sukaresik. Malam itu, Dewi melintas di jalan itu sebelum tiba-tiba sebuah dahan besar jatuh dan menimpanya.
Warga yang mengetahui kejadian itu segera memberikan pertolongan dan membawa Dewi ke RSUD Pandega Pangandaran.
Namun nahas, nyawanya tidak tertolong. Di RSUD Pandega Pangandaran, Ia dinyatakan sudah meninggal dunia.
Kini, kepergian Dewi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. Ia diketahui merupakan anak kedua dari dua bersaudara.
Belum lama ini, Dewi dikabarkan baru saja menyelesaikan pendidikan di salah satu universitas di luar Pangandaran dan sudah mengikuti wisuda.
Baca juga: Breaking News, Wanita Muda di Pangandaran Tewas Tertimpa Dahan, Motornya Melaju Hingga Depan Masjid
Usai lulus, ia kembali ke Pangandaran dan mulai bekerja di wilayah Parigi. Namun, masa depan yang baru saja dirintis itu harus terhenti secara tiba-tiba.
Kepala Desa Sukaresik, Mumu, menyampaikan, kondisi keluarga korban saat ini masih dalam keadaan syok berat.
"Saya tidak berani berbicara terlalu jauh karena orang tuanya masih sangat syok. Tadi juga tidak bisa ditanya panjang lebar," ujar Mumu dihubungi Tribun Jabar melalui WhatsApp, Rabu (25/3/2026) sore.
Sebelumnya, Dewi merupakan harapan keluarga. Kepergiannya yang mendadak membuat duka yang dirasakan semakin mendalam, apalagi korban baru saja lulus kuliah dan mulai bekerja.
"Makanya orang tuanya sangat kehilangan. Apalagi Dewi baru lulus dan baru masuk kerja," katanya.
Meski kondisi ekonomi keluarga tergolong cukup mampu, rasa kehilangan Dewi tetap menjadi pukulan berat dan sulit tergantikan.
Kini, pemerintah desa menaruh perhatian serius pada penyebab kejadian itu. Upaya mitigasi tentu sangat penting agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
Ia bersyukur, Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran dan unsur pemerintah daerah sudah melakukan pembahasan langkah - langkah pencegahan.
"Tadi sudah ada rapat dengan ketua DPRD untuk membahas langkah mitigasi supaya kejadian seperti ini tidak terulang," ucap Mumu.
Mumu pun berharap dinas terkait segera melakukan penanganan terhadap pohon- pohon rawan di sepanjang jalan lokasi TKP.
"Karena saya sendiri pernah tertimpa ranting di sekitar lokasi kejadian, meskipun tidak parah. Ini harus segera ditangani," ujarnya.
Sebelumnya Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Asep Noordin, langsung melaksanakan rapat koordinasi (rakor) dadakan menyusul insiden meninggalnya seorang warga akibat tertimpa dahan pohon yang tumbang di pinggir jalan.
Rakor tersebut turut dihadiri unsur Dinas PUPR Kabupaten Pangandaran, kepolisian, BPBD, Camat Sidamulih, Dinas Perhubungan (Dishub), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana), serta pihak terkait lainnya.
Dalam pertemuan itu, para peserta membahas banyaknya ranting dan dahan pohon di bahu jalan raya nasional yang dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan dan memicu kecelakaan.
Asep mengatakan, rakor dadakan ini merupakan tindak lanjut atas peristiwa tumbangnya dahan pohon yang menimpa seorang pengendara hingga meninggal dunia.
Baca juga: Breaking News, Wanita Muda di Pangandaran Tewas Tertimpa Dahan, Motornya Melaju Hingga Depan Masjid
Peristiwa itu terjadi di jalan raya nasional Pangandaran blok Sukaresik, Kecamatan Sidamulih, Selasa (24/3/2026) sekitar pukul 23.00 WIB. Korban bernama Dewi Safitri (23) meninggal dunia setelah tertimpa dahan kering pohon mahoni.
"Kami turut berduka cita, semoga korban husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," ujar Asep kepada Tribun Jabar di TIC Pangandaran, Rabu (25/3/2026) siang.
Inisiatif rakor dadakan ini diambil sebagai langkah cepat untuk menyikapi persoalan keselamatan di ruang publik, khususnya di jalur-jalur utama dan kawasan destinasi wisata.
"Sejak awal kami sudah menyampaikan bahwa kenyamanan dan keamanan adalah hal yang sangat penting, apalagi Pangandaran merupakan daerah tujuan wisata," katanya.
Sebagai daerah yang mengandalkan potensi alam, Pangandaran memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap potensi bencana, termasuk pohon tumbang.
Untuk itu, pihaknya meminta BPBD bersama instansi terkait untuk segera melakukan inventarisasi serta menyusun langkah mitigasi kebencanaan secara menyeluruh.
"Kami harap ke depan ada langkah konkret dalam mitigasi, termasuk pemangkasan rutin dahan pohon, baik di jalur utama maupun di kawasan destinasi wisata," ucapnya.
Asep pun menekankan upaya mitigasi tidak boleh bersifat musiman, tapi harus dilakukan secara berkelanjutan dan terencana.
"Ini tidak hanya dilakukan saat menjelang libur Lebaran atau Tahun Baru saja, tapi harus rutin agar bisa meminimalisir risiko kecelakaan, apalagi sampai menimbulkan korban jiwa," kata Asep.
Makanya, pemerintah daerah bersama seluruh stakeholder harus memiliki perencanaan yang matang agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
"Bencana itu tidak hanya longsor atau banjir, tapi hal seperti dahan pohon tumbang juga harus diantisipasi dengan serius," ujarnya.
Seorang wanita bernama Dewi Safitri (23) meninggal dunia setelah tertimpa dahan kering pohon mahoni di Desa Sukaresik, tepatnya di jalan raya wilayah Kecamatan Sidamulih, Selasa (24/3/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.
Korban yang merupakan warga Dusun Ciokong itu diketahui baru lulus kuliah dan sudah bekerja di satu instansi. Ia meninggal dunia di lokasi kejadian setelah mengalami hantaman keras di bagian kepala dan bahu.
Berdasarkan keterangan saksi mata, Ade Mustopa, peristiwa nahas itu terjadi saat kondisi jalan mulai lengang.
Korban sedang melaju menggunakan sepeda motor di Dusun Ciharas, perbatasan RT 01/02 dan RW 01, ketika dahan kering pohon mahoni tiba-tiba patah dan jatuh dari ketinggian.
"Hantamannya tepat mengenai korban saat melintas di bawah pohon itu kang," ujar Ade melalui WhatsApp, Rabu (25/3/2026) pagi.
Akibat benturan itu, sepeda motor korban tampak masih melaju tanpa kendali sejauh kurang lebih 10 meter ke arah timur sebelum akhirnya terjatuh di depan gerbang masjid setempat.
"Korban dinyatakan meninggal dunia akibat luka berat yang diderita," katanya.
Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Pangandaran, Nana Suryana, mengatakan, upaya mitigasi seperti pemangkasan pohon di sepanjang jalur nasional kerap terhambat persoalan perizinan dari instansi terkait.
"Sekarang susah izin dari PUPR terkait pemangkasan," ucap Nana.
Nana meminta pemerintah desa segera mengajukan surat resmi agar tindakan darurat di lapangan memiliki dasar hukum yang jelas, mengingat potensi bahaya masih mengintai pengguna jalan.
Sementara itu, warga Desa Sukaresik mendesak pemerintah dan pihak berwenang untuk segera melakukan pemangkasan pohon secara menyeluruh.
Mereka menilai banyak dahan kering yang tertutup rimbunnya daun sehingga sulit terlihat, namun berisiko tinggi membahayakan keselamatan.
"Kami memohon supaya ada pemangkasan. Jangan menunggu jatuh korban jiwa lagi baru ada tindakan," ucap Ade. (*)