Kisah Perjuangan Fety Fatimah, WNI Pengusaha Restoran di Afrika yang Jadi Sopir Taksi di New York
Delta Lidina March 25, 2026 06:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Menjadi sopir taksi di kota sebesar New York bukan pilihan yang dianggap biasa, apalagi bagi seseorang yang pernah sukses menjalankan bisnis restoran di luar negeri.

Namun, itulah jalan yang dipilih Fatimah atau yang akrab disapa Fety. Bagi ibu tiga anak ini, pekerjaan tersebut justru menghadirkan kebebasan yang tidak ia dapatkan sebelumnya.

“Fleksibel time, freedom, gak ada yang ngebosin karena kan ini kerjaan kita. Jadi kita yang ngatur waktunya, ketemu banyak orang,” papar Fety, dilansir melalui unggahan akun lnstagram @fety_fatimah, Rabu (25/3/2026) dikutip dari BanjarmasinPost.

Dari Pengusaha ke Sopir Taksi

Sebelum menetap di Amerika Serikat, Fety lebih dulu menempuh perjalanan panjang di benua Afrika. Ia menghabiskan sekitar satu dekade bekerja di berbagai negara seperti Uganda dan Tanzania.

Kariernya dimulai sebagai pegawai di sektor pertambangan, sebelum akhirnya berani membuka usaha sendiri.

Di Kigali, ia mendirikan restoran bernama Borneo Indonesian Restaurant yang bertahan hingga delapan tahun, sebuah pencapaian yang menunjukkan keberhasilannya sebagai wirausaha di negeri orang.

Hidup Baru di Amerika

Keputusan pindah ke Amerika Serikat menjadi titik balik lain dalam hidupnya. Selama hampir empat tahun terakhir, Fety menetap di New York dan memilih profesi sebagai sopir taksi.

Sehari-hari, ia mengantar penumpang ke berbagai sudut kota. Tak jarang, ia juga bertemu sesama orang Indonesia yang tengah berkunjung.

Baca juga: Penerima LPDP Hina WNI, Mahfud MD Sebut Pemerintah Juga Harus Introspeksi: Kesetiaan Bisa luntur

Namun, pekerjaan ini tidak datang tanpa tantangan. Untuk bisa mengemudi secara resmi, Fety harus melalui pelatihan dan ujian. Bahkan di awal masa kerjanya, ia sempat mengalami berbagai kendala, termasuk pelanggaran lalu lintas.

Dicibir, tapi Tetap Jalan

Pilihan hidup Fety sempat menuai komentar miring, terutama dari warganet yang mempertanyakan keputusannya meninggalkan Banjarmasin.

Alih-alih terpengaruh, ia justru memilih fokus pada apa yang ia yakini benar.

“Saya gak perduli ya mau diomongin apa. Yang penting saya kerjanya halal, cuannya halal, saya bangga jadi sopir taksi,” ucapnya.

Kini, Fety tinggal di kawasan Elmhurst, New York, sementara ketiga anaknya berada di Indonesia. Selain bekerja, ia juga aktif membagikan cerita dan tips seputar kehidupan di New York melalui media sosialnya.

Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak selalu berbentuk jabatan atau bisnis besar melainkan juga tentang kebebasan memilih jalan hidup sendiri. (TribunNewsmaker/BanjarmasinPost)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.