TRIBUNGORONTALO.COM -- Sebuah studi terbaru dari Kongres Amerika Serikat mengungkap kekhawatiran serius terkait stok rudal pencegat sistem THAAD yang digunakan dalam konflik melawan Iran.
Laporan itu menyebut penggunaan intensif dalam operasi militer terbaru telah menggerus persediaan yang memang sudah terbatas.
Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa tingkat penggunaan rudal pencegat selama operasi militer “Epic Fury” berpotensi memperburuk kondisi stok.
Meski demikian, sistem ini diklaim mampu mencegat sekitar 90 persen rudal balistik dan drone Iran, khususnya dalam perlindungan wilayah seperti Uni Emirat Arab, angka yang disebut setara dengan sistem Arrow 3 milik Israel.
Stok Menyusut, Butuh Bertahun-Tahun untuk Pulih
Studi itu mengungkap, dari total sekitar 632 rudal THAAD yang tersedia, sebanyak 92 telah digunakan hanya dalam satu operasi.
Lebih mengkhawatirkan, butuh waktu antara 3 hingga 8 tahun untuk mengisi kembali stok tersebut.
Setiap rudal THAAD diperkirakan bernilai sekitar US$12,7 juta, menjadikan perang ini bukan hanya mahal, tetapi juga menguras cadangan strategis AS.
Awal Perang Paling Intens dalam Sejarah AS
Lembaga Foreign Policy Research Institute mencatat bahwa empat hari pertama operasi “Epic Fury” menjadi salah satu fase paling intens dalam sejarah militer AS.
Sebanyak 5.197 amunisi dari 35 jenis digunakan hanya dalam waktu empat hari, dengan estimasi biaya mencapai US$10–16 miliar.
Namun, FPRI menegaskan bahwa masalah utama bukan kekurangan bom.
“Keterbatasan sebenarnya ada pada sistem tak terlihat: rudal pencegat, senjata jarak jauh, dan sistem sensor yang menjaga efektivitas pertahanan.”
Patriot Ditembakkan Hampir 1.000 Kali dalam 4 Hari
Dalam periode yang sama, sistem MIM-104 Patriot milik AS menembakkan 943 rudal pencegat untuk melindungi negara-negara Teluk. Jumlah ini setara dengan produksi selama 18 bulan oleh perusahaan seperti Lockheed Martin dan Boeing.
Produksi tahunan kedua perusahaan itu hanya sekitar 620 rudal, menambah tekanan pada rantai pasokan militer.
Sepertiga Stok THAAD Sudah Habis
Laporan dari Payne Institute memperkirakan sekitar sepertiga stok THAAD telah digunakan dalam konflik ini. Dengan produksi tahunan yang tidak lebih dari 100 unit, pemulihan stok akan menjadi tantangan besar.
Ironisnya, negara-negara Teluk yang menjadi sekutu justru menjadi pihak yang paling banyak “menghabiskan” amunisi, namun berada di prioritas terakhir untuk pengisian ulang dibanding militer AS.
Rudal Iran Masih Jadi Ancaman Serius
Data dari Institute for National Security Studies menunjukkan sekitar 380 rudal balistik Iran berhasil mencapai Israel. Dari total arsenal Iran yang diperkirakan 2.000–2.500 rudal sebelum perang, sekitar 1.000–1.500 masih mampu menjangkau Israel.
Meski AS dan Israel telah menghancurkan sekitar 200 peluncur, masih ada sekitar 120 peluncur aktif yang tersisa.
Perang Masih Panjang, Persediaan Jadi Kunci
Analisis menunjukkan bahwa AS dan Israel baru berada di “setengah jalan” dalam upaya menghancurkan kemampuan rudal Iran. Dengan laju pertempuran saat ini, konflik diperkirakan masih akan berlangsung beberapa minggu ke depan.
Sementara itu, meski ada kekhawatiran soal stok, seorang mantan pejabat intelijen AS menyebut Iran tetap tidak akan mampu memenangkan perlombaan senjata karena kapasitas produksinya menurun drastis, sementara AS dan Israel masih unggul.
Sistem Pertahanan Berlapis: Siapa Menembak Duluan?
Dalam menghadapi rudal Iran, digunakan sistem pertahanan berlapis:
Keputusan penggunaan sistem dilakukan bersama oleh pusat kendali AS-Israel, berdasarkan data radar dan posisi ancaman. (*)