Sebuah perusahaan makanan di Jepang berhasil mengubah citra tahu yang selama ini dianggap sederhana menjadi produk tahu maskulin yang diminati generasi muda. Seperti apa inovasinya?
Shingo Ito, seorang akuntan yang mengambil alih bisnis tahu (tofu) milik keluarganya. Ia mencoba menghadirkan konsep yang berbeda dari produk tradisional.
Langkah ini terbukti berhasil. Produk tahu yang diberi sentuhan baru itu kini mampu menghasilkan pendapatan tahunan lebih dari 6 miliar yen atau sekitar Rp 638 milliar.
Dilansir dari South China Morning Post (25/03/2026), tahu sendiri memiliki sejarah panjang di Jepang. Makanan ini diperkenalkan dari China pada masa Dinasti Tang dan sejak lama dikenal sebagai sumber protein murah yang mudah ditemukan.
Shingo Ito, seorang akuntan yang mengambil alih bisnis tahu (tofu) milik keluarganya. Foto: Handout
|
Namun, pada awal abad ke-21, banyak produsen tahu di Jepang menghadapi persaingan harga yang ketat hingga terancam bangkrut. Kondisi tersebut mendorong Ito untuk melakukan perubahan besar.
Ia mulai mengubah bentuk tahu menjadi tidak lagi kotak biasa, tetapi menyerupai papan selancar hingga bentuk tetesan air. Ia juga menciptakan tahu dengan tekstur sangat lembut seperti puding sehingga harus dimakan menggunakan sendok.
Ito menjelaskan bahwa ia ingin menghadirkan produk tahu yang lebih menarik bagi konsumen muda. Ia kemudian memberi nama produknya 'Otokomae Tofu', yang berarti 'tahu maskulin', dan menampilkan karakter huruf 'pria' secara mencolok pada kemasannya.
Tahu Jadi Produk Maskulin, Kini Omzetnya Tembus Rp 638 M! Foto: Handout
|
"Saya ingin tahu ini memiliki karakter yang kuat dan mudah diingat," ujar Ito dalam wawancara tersebut. Ia juga menggunakan slogan yang berarti "pria sejati tidak pernah mengecewakan", yang menurutnya mencerminkan kualitas produknya.
Pada Juli 2004, Ito meluncurkan produk tahu berbentuk papan selancar bernama 'Johnny'. Produk ini langsung menarik perhatian dan penjualannya disebut mencapai 51.000 kotak per hari.
Kesuksesan tersebut mendorong Ito mendirikan merek Otokomae Tofu secara resmi pada 2005. Ia bahkan membuat lagu tema khusus yang diputar di supermarket dan merilis berbagai produk merchandise untuk memperkuat citra merek tersebut.
Otokomae Tofu tidak hanya populer di Jepang, tetapi juga mulai dikenal di luar negeri. Foto: Handout
|
Meskipun harganya dua hingga tiga kali lebih mahal dibanding tahu biasa, produk ini tetap diminati karena menggunakan kedelai berkualitas tinggi dari Hokkaido dan memiliki tekstur yang berbeda.
Saat ini, Otokomae Tofu tidak hanya populer di Jepang, tetapi juga mulai dikenal di luar negeri. Tahu maskulin ini juga cukup diminati di China.
"Teksturnya lembut dan rasanya sangat kaya. Saya membelinya setiap hari selama di Jepang," puji salah satu turis China.










