Sosok Stefanus Ming Warga Semarang Jadi Juru Bahasa Isyarat, Diawali Nazar Cari Jodoh
deni setiawan March 25, 2026 08:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Niat sederhana mencari pasangan hidup justru membawa perubahan besar dalam hidup Stefanus Ming (44), warga Semarang.

Dari sebuah nazar, dia kini dikenal sebagai juru bahasa isyarat yang kerap terlibat dalam berbagai acara resmi dari forum pemerintah hingga kegiatan daring skala nasional.

Dia juga aktif membuat konten di media sosial TikTok dengan username stefanusming untuk membagikan tips belajar berbahasa isyarat dan menerjemahkan musik menggunakan bahasa isyarat.

Stefanus mulai belajar bahasa isyarat sejak 2016.

Ketertarikannya muncul setelah dia menikah dengan perempuan tuli.

Baca juga: Kembali ke Tanah Rantau Naik KRI Banda Aceh dari Semarang, Pemudik: Sudah 3 Kali

• Pemkot Semarang Terapkan WFA, DPRD: Jangan Turunkan Kualitas Layanan Publik

• Bupati Ischak Siapkan Beasiswa S2 bagi ASN Pemkab Tegal: Full Gratis Sampai Lulus

“Awalnya itu karena nazar. Ingin mencari pasangan hidup, ternyata dapat istri yang tuli."

"Dari situ saya tergugah untuk belajar bahasa isyarat,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).

Belajarnya tidak melalui bangku kelas formal. Dia memilih cara yang lebih organik langsung berinteraksi dengan komunitas tuli. 

Dari percakapan sehari-hari itulah, dia pelan-pelan memahami bahasa yang tak bergantung pada bunyi.

Menurutnya, bahasa isyarat bukan sekadar menerjemahkan kata, melainkan memahami konsep.

“Kalau bahasa Indonesia sesuai susunan kalimat. Tapi bahasa isyarat itu konsep."

"Misalnya ‘saya makan pisang’, di isyarat jadi ‘pisang saya makan’,” jelasnya.

Perbedaan itu sempat menjadi tantangan tersendiri. Dia harus mengubah cara berpikir, bukan sekadar menghafal gerakan tangan.

Butuh waktu, kesabaran, sekaligus kepekaan, proses belajar tersebut tidak instan.

Bahkan setelah hampir satu dekade, Stefanus merasa dirinya masih terus belajar.

“Tidak bisa satu dua tahun langsung bisa. Sampai sekarang saya masih belajar,” tambahnya.

Keseriusannya berbuah jalan baru. Pada 2022, dia mulai menekuni profesi sebagai juru bahasa isyarat. 

Sejak saat itu, dia beberapa kali dipercaya terlibat dalam kegiatan Kementerian, instansi pemerintah, hingga acara yang digelar secara daring lintas kota.

Di balik perannya yang terlihat “mengalir” di panggung, ada persiapan yang tak sederhana. 

Dia harus memastikan posisi dekat dengan sumber suara, memahami konteks acara, hingga menyesuaikan ritme dengan pembicara.

“Kami harus dekat dengan sumber suara supaya jelas saat menerjemahkan. Kendala biasanya kalau pembicaranya terlalu cepat,” katanya.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya soal teknis, tetapi juga keterbatasan jumlah juru bahasa isyarat di Indonesia. 

Saat ini, jumlahnya diperkirakan hanya sekira 200 orang.

Angka itu jauh dari cukup jika dibandingkan dengan kebutuhan akses informasi bagi penyandang tuli.

Karena itu, Stefanus melihat persoalan ini lebih luas dari sekadar profesi. 

Baca juga: Viral Sampah Berceceran di Jalan Sultan Agung Semarang, DLH Minta Maaf: Truk Oleng

• Takjub Pengunjung Saksikan Festival Balon Udara di Wonosobo: Rasa Penasaran Terbayar Lunas

• Pemprov Jateng Berpeluang Buka CASN Tahun Ini, Sumarno: Sedang Dikaji

Dia menyebut akses bagi penyandang disabilitas, khususnya tuli, masih menjadi pekerjaan rumah.

“Seperti di perbankan, rumah sakit, atau layanan administrasi, aksesnya masih minim."

"Kalau belum ada juru bahasa, setidaknya bisa disediakan papan petunjuk atau sign board,” ujarnya.

Di Kota Semarang, dia menilai upaya menuju kota yang lebih inklusif sudah mulai terlihat.

Beberapa institusi pendidikan seperti perguruan tinggi mulai menyediakan layanan disabilitas. 

Namun dia menilai langkah tersebut masih perlu diperluas.

“Sebenarnya sudah ada langkah, tapi masih perlu ditingkatkan,” katanya.

Di luar aktivitasnya sebagai penerjemah, Stefanus juga mengabdikan waktu untuk mengajar anak-anak tuli di sekolah luar biasa (SLB). 

Di sana, dia fokus pada pelatihan artikulasi membantu siswa mengenali dan mengucapkan huruf demi huruf.

Dia ingin meluruskan satu hal yang kerap disalahpahami masyarakat.

“Banyak yang mengira tuli itu bisu, padahal tidak. Mereka bisa bicara, hanya belum tahu nada dan cara pengucapannya,” jelasnya.

Di ruang-ruang kelas sederhana, Stefanus tak hanya mengajarkan teknik berbicara.

Dia juga membantu membangun kepercayaan diri anak-anak, yang kerap tumbuh dengan rasa minder karena keterbatasan komunikasi.

Namun menurutnya, perubahan terbesar justru harus dimulai dari keluarga.

Dia aktif memberikan pendampingan kepada orangtua anak tuli, mengajak mereka lebih memahami kebutuhan dan potensi anak.

“Yang paling penting itu keluarga. Orangtua harus paham dan mendukung,” tandasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.