PASCA Nyepi-Idul Fitri Harga Sembako di Badung Bergejolak, Cabai Tembus Rp50 Ribu Perkilo
Anak Agung Seri Kusniarti March 25, 2026 10:36 PM

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – Harga kebutuhan pokok di Kabupaten Badung, pasca Hari Raya Nyepi dan Idulfitri benar-benar tidak menentu. Sejumlah komoditas anjlok, namun sebagian lainnya justru melonjak tajam, menekan daya beli masyarakat.

Dari data yang didapat pada Rabu 25 Maret 2026 menunjukkan, harga cabai merah besar dan cabai merah keriting kini tembus Rp50.000/kg, naik dari sebelumnya Rp45.000/kg.

Kenaikan juga terjadi pada bawang putih yang melonjak dari Rp35.000/kg menjadi Rp40.000/kg. Bahkan, minyak goreng kemasan ikut merangkak naik dari Rp19.000 menjadi Rp20.000/liter.

Di tengah lonjakan itu, beberapa komoditas justru mengalami koreksi harga. Beras premium turun tipis dari Rp16.000/kg menjadi Rp15.800/kg. Minyak goreng curah juga melemah dari Rp20.000 menjadi Rp19.500/liter.

Baca juga: WACANA Pembelajaran Daring Dibatalkan! Disdikpora Denpasar: Sekolah Biasa Mulai 30 Maret 2026

Baca juga: CANCEL 377 Penerbangan dari Timur Tengah, Kemenpar Buat Strategi Konektivitas Direct ke Eropa

Harga daging ayam ras turun dari Rp45.000 menjadi Rp43.000/kg, sementara telur ayam ras anjlok cukup dalam dari Rp30.400/kg menjadi Rp26.800/kg. Penurunan juga terjadi pada cabai rawit dan cabai rawit hijau yang kini di angka Rp43.000/kg dari sebelumnya Rp45.000/kg. Bawang merah pun ikut turun ke Rp43.000/kg.

Tak ketinggalan, harga daging babi kini berada di kisaran Rp75.000/kg, turun dari Rp80.000/kg. Kabag Ekonomi Setda Badung, Anak Agung Sagung Rosyawati, mengungkapkan lonjakan harga cabai dipicu terganggunya pasokan akibat cuaca.

“Serangan organisme pengganggu tanaman meningkat, sehingga produksi cabai menurun. Ini berdampak langsung ke harga di pasar,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pasokan cabai Bali tidak hanya bergantung pada daerah lokal seperti Karangasem, Bangli, dan Buleleng, tetapi juga dari luar daerah seperti Banyuwangi dan Jember. Ketika pasokan tersendat, harga langsung merespons.

Sementara itu, fluktuasi harga ayam ras dipengaruhi tingginya permintaan pasca hari besar keagamaan, ditambah terbatasnya pasokan DOC serta distribusi ayam dari Jawa ke Bali.

Mengantisipasi gejolak ini, Pemkab Badung tak tinggal diam. Pengawasan pasar diperketat, distribusi diawasi, dan kerja sama antar daerah terus digenjot.

“Kami rutin melaporkan perkembangan harga ke TPID Provinsi Bali, Kementerian Perdagangan melalui SP2KP, hingga Inspektorat untuk diteruskan ke Itjen Kemendagri,” jelas Anak Agung Sagung Rosyawati.

Dalam rapat High Level Meeting, pemerintah juga menekankan strategi 4K: ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif sebagai kunci menjaga stabilitas.

Langkah konkret pun mulai dijalankan. Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana Badung menggandeng PT Food Station Tjipinang Jaya guna memperkuat rantai pasok pangan, mulai dari pengadaan hingga distribusi.

Selain itu, operasi pasar murah bakal digencarkan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), disertai percepatan kerjasama antar daerah dan penguatan informasi publik. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.