BANGKAPOS.COM -- Dwintha Anggary, cucu dari seniman Betawi legendaris Mpok Nori, ditemukan tewas di kontrakannya pada Sabtu (21/3/2026) dini hari.
Dwintha Anggary tewas dibunuh mantan suami sirinya yang merupakan warga negara asing asal Irak bernama Rashad Fouad Tareq Jameel alias Fuad.
Adapun kejadian pembunuhan ini terjadi di kontrakan Dwintha di Cipayung, Jakarta Timur, pada Jumat (20/3/2026) malam.
Motif pembunuhan diduga karena Fuad cemburu dan Dwintha menolak diajak rujuk.
Dwintha Anggary adalah cucu dari seniman Betawi legendaris Mpok Nori.
Keluarga cucu seniman Betawi Mpok Nori mengungkap fakta bahwa Dwintha sempat tiga kali keguguran.
Baca juga: Nasib Hendrik Irawan Pemilik SPPG Viral Joget dan Pamer Insentif Rp6 Juta, Minta Maaf ke Presiden
Dwintha Anggary telah berpisah dengan suami sirinya, Fuad.
Meski begitu, Fuad masih tinggal dilingkungan yang sama dengan Dwintha.
Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh ketua RT setempat, Nurgiyanto.
Ia mengatakan tidak ada tanda mencurigakan dari pelaku sebelum kejadian.
"Kalau untuk kecurigaan sama sekali tidak ada, karena kan memang selama ini walaupun memang si dia sudah pisah dari istrinya, dia tinggal ngontrak di sini juga ya, mantan suaminya. Memang tidak ada hal-hal yang mencurigakan," ujar Nurgiyanto di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, Senin (23/3/2026).
Sehari sebelum korban ditemukan meninggal, Nurgiyanto sempat bertemu pelaku. Saat itu, pelaku masih bersikap sopan dan menyapa.
Dalam kesehariannya, pelaku juga terlihat seperti orang biasa. Namun, komunikasi dengan warga terbatas karena perbedaan bahasa.
"Pada dasarnya sih orangnya terlihat baik, terlihat biasa, cuma memang kan kita ini terkendala sama komunikasi bahasa."
Baca juga: Pemerintah Batalkan Pembelajaran Daring April 2026, Menko PMK Singgung Kualitas Pendidikan
"Bahasa Inggrisnya juga bahasa Inggris gimana gitu kan, dan bahasa Arabnya seperti apa gitu kita ngomong Jawa langsung pun mereka juga nggak paham," kata Nurgiyanto.
Di balik sikap tersebut, hubungan pelaku dan korban sebenarnya sudah lama bermasalah.
Sekitar sebulan sebelum kejadian, pelaku bahkan disebut sempat melakukan kekerasan dan membuat keluarga korban takut.
"Istrinya minta cerai karena kan sudah berkali-kali dia ditalak ya. Nah, si mantannya ini nggak terima, dia melukai dirinya sendiri. Ya orang perempuan di sini kan takut, ibunya, dia bawa-bawa senjata tajam, takut mungkin mertuanya diancam makanya langsung lapor ke Polsek," pungkasnya.
Kasus pembunuhan tragis menimpa Dewhinta Anggary (37), cucu dari seniman Betawi legendaris Mpok Nori.
Korban ditemukan tewas di rumah kontrakannya di kawasan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.
Korban dihabisi oleh mantan suami sirinya yang merupakan warga negara asing (WNA) asal Irak berinisial RTFJ (49).
Beberapa hari sebelum kejadian, hubungan keduanya sudah tidak harmonis.
Mereka kerap terlibat pertengkaran yang dipicu rasa cemburu pelaku terhadap korban.
"Beberapa hari belakangan terjadi cekcok, sering ribut karena pelaku cemburu dengan korban yang diduga memiliki hubungan dengan laki-laki lain," kata Panit 2 Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKP Fechy J Ataupah, Selasa (24/3/2026).
Pada 20 Maret 2026, pelaku melihat korban sedang berjalan bersama pria lain saat menghadiri acara bazar Ramadan.
Ketika itu pelaku sempat menghampiri dan mempertanyakan hubungan tersebut. Namun, pria yang bersama korban memilih untuk pergi.
Dari peristiwa tersebut, pelaku dan korban sempat terlibat pertengkaran di lokasi bazar sebelum akhirnya berpisah.
"Sempat didatangi, ditanya, tapi si prianya pergi. Dia (pelaku) kemudian ributlah dengan korban. Setelah dari situ, pergi, berpisah mereka di Bazar," ungkap Fechy.
Malam harinya, pelaku mendatangi kos korban.
Pelaku pun mendapati korban berada di dalam kamar bersama pria yang sebelumnya ditemui di bazar.
Pelaku dan korban kembali terlibat cekcok mulut.
Korban pun mengusir pelaku dari rumah kontrakannya.
"Pelaku pun pulang ke kosnya."
"Di kosnya dia merenung, emosinya sudah tidak tertahan, dia kembali lagi ke kos korban," ujar Fechy.
Saat kembali ke kontrakan korban untuk kedua kalinya, pelaku sudah membekali diri dengan benda berbahaya yakni sebilah pisau yang dibawa dari indekosnya.
Setibanya di lokasi, pelaku masuk ke dalam kamar dan kembali terlibat pertengkaran hebat dengan korban.
Pelaku kemudian mulai melakukan kekerasan fisik termasuk mencekik leher korban.
Korban disebut sempat melakukan perlawanan.
Namun pelaku langsung mengambil pisau dan menganiaya korban hingga tewas.
"Di sana dia masuk, terjadi pertengkaran, pelaku sempat mencekik korban."
"Kemudian karena korban berusaha memberontak, pelaku akhirnya mengambil pisau dan menganiaya korban," kata Fechy.
Adapun jasad Dewhinta ditemukan dalam kondisi bersimbah darah di rumah kontrakan tempat tinggalnya di wilayah Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (21/3/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.
Ibu korban sempat mendatangi kontrakan anaknya, namun pintu dalam kondisi terkunci dari dalam.
Tak lama kemudian, kakak korban mencoba mengecek ke rumah kontrakan tersebut.
Saat pintu berhasil dibuka, korban sudah dalam kondisi tak bernyawa.
Korban tergeletak di lantai dan terdapat bercak darah yang sudah mengering.
Jenazah korban lalu dibawa ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Sementara itu, tim gabungan dari Polres Metro Jakarta Timur dan Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya bergerak cepat memburu pelaku.
Setalah keberadaannya teridentifikasi, pelaku berhasil ditangkap di sebuah bus di ruas Jalan Tol Tangerang-Merak KM 68, Sabtu siang.
Pelaku kemudian dibawa ke Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, untuk menjalani pemeriksaan.
Pembunuh Dwintha yang juga suami sirinya asal Irak, Rashad Fouad Tareq Jameel alias Fuad, sering bertindak kasar terhadap korban.
Penjelasan itu disampaikan saudara korban, Dana Seftia, usai diperiksa 12 jam di Mapolda Metro Jaya.
“Kalo keguguran iya, benar. Terus kalau misalkan selanjutnya nanti perkembangannya tinggal dilihat saja (penyidikannya),” kata Dana di Mapolda Metro Jaya, Selasa (24/3/2026) malam.
Dana mengungkapkan, pihak keluarga sebetulnya tak begitu mengenal Fuad, karena keterbatasan bahasa.
Namun, mereka mengetahui Fuad sebagai sosok yang sering menggunakan nada tinggi saat berbicara pada Dwhinta.
Atas kekejaman pelaku, Dana meminta agar Fuad dijatuhi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.
“Yang penting tolong dibantu terus saja biar perkembangan ini berlanjut terus, biar pelaku juga dihukum seadil-adilnya,” kata Dana.
Sementara, kakak korban, Aji, mengaku ditanyain tentang korban oleh penyidik.
“Capek banget ini. Pertanyaannya sudah banyak, tentang korban. Soalnya sudah 12 jam saya di dalam,” kata Aji.
(Bangkapos.com/Grid.id/Kompas.com/TribunJakarta.com)