TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Peristiwa awal gudang rongsok di Jalan Kliwonan Baru 5, Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, terbakar pada Rabu (25/3/2026) malam, diceritakan oleh saksi mata di lokasi.
Sekar Anggita (27), warga yang mengontrak rumah tepat di seberang gudang menjadi orang pertama yang menyadari kobaran api.
Dengan kondisi masih ngos-ngosan dan mengenakan masker akibat asap pekat, Anggi, sapaan akrabnya menceritakan awal mula kejadian yang nyaris tak disadarinya.
Baca juga: BREAKING NEWS, Gudang Rongsok di Gang Sempit Semarang Terbakar
• Daftar Kepala Daerah di Jateng Tidak Terapkan WFA Anjuran Pusat: ASN Wajib Ngantor
Pantulan Cahaya Oranye yang Mencurigakan
Petang itu, Anggi baru saja tiba dari luar kota. Dia sempat mengantar pengemudi ojek daring yang mengantarnya ke musala saat waktu maghrib dan saat itu kondisi lingkungan masih normal.
“Pas saya anter driver ke musala juga belum ada masalah. Pas balik masuk juga belum ada apa-apa,” kata dia kepada Tribunjateng.com, Rabu (25/3/2026).
Namun situasi berubah saat dia masuk ke rumah dan melihat sesuatu yang janggal.
Dari dapurnya, Anggi melihat pantulan cahaya berwarna oranye yang tidak biasa.
“Saya lihat kok di dapur ada pantulan cahaya warna oranye, padahal enggak ada barang yang warnanya seperti itu,” imbuh dia.
Curiga, Anggi kemudian mengecek ke arah luar melalui jendela yang tertutup gorden.
Saat itulah dia mendapati api sudah membesar dari gudang yang berada hanya beberapa meter dari rumahnya.
Panik, Sempat Bantu Warga Padamkan Api
Melihat api yang cepat membesar, Anggi langsung memanggil rekannya yang saat itu berada di kamar mandi.
Dalam kondisi panik, warga sekitar mulai berdatangan meminta air untuk memadamkan api secara manual.
Dia pun berusaha membantu, meski sempat kesulitan karena pagar rumah dalam keadaan terkunci.
“Ini kan pagar dikunci, cari-cari kunci dulu. Akhirnya ketemu terus kami salurin selangnya ke keran,” ungkapnya.
Setelah itu, Anggi bersama warga lainnya sempat melaksanakan salat sebelum akhirnya menghubungi petugas pemadam kebakaran.
Meski posisi api sangat dekat dengan rumahnya, Anggi mengaku tidak sempat mengungsi.
Namun, dampak panas dari kebakaran tetap terasa hingga ke rumahnya.
“Jemuran enggak kebakaran, cuma kena warna kuning, kayak efek terbakar gitu,” ungkap dia.
Hingga malam hari, asap sisa kebakaran masih pekat menyelimuti lokasi.
Anggi bahkan berencana mengungsi sementara karena tidak kuat dengan asap yang menyengat.
Baca juga: 46 ASN Pemkab Semarang Tidak Ngantor di Hari Pertama Pasca Libur Lebaran
• Sosok Letjen Yudi Abrimantyo, Lepas Jabatan Kabais TNI Buntut Kasus Teror Air Keras
Proses Pemadaman
Di sisi lain, proses pemadaman telah dilakukan.
Tiga mobil pemadam kebakaran tampak di lokasi sekira pukul 21.00.
Namun, akses menuju gudang yang berada di gang sempit menjadi kendala.
Petugas harus menarik selang air sepanjang puluhan meter untuk menjangkau titik api.
Hingga sekitar pukul 20.30, petugas masih berjibaku menyemprotkan air ke sisa-sisa api.
Material seperti busa, kayu, serta seng yang diduga bagian atap gudang tampak hangus dan sebagian roboh.
Petugas bahkan sempat mengevakuasi seng-seng tersebut untuk mempercepat proses pendinginan.
Meski api telah padam, hingga pukul 20.43 WIB petugas masih berada di lokasi untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.
Aroma hangus masih menyengat, sementara warga berkerumun menyaksikan proses penanganan. (*)