TRIBUNJOGJA.COM - Kebijakan sterilisasi bus pariwisata di kawasan inti Sumbu Filosofi Yogyakarta menjadi titik balik bagi geliat ekonomi di Tempat Parkir Khusus (TPK) Eks Menara Kopi Kotabaru.
Setelah sempat mengalami masa sulit tanpa kunjungan armada besar selama sembilan bulan terakhir pascarelokasi dari TKP Abu Bakar Ali, pengelola lahan parkir dan pedagang di kawasan eks Menara Coffee tersebut kini kembali menerima limpahan wisatawan pada masa libur Lebaran 2026.
Kondisi ini merupakan imbas dari langkah tegas Pemerintah Kota Yogyakarta yang mulai tahun ini melarang bus wisata melintasi simpang Gondomanan ke arah barat serta simpang Tugu Pal Putih ke arah selatan.
Kebijakan yang bertujuan menjaga kelancaran lalu lintas dan kualitas ruang publik di kawasan warisan budaya tersebut secara otomatis mendistribusikan parkir kendaraan ke kantong-kantong alternatif, termasuk TKP Eks Menara Kopi Kotabaru.
Wakil Ketua Paguyuban Keluarga Besar ABA, Agil Haryanto, menyatakan bahwa kehadiran armada bus dalam sepekan terakhir memberikan nafas baru bagi warga dan pelaku usaha di sana. Menurutnya, perubahan arus wisatawan ini mulai terasa sejak Senin pekan lalu.
"Alhamdulillah mulai Senin (23/3) kemarin itu tempat kita sudah ada armada bus yang masuk. Itu juga karena ada imbasnya dari aturan Pak Wali yang terkait bahwa armada bus tidak boleh melintas dari perempatan Gondomanan ke barat sama Tugu ke selatan yang terkait penataan kawasan Sumbu Filosofi. Seperti itu, jadi ada imbas positifnya untuk teman-teman warga eks Menara Coffee," ungkap Agil, Rabu (25/3).
Bagi Agil dan anggota paguyuban lainnya, momentum ini sangat dinanti setelah hampir setahun lahan parkir tersebut sepi dari aktivitas bus pariwisata. Pada masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) sebelumnya, bus-bus masih terpusat di kawasan Mangkubumi yang dikelola pihak lain, sehingga TPK ABA tidak mendapatkan limpahan kendaraan.
"Kita itu dari mulai pindah, merasakan ada armada bus masuk ya baru hari Senin kemarin. Sembilan bulan kami kosong (zonk), jujur saja. Saat Nataru kemarin, kawasan (Jalan) Mangkubumi (di lahan aset) PT AMI membuka akses bus, jadi masuk ke situ semua. Sekarang Tugu ke selatan sudah clear (bersih dari bus), ya mungkin baru rezekinya hari ini," kata Agil.
Peningkatan volume kendaraan cukup signifikan. Sejak Senin (23/3) hingga Selasa (24/3) malam, total bus yang masuk telah mencapai 50 armada. Pada hari Senin tercatat 20 bus parkir di lokasi tersebut, dan jumlahnya meningkat menjadi 29 bus pada malam berikutnya.
"Semoga saja aturan itu sesuai dengan apa yang dijanjikan Pak Wali untuk mendukung programnya Ngarsa Dalem. Tentang kawasan Sumbu Filosofi memang sudah tidak layak untuk dimasuki armada bus. Insyaallah mungkin ramai bus yang masuk ini sampai hari Minggu (29/3) nanti. Tapi setelah libur Lebaran ini, kalau memang aturan itu benar-benar diterapkan, ya mungkin minimal akhir pekan (weekend) itu sudah bisa berjalan seperti biasa, tetap ada armada yang masuk. Alhamdulillah pedagang mulai beraktivitas kembali, makanya kami mendukung program penataan kawasan Sumbu Filosofi, buktinya ada imbas positif untuk teman-teman di eks Menara Kopi ini," ujarnya.
Keberadaan bus pariwisata dinilai krusial bagi ekosistem ekonomi di TKP Eks Menara Kopi. Agil menjelaskan bahwa karakter wisatawan yang menggunakan bus sangat berbeda dengan pengguna mobil pribadi. Hal inilah yang membuat para pedagang di kawasan tersebut sangat bergantung pada kunjungan rombongan bus.
"Kita mengutamakan untuk armada bus. Karena kalau mobil itu biasanya pengunjungnya adalah wisata kuliner, sementara di tempat kita ini sentralnya oleh-oleh, pakaian. Jadi kami pedagang itu memang mengharapkan wisatawan dari bus, karena segmen pasarnya mereka jualannya seperti itu," tegasnya.
Kebijakan ini selaras dengan arahan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo yang menargetkan pusat kota bebas dari bus wisata tahun ini. Pemkot telah menyiapkan skema distribusi parkir, di mana bus dari arah barat diarahkan ke TKP Ngabean, sementara dari arah timur secara bertahap dialihkan dari kawasan Senopati ke lokasi alternatif seperti Terminal Giwangan, THR Purawisata dan TKP Eks Menara Kopi.
Pemkot Yogyakarta juga tengah menjajaki peluang kerjasama dengan sejumlah titik lain yang dinilai memiliki daya tampung memadai, di antaranya Gembira Loka Zoo, yang dinilai siap menjadi kantong parkir tambahan saat terjadi lonjakan kendaraan wisata.
Adapun untuk mendukung pergerakan wisatawan dari parkiran menuju jantung Malioboro, Agil menyebut fasilitas transportasi juga sudah tersedia.
"Ada yang naik Trans Jogja, itu kan di depan disediakan sama Pemkot, ada halte portable di depan. Ada yang naik becak juga, ada yang jalan kaki," pungkas Agil.