Oleh: Hidayat Marmin Tayjeb
Mantan Rektor Universitas Pepabri Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - PSM Makassar tidak sedang baik-baik saja.
Sebagai ikon perlawanan sepak bola luar Jawa, klub berjuluk Laskar Ayam Jantan dari Timur ini kini tengah berdiri di persimpangan jalan yang menentukan masa depannya.
Kalimat ‘PSM adalah harga diri’ kini tak boleh lagi hanya menjadi slogan di atas syal atau spanduk tribun, melainkan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata oleh seluruh elemen klub!.
Memasuki pekan-pekan terakhir Liga Super Indonesia 2025/2026, kita melihat sebuah paradoks yang menyakitkan.
Di satu sisi, gairah suporter tak pernah padam, namun di sisi lain, manajemen klub tampak terseok-seok menghadapi hantaman regulasi dan finansial yang berujung pada lima kali sanksi FIFA hanya dalam satu musim kompetisi 2025/2026.
Implikasinya terasa nyata di lapangan, PSM Makassar kini terjerembab di peringkat ke-13 klasemen sementara dengan hanya mengoleksi 24 poin dari 25 laga.
Jarak yang sangat rapat dengan zona degradasi, tentu adalah tamparan keras bagi profesionalisme tata kelola klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan ini.
Dilema yang dihadapi Juku Eja saat ini bukan sekadar urusan taktik di atas rumput hijau, melainkan krisis manajerial yang telah mencapai titik nadir.
Bagaimana mungkin sebuah klub dengan sejarah panjang seolah ‘berlangganan’ sanksi dari otoritas sepak bola tertinggi dunia?.
Hingga Maret 2026, PSM Makassar tercatat telah menerima lima kali sanksi registration ban (larangan transfer) dari FIFA dalam satu musim kompetisi saja.
Serentetan hukuman yang berakar dari sengketa gaji pemain hingga kompensasi mantan pelatih telah menciptakan rantai kemelut yang mencekik napas klub.
Larangan mendaftarkan pemain baru hingga tiga periode bursa transfer ke depan (jika kewajiban finansial tidak segera dituntaskan) adalah hukuman mati bagi kreativitas skuad.
Akibatnya, pelatih dipaksa bekerja dengan komposisi tim yang ‘seadanya’ di tengah badai kompetisi yang semakin beringas.
Inilah ironi terbesar: disaat suporter meneriakkan semangat Ewako di tribun, manajemen justru membiarkan reputasi klub tercoreng di meja administrasi FIFA.
Sanksi yang berulang ini adalah bukti nyata bahwa ada sumbatan profesionalisme yang harus segera dibedah.
Jika masalah fundamental ini tidak diselesaikan secara permanen, maka sanksi-sanksi berikutnya hanyalah bom waktu yang siap menenggelamkan kapal Phinisi kita ke dasar klasemen.
Dilema sanksi FIFA ini menciptakan efek domino.
Ketika manajemen sibuk membereskan urusan ‘dapur’ yang terbakar, fokus pada penguatan skuad menjadi terabaikan.
Akibatnya, pelatih dipaksa bekerja dengan bahan baku yang terbatas di tengah kompetisi yang semakin beringas.
Sanksi ini harus menjadi alarm terakhir: PSM tidak bisa lagi dikelola dengan gaya ‘pemadam kebakaran’ yang baru sibuk bergerak saat api masalah sudah membesar.
Manajemen harus bertransformasi menjadi entitas yang lebih transparan dan akuntabel.
Di sisi lapangan, keterpurukan musim ini menuntut inovasi dari tim pelatih.
Strategi lama yang sudah terbaca lawan harus segera dirombak.
Kita merindukan PSM yang bermain dengan determinasi tinggi namun tetap cerdas secara taktik.
Pelatih harus berani melakukan terobosan, memaksimalkan potensi pemain muda, dan membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk kehilangan taji di kasta tertinggi.
Namun, beban ini tidak bisa dipanggul sendiri oleh manajemen dan pelatih.
Suporter sebagai ‘pemain ke-12’ juga memiliki tanggung jawab besar.
Mendukung dengan cara yang cerdas adalah kunci.
Di masa sulit ini, dukungan moral jauh lebih dibutuhkan daripada cacian yang justru meruntuhkan mental pemain.
Kritik tetap diperlukan, namun harus kritik yang membangun, bukan yang anarkis atau justru membuahkan denda baru bagi klub.
Menjaga PSM tetap eksis di kasta tertinggi liga Indonesia bukan sekadar soal urusan klasemen.
Ini adalah soal menjaga kehormatan sepak bola Sulawesi Selatan.
Jika PSM jatuh, maka ada potongan sejarah dan kebanggaan masyarakat Sulsel yang ikut runtuh.
Dan kini saatnya semua pihak menanggalkan ego masing-masing.
Manajemen harus lebih profesional, pelatih harus lebih inovatif, dan suporter harus lebih dewasa.
Titik balik ini harus menjadi momentum kebangkitan, bukan awal dari keruntuhan.
Jangan biarkan kapal Phinisi ini karam hanya karena kita lalai menjaga layarnya. EWAKO!!!.(*)