Di tengah berbagai perubahan tersebut, satu hal tetap terasa, bahwa perjalanan mudik bukan semata-mata soal cepat sampai, melainkan tentang apa yang ditemui di sepanjang jalan.

Cirebon (ANTARA) - Perjalanan mudik di Pulau Jawa perlahan-lahan berubah, terutama dengan kehadiran jalan tol yang kini menjadi pilihan utama bagi banyak orang yang ingin segera tiba di kampung halaman.

Namun, bagi yang ingin menikmati perjalanan atau bernostalgia, jalur selatan menawarkan pengalaman yang berbeda. Jalur ini lebih panjang, lebih pelan, dan penuh persinggahan.

Dalam "Susur Mudik 2026", tim ANTARA menempuh perjalanan dari Jakarta menyusuri jalur selatan hingga pantai utara Jawa untuk melihat dinamika arus mudik, sekaligus merasakan kembali pengalaman perjalanan yang dulu akrab bagi para pemudik.

Jalur lama yang kini lebih lengang

Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Bandung, lalu berlanjut ke jalur selatan melalui kawasan Nagreg. Ruas ini sejak lama dikenal sebagai salah satu titik krusial dalam arus mudik menuju Jawa Tengah.

Namun, memasuki H-5 Lebaran, kondisi lalu lintas masih lancar. Kendaraan belum menunjukkan kepadatan signifikan seperti yang biasa terjadi pada puncak arus mudik.

Pos pelayanan terpadu Operasi Ketupat Lodaya 2026 di kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung, menghadirkan konsep tematik bernuansa budaya Sunda melalui tema “Lembur Kaheman” untuk memberikan kenyamanan bagi pemudik yang melintas, Minggu (15/3/2026). ANTARA/Farika Nur Khotimah.

Memasuki wilayah Garut, Tasikmalaya, Ciamis, hingga Banjar, perjalanan terasa lebih longgar. Jalanan relatif mulus dan memberi ruang bagi pengendara untuk berhenti sejenak tanpa mengganggu arus kendaraan.

Salah satu titik yang disinggahi adalah Jembatan Cirahong, penghubung Tasikmalaya dan Ciamis yang memiliki jalur ganda untuk kendaraan dan kereta api. Infrastruktur lama ini masih aktif digunakan dan menjadi bagian dari perjalanan di jalur selatan.

Persinggahan yang memberi warna

Dari Banjar, perjalanan berlanjut menuju Cilacap dan memasuki jalur pesisir selatan. Di rute ini, tim sempat singgah di Masjid As-Shodiqin yang berada di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Masjid ini memiliki arsitektur yang tidak biasa. Bangunan utama dikelilingi danau buatan, lengkap dengan perahu yang dapat digunakan pengunjung untuk berkeliling. Di tengah perjalanan darat yang panjang, tempat ini menjadi titik berhenti yang memberi jeda sebelum melanjutkan perjalanan.

Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Menganti di Kabupaten Kebumen. Pantai ini merupakan bagian dari kawasan Geopark Kebumen yang telah diakui sebagai UNESCO Global Geopark.

Namun, suasana yang terlihat justru berbeda dari destinasi wisata pada umumnya. Kawasan pantai terpantau lengang, bahkan area parkir terlihat kosong tanpa kendaraan roda empat.

Sepanjang akses menuju pantai, kendaraan dapat berhenti di pinggir jalan tanpa mengganggu lalu lintas. Kondisi ini menunjukkan jalur selatan belum mengalami lonjakan signifikan menjelang puncak arus mudik.

Di tengah perjalanan menuju pantai, tim juga menjumpai warga yang membagikan takjil kepada pengguna jalan. Interaksi sederhana ini menjadi bagian dari pengalaman yang masih terasa di jalur selatan.

Infrastruktur tumbuh, perjalanan tetap hidup

Memasuki Yogyakarta, dinamika perjalanan mulai berubah. Volume kendaraan di kawasan Tugu Yogyakarta meningkat sekitar 40 persen dibandingkan hari biasa, tapi arus lalu lintas masih berjalan lancar.

Petugas telah menyiapkan skema rekayasa lalu lintas untuk mengantisipasi kepadatan jika terjadi penumpukan kendaraan.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur di jalur selatan juga terus berlangsung. Jembatan Pandansimo di Bantul, yang merupakan bagian dari Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), menjadi salah satu penghubung penting kawasan pesisir.

Jembatan Pandansimo, Bantul, Yogyakarta pada Rabu (18/3/2026). ANTARA/Farika Nur Khotimah.

Dengan panjang sekitar 2,3 kilometer, jembatan ini mendukung konektivitas antarwilayah sekaligus membuka akses ke kawasan pesisir selatan yang sebelumnya lebih terbatas.

Ketersediaan fasilitas pendukung perjalanan juga terus berkembang. SPBU mudah ditemukan di berbagai titik sepanjang jalur, sementara fasilitas pengisian kendaraan listrik (SPKLU) telah tersedia di kota-kota besar seperti Bandung, Yogyakarta, dan Semarang, serta terus diperluas ke titik strategis lainnya.

Selain itu, Polri juga menyiapkan pos pengamanan dan pos terpadu yang tersebar di sejumlah titik strategis untuk mendukung kelancaran arus mudik.

Secara nasional, pos terpadu tersebut tersebar di 25 titik. Dalam perjalanan ini, tim mendapati beberapa di antaranya berada di kawasan Gadok, Nagreg, dan Banjar, yang menjadi simpul pergerakan kendaraan dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah.

Pos-pos tersebut berfungsi untuk pengamanan, dan juga menyediakan layanan bagi pemudik, mulai dari informasi kondisi lalu lintas, layanan kesehatan, hingga tempat istirahat sementara.

Ruang sosial dan kuliner perjalanan

Di Yogyakarta, perjalanan bergeser dari sekadar berpindah menjadi pengalaman singgah di berbagai titik.

Masjid Jogokariyan menjadi salah satu titik yang ramai dikunjungi, terutama dengan adanya Kampoeng Ramadhan Jogokariyan. Kawasan ini menghadirkan ratusan pelaku UMKM serta pembagian ribuan porsi takjil setiap hari.

Masjid tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang sosial yang mempertemukan warga dan pengunjung dari berbagai daerah.

Perjalanan juga diwarnai dengan pengalaman kuliner di sepanjang jalur. Di Garut, pemudik dapat singgah di rumah makan khas Sunda, Cibiuk Resto, sementara di sepanjang jalur pesisir, pedagang jambu kristal menjadi pemandangan yang mudah ditemui.

Memasuki Yogyakarta, gudeg tetap menjadi pilihan kuliner yang tidak terpisahkan dari perjalanan.

Dari selatan ke utara, perjalanan kembali bergerak

Dari Semarang, perjalanan berlanjut ke arah barat melalui jalur pantai utara (Pantura) menuju Cirebon.

Memasuki jalur ini, suasana perjalanan mulai terasa berbeda dibandingkan jalur selatan. Meski arus kendaraan masih terpantau lancar pada periode H-1 Lebaran, aktivitas di sepanjang jalan terlihat lebih hidup.

Di Pekalongan, tim sempat singgah di kawasan Pasar Grosir Batik Setono, yang dikenal sebagai salah satu pusat batik terbesar di wilayah tersebut. Sejumlah pemudik terlihat memanfaatkan perjalanan untuk membeli oleh-oleh khas sebelum melanjutkan perjalanan.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Tegal, di mana tim mampir untuk menikmati kuliner khas daerah, yakni sate kambing muda Cempe Lemu. Hidangan ini menjadi salah satu pilihan yang banyak dicari pemudik untuk mengisi tenaga di tengah perjalanan.

Memasuki Brebes, perjalanan kembali diwarnai dengan persinggahan, kali ini di toko oleh-oleh telur asin yang menjadi ikon daerah tersebut. Produk olahan telur bebek ini masih menjadi pilihan utama pemudik untuk dibawa pulang.

Di Cirebon, perjalanan ditutup dengan singgah di kawasan Masjid Agung Sang Cipta Rasa, salah satu masjid bersejarah yang menjadi tujuan wisata religi sekaligus tempat beristirahat bagi pengunjung yang melintas.

Berbeda dengan jalur selatan yang cenderung memberi ruang berhenti secara spontan, perjalanan di Pantura memperlihatkan pola persinggahan yang lebih terarah, dengan titik-titik yang sudah dikenal sebagai pusat kuliner dan oleh-oleh.

Perjalanan Susur Mudik 2026 yang melintasi jalur selatan hingga pantai utara Jawa memperlihatkan bagaimana wajah mudik kini semakin beragam.

Di jalur selatan, perjalanan masih terasa lengang dengan karakter jalan yang dinamis dan banyak ruang untuk berhenti. Persinggahan yang tidak selalu direncanakan, interaksi dengan warga, hingga titik-titik singgah seperti pantai, masjid, dan warung menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Sementara di jalur pantai utara, ritme perjalanan mulai berubah. Arus kendaraan bergerak lebih konsisten, dengan persinggahan yang lebih terarah di pusat kuliner dan oleh-oleh. Aktivitas di sepanjang jalur juga terlihat lebih hidup, meski belum mencapai puncak arus mudik.

Di kedua jalur tersebut, terlihat bagaimana infrastruktur terus berkembang, mulai dari kondisi jalan yang semakin baik, pembangunan jembatan, hingga kesiapan pos pengamanan di berbagai titik. Fasilitas pendukung perjalanan juga semakin mudah diakses, terutama di kota-kota besar dan jalur utama.

Namun, di tengah berbagai perubahan tersebut, satu hal tetap terasa, bahwa perjalanan mudik bukan semata-mata soal cepat sampai, melainkan tentang apa yang ditemui di sepanjang jalan.

Dari jalan yang lengang di selatan hingga persinggahan yang ramai di Pantura, perjalanan ini menunjukkan bahwa mudik tetap menyimpan ruang untuk pengalaman, tak sekadar tujuan.