Koala merupakan hewan endemik asli Australia. Namun, populasinya kini menjadi masalah karena di satu wilayah melimpah, sedangkan di wilayah lain menurun.
Para peneliti menemukan bahwa populasi koala di Australia bagian timur mengalami penurunan. Sementara di Australia Selatan jumlahnya meningkat pesat hingga melampaui batas.
Fenomena tersebut menjadi perhatian para ilmuwan karena pertumbuhan yang tak terkendali justru bisa mengancam kelangsungan hidup spesies itu sendiri.
Apa Dampak Ketidakseimbangan Populasi Koala di Australia?
Sebuah riset yang dipimpin Dr Frédérik Saltré dari Australian Museum dan University of Technology Sydney, bekerja sama dengan Flinders University dan University of Wollongong, mengungkap bahwa populasi koala di Mount Lofty Ranges kini mencapai sekitar 10 persen dari total populasi nasional Australia.
Tanpa langkah pengendalian, jumlah itu bisa naik hingga 25 persen dalam 25 tahun ke depan, menyebabkan kerusakan parah pada hutan, rantai makanan, dan habitat alami mereka.
Dr. Saltré mengkhawatirkan kondisi populasi berlebih ini karena berpengaruh terhadap rantai makanan dan kondisi habitat alami koala.
"Koala di banyak wilayah timur Australia sedang menurun tajam, tapi di Mount Lofty Ranges justru kebalikannya. Populasinya meledak, dan ini seharusnya kabar baik, tapi jumlah ini mengkhawatirkan," ujar Dr Saltré, dikutip dari laman Flinders University.
Ia menegaskan bahwa kepadatan tinggi berisiko membuat hutan kehilangan daya dukung alami. Hal ini dapat berpengaruh terhadap sumber makanan koala yang terbatas sehingga dapat terjadi kelaparan massal.
"Jika dibiarkan, dalam beberapa dekade mendatang hampir pasti akan terjadi kelaparan dan kematian massal koala," tambahnya.
Dalam studi yang terbit di jurnal Ecology and Evolution pada 12 Januari 2026, peneliti menggunakan pemodelan spasial canggih serta data dari ribuan pengamatan warga untuk memetakan persebaran koala di wilayah itu. Hasil menunjukkan bahwa banyak area memiliki kepadatan populasi di atas batas wajar, yang mempercepat degradasi vegetasi dan memperburuk keseimbangan ekosistem lokal.
Solusi Baru, Sterilisasi Koala Betina Jadi Pilihan Etis
Para ilmuwan menolak opsi pemusnahan atau pemindahan massal yang dianggap tidak etis. Sebagai gantinya, mereka mengusulkan sterilisasi 22 persen koala betina dewasa per tahun di area berpopulasi padat, dengan perkiraan biaya 34 juta dolar Australia selama 25 tahun.
"Kebaruannya ada pada pendekatan proaktif, kami menggunakan simulasi komputer untuk menentukan strategi yang paling efisien sehingga biaya dan hasil bisa dioptimalkan," jelas Dr Saltré.
Profesor Corey Bradshaw dari Flinders University menyebut metode ini sebagai cara paling manusiawi untuk mengendalikan populasi tanpa harus melukai hewan ikonik ini.
Sementara Dr Katharina Peters dari University of Wollongong berpendapat yang sama dan menunjukkan dukungannya terhadap solusi sterilisasi ini. Menurutnya, langkah pemusnahan tidaklah tepat karena berdampak buruk bagi ekosistem.
"Kita menghadapi dilema konservasi yang sulit, bagaimana mengelola spesies yang kini terancam oleh jumlahnya sendiri, tanpa mengorbankan kesejahteraan satwa dan kesehatan ekosistem," katanya.
Seiring perubahan iklim yang makin mempersempit habitat alami, penelitian ini menjadi pijakan penting bagi pengelolaan satwa liar yang mengutamakan bukti ilmiah dan prinsip etika konservasi.
Temuan ini juga mendorong upaya lebih serius dalam menjaga keseimbangan antara populasi koala, kelestarian hutan, serta keberlanjutan ekologi Australia pada masa depan.







