Cerita Nensi, Gendong Bayi saat Ikut Ujian di PKBM Pelihara Nagekeo NTT
Gordy Donovan March 26, 2026 11:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MBAY – Seorang peserta didik Paket C PKBM Pelihara Nagekeo, Tarsisia Petronela Deku (18) bersama 141 orang lainnya mengikuti Ujian Pendidikan Kesetaraan (UPK) di Desa Aeramo, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (26/3/2026) pagi. 

Perempuan yang akrab disapa Nensi ini sontak menarik perhatian panitia dan sesama peserta ujian.

Pasalnya, ia datang dengan menggendong bayi laki-laki yang masih berusia dua bulan dan didampingi sang suami, Benyamin Ferjesen Boleng (19). 

Nensi rupanya ingin menunjukkan keteguhan dan semangat pantang menyerah di tengah keterbatasan. Saat jeda ujian, ia keluar dan menyusui bayinya dan setelah beberapa menit kemudian ia masuk lagi untuk melanjutkan ujian. 

Baca juga: Anggota DPRD Nagekeo Sebut Jalan Ngera-Puuwada Benar Rusak Bukan HOAX, Kini Sudah Diperbaiki

Gendong Bayi di Sekolah

"Saya datang dengan anak bayi itu karena dirumah tidak ada yang jaga apalagi dia masih usia 2 bulan, akhirnya saya dengan suami sepakat dia juga ikut ke sekolah. Bapaknya yang gendong saat saya ikut ujian di dalam kelas,"ujar Nensi kepada TRIBUNFLORES.COM Kamis siang.

Menurut Nensi, meski menghadapi tanggung jawab sebagai ibu muda, ia tetap ingin menyelesaikan pendidikan setara SMA untuk membuka peluang masa depan yang lebih baik. 

Kata dia, ini bukan hanya ujian akademik, tapi juga ujian hidup dan ia ingin membuktikan keterbatasan tidak boleh menghentikan mimpi.

Warga Desa Raja, Kecamatan Boawae ini selama mengikuti ujian menginap dikeluarga di Kampung Penginanga Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa. 

"Saya tidak ingin putus sekolah. Karena saya punya niat untuk melanjutkan kuliah untuk masa depan saya dan anak saya dan keluarga. Saya sudah komit dari awal, bahwa saya mau sekolah hingga tamat disini dan dapat ijazah SMA,"ujarnya.

Bagi dia, ijazah memang penting tapi yang lebih penting adalah Sekolah memberikan pengetahuan, melatih keterampilan sosial, membentuk disiplin, dan membantu pengembangan minat serta bakat.

"Memang kami butuh ijazah, tapi kami berjuang seperti siswa-siswi di sekolah lain. Ini soal ketekunan dan komitmen dari dalam diri. Karena sekolah formal dan informal itu menurut saya sama. Hanya ada sedikit perbedaan, tapi kami ingin maju dan tetap semangat untuk sekolah di PKBM Pelihara ini,"tegasnya.

Ia mengharapkan setelah tamat dari PKBM Pelihara dapat melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dan berharap PKBM Pelihara semakin maju dan terus memberikan warna bagi Pendidikan di Nagekeo.

Sementara itu, Kepala PKBM Pelihara Nagekeo, Oskarius Meta menyatakan dukungannya terhadap peserta yang menghadapi tantangan berat. 

“Nensi adalah contoh nyata ketekunan dan keberanian. Pendidikan adalah hak semua orang, termasuk mereka yang sedang menghadapi tanggung jawab besar,” kata Oskar Meta.

Oskar menyebutkan kehadiran Nensi dengan bayinya selama ujian menjadi simbol perjuangan pendidikan bagi banyak peserta didik lainnya, mengingatkan bahwa ketahanan dan tekad bisa mengalahkan rintangan yang tampak berat sekalipun.

"Jumlah peserta Paket C kelas XII PKBM Pelihara sebanyak 142 orang. Kegiatan ujian dilaksanakan dua kluster karena keterbatasan ruangan,"ujarnya.

Ia mengatakan ujian akademik digelar sejak Rabu tanggal 25 hingga Sabtu 28 Maret 2026 dan ujian prakterk dilaksanakan sejak Senin 30 hingga Selasa 31 Maret 2026.

Ia berharap peserta dapat mengikuti ujian dengan penuh semangat dan tetap tidak boleh menyerah dengan keadaan. 

"Semoga mereka semangat dan bisa sukses semua,"pungkas dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.