TRIBUNNEWSDEPOK.COM, TEL AVIV - Suasana pagi di wilayah permukiman Israel, khususnya Tel Aviv, berubah mencekam.
Sistem pertahanan udara kebanggaan mereka, Iron Dome, dilaporkan kewalahan dan berhasil ditembus oleh serangan bom tandan (cluster bomb) dari Iran. Insiden ini memicu kepanikan massal di tengah warga yang harus berkejaran dengan maut menuju tempat perlindungan.
Pagi pada Selasa (24/3/2026) itu menjadi mimpi buruk bagi warga sipil. Sirene peringatan serangan udara meraung tanpa henti, menciptakan atmosfer ketakutan yang kian nyata.
Baca juga: Iran Pamerkan Puing Rudal Jelajah Siluman AS JASSM yang Keok Dibantai Pasukan IRGC
Kesaksian Mencekam dari Balik Bungker
Intensitas ancaman kali ini terasa jauh lebih dekat dan menggetarkan. Roti, salah satu warga Tel Aviv, menceritakan detik-detik menegangkan saat serangan terjadi.
Meski ia dan warga lainnya telah berlindung di dalam bungker yang dirancang kedap suara, suara siulan khas rudal yang meluncur di udara masih terdengar jelas dan semakin mendekat.
Momen yang hanya berlangsung beberapa detik itu terasa sangat panjang.
“Dua atau tiga detik setelah suara itu, terdengar dentuman yang sangat mengerikan,” ujarnya.
Ledakan tersebut mengguncang area sekitar, membuktikan bahwa ancaman telah mencapai jantung kota dan menembus sistem pertahanan tercanggih sekalipun.
Teror Bom Tandan dan Ancaman Laten
Kengerian yang dirasakan Roti sangat beralasan. Penggunaan bom tandan oleh Iran menandai babak baru yang lebih mematikan dalam eskalasi konflik ini.
Bom jenis ini dirancang untuk melepaskan puluhan hingga ratusan submunisi di udara sebelum mencapai target.
Karakteristiknya yang menyebar luas membuat tugas Iron Dome menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan mencegat roket konvensional. Celah sekecil apa pun berujung pada jatuhnya proyektil di area permukiman.
Lebih parahnya lagi, sejumlah laporan menyebutkan banyak submunisi yang gagal meledak saat jatuh. Hal ini menciptakan "bom waktu" di jalanan dan permukiman yang bisa meledak kapan saja jika tersentuh.
Tekanan psikologis warga Israel kini meningkat tajam, sebuah kondisi yang mengingatkan pada pengalaman warga di Gaza yang bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian serupa.
Strategi Berubah: Rudal Menurun, Tapi Lebih Mematikan
Menariknya, di tengah kepanikan warga akibat bom tandan, militer Israel mencatat adanya penurunan drastis secara kuantitas pada jumlah rudal yang ditembakkan Iran.
Juru Bicara Angkatan Darat Israel, Effie Defrin, mengungkapkan bahwa rencana awal Iran untuk menembakkan ratusan rudal tidak sepenuhnya terealisasi. Pada hari pertama, serangan tercatat di bawah 100 unit, dan terus menyusut di hari-hari berikutnya.
“Jumlah peluncuran rudal menurun dengan sangat cepat. Rata-rata saat ini berkisar sekitar 10 rudal per hari,” ujar Defrin dalam pernyataan resminya.
Meski angka peluncuran menurun, para analis militer dan pengamat menilai konflik belum masuk ke fase deeskalasi.
Penurunan jumlah rudal ini dipandang sebagai perubahan taktik dari Iran. Alih-alih mengandalkan kuantitas, serangan kini berfokus pada amunisi yang sulit dicegat (seperti bom tandan) untuk memberikan daya hancur dan efek psikologis yang maksimal.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda jalur diplomasi akan ditempuh. Warga sipil di Tel Aviv dan wilayah sekitarnya masih harus bertahan dalam bayang-bayang perang modern yang tak lagi mengenal batas antara garis depan militer dan ruang hidup masyarakat.