BANGKAPOS.COM – Umat Muslim sedang melaksanakan Puasa Syawal 2026.
Puasa Syawal adalah puasa sunnah enam hari di bulan Syawal setelah Hari Raya Idulfitri.
Hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan).
Pahalanya setara puasa setahun penuh jika digabung dengan puasa Ramadan.
Boleh dilakukan tidak berurutan, namun lebih utama berurutan mulai 2 Syawal.
Tahun ini, pelaksanaan puasa Syawal 2026 sudah bisa dilakukan sejak tanggal 22 Maret 2026 atau 2 Syawal 1447 Hijriah.
Hal itu merujuk pada keputusan pemerintah, menyangkut pelaksanaan Idulfitri 1447 Hijriah.
Baca juga: Sosok 2 Petugas Lapas Gagalkan Modus Cumi Berisi Sabu, Curiga Suami Istri Bawa Titipan ke Napi
Untuk tahun ini, pelaksanaan Idulfitri dilangsungkan tanggal 21 Maret 2026.
Itu artinya, sehari kemudian, atau tanggal 22 Maret 2026, umat muslim sudah bisa menjalankan puasa Syawal atau puasa enam.
Bagi umat Islam, pelaksanaan puasa Syawal sangatlah penting.
Sebab, bagi siapa saja yang melaksanakan puasa Syawal selama enam hari, maka ia seolah berpuasa selama satu tahun lamanya.
"Siapa yang berpuasa di bulan Ramadan, diiringi enam hari di bulan Syawal. Dapat pahala macam pahala puasa setahun," kata Ustaz Abdul Somad (UAS), dalam sebuah video short yang diunggah akun Youtube @NDEREKUAS berjudul Dahsyatnya Puasa 6 Hari Di Bulan Syawal.
UAS bilang, bahwa pelaksanaan puasa Syawal boleh dilakukan di awal bulan, di tengah, maupun di akhir bulan Syawal.
"Boleh berturut (dilaksanakan), boleh dicicil," kata UAS.
Pelaksanaan puasa Syawal tentu harus dilaksanakan selama bulan Syawal.
Di luar dari pada itu, maka bukan puasa Syawal namanya.
Batas pelaksanaan puasa Syawal 2026 tentunya sebelum masuknya bulan Zulkaidah.
Bila melihat kalender Hijriah dan perhitungan perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah, maka batas waktu puasa Syawal 2026 adalah tanggal 18 April 2026.
Setelah tanggal itu, umat muslim sudah tidak akan mendapatkan puasa Syawal.
Umat muslim tetap bisa melaksanakan puasa, tapi puasa sunnah lainnya seperti Senin dan Kamis.
Niat merupakan syarat sah utama sebelum memulai ibadah puasa sunah ini pada pagi hari.
Baca juga: Daftar 3 Komandan Kapal Perang Resmi Diganti: Brawijaya-320, I Gusti Ngurah Ra-332, Yos Sudarso-353
Berikut adalah bacaan niat Puasa Syawal dalam bahasa Arab, Latin, dan artinya:
Teks Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّهِ تَعَالَى
Teks Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwali lillahi ta‘âlâ.
Artinya: "Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah Ta’ala."
Banyak yang bertanya mengenai prioritas antara membayar utang (qada) Ramadan atau mendahulukan Puasa Syawal.
Dilansir dari NU Online, sangat dianjurkan untuk menyelesaikan utang puasa wajib terlebih dahulu demi kesempurnaan ibadah.
Namun, bagi mereka yang khawatir kehilangan momentum bulan Syawal, beberapa ulama memperbolehkan pengerjaan puasa sunah ini.
Meski dilakukan secara terpisah-pisah, pahala keutamaannya tetap bisa didapatkan asalkan jumlahnya mencapai enam hari.
Ibadah ini menjadi tanda bahwa seorang hamba tetap istiqamah dalam ketaatan setelah dididik selama bulan Ramadan.
Puasa Syawal bisa dilakukan mulai tanggal 2 Syawal (karena 1 Syawal adalah Hari Raya Idulfitri yang haram berpuasa).
Waktu untuk melafalkan niat puasa Syawal adalah mulai dari setelah maghrib (malam hari) hingga sebelum tergelincirnya matahari (zuhur) keesokan harinya, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
Ini berbeda dengan puasa wajib seperti Ramadan yang harus diniatkan pada malam hari.
Menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa mulai terbit fajar hingga magrib.
Mengisi hari dengan memperbanyak doa, tilawah, dan amal saleh.
Ustaz Abdul Somad (UAS) dalam ceramahnya pernah mengatakan, bahwa umat muslim sebaiknya membayar dulu utang puasa Ramadannya sebelum melaksanakan puasa sunnah Syawal.
"Jadi ibu yang tinggal 7 hari (puasa Ramadan), nanti ibu qadha dulu 7, sesudah diqadha 7, baru puasa 6. Yang afdal qadha dulu, baru puasa enam," kata UAS, seperti dalam video short yang diunggah akun Youtube @AyoBelajarIslam.
UAS bilang, siapa saja yang menjalankan puasa qadha di bulan Syawal, maka ia akan mendapatkan pahala puasa sunnah Syawal.
"Imam Zakaria al-Anshari berfatwa, siapa yang puasa qadha di bulan Syawal, maka dapat pahala sunnah Syawal," kata UAS.
Oleh karena itu, UAS pun menyarankan agar umat muslim lebih dulu mengerjakan puasa qadha, karena hukumnya wajib mengganti puasa Ramadan yang sempat tertinggal.
Baca juga: Contoh Soal UTBK-SNBT 2026 Lengkap Kunci Jawaban, Download PDF Di Sini
Apa yang disampaikan UAS tersebut sejalan dengan pernyataan Imam al-Syarqawi (w 1227 H) dalam karyanya Hasyiyah al-Syarqawi.
Dijelaskan bahwa, menggabungkan puasa qadha dengan puasa Syawal hukumnya boleh.
ولو صام فيه [أي في شهر شوال] قضاء عن رمضان أو غيره نذراً أو نفلاً آخر، حصل له ثواب تطوعها؛ إذ المدار على وجود الصوم في ستة أيام من شوال…، لكن لا يحصل له الثواب الكامل المترتب على المطلوب إلا بنية صومها عن خصوص الست من شوال…
“Bila seseorang berpuasa pada Syawal dengan niat qadha, atau selainnya seperti nadzar atau puasa sunnah lain, orang tersebut tetap mendapatkan pahala puasa sunnah Syawal. Sebab substansi puasa enam hari di bulan Syawal telah dilaksanakan. Tetapi, dia tidak mendapatkan pahalanya dengan sempurna sesuai kriteria yang dituntut (oleh hadits). Bila ingin mendapat pahala puasa Syawal dengan sempurna, harus dilaksanakan dengan niat khusus puasa enam hari Syawal (tidak digabung dengan yang lain)…” (Lihat Hasyiyah al-Syarqawi, juz 1, hlm 474).
Niat puasa qadha Ramadhan di bulan Syawal difokuskan untuk mengganti utang puasa wajib, dan dianjurkan dilakukan sebelum puasa sunnah enam hari Syawal.
Niatnya dilakukan di malam hari hingga sebelum subuh.
Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhaai fardhi ramadhaana lillahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah Ta'ala."
Dikutip dari mui.or.id, al-Ramli (w 1004 H) dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj berpendapat bahwa seseorang melaksanakan puasa qadha pada Syawal, dia tetap mendapatkan pahala sunnah Syawal tetapi tidak mendapatkan pahala yang sempurna.
Ini, menurut al-Ramli adalah pendapat yang difatwakan oleh ulama sebelumnya yaitu al-Walid yang mengikuti pendapat al-Barizy, al-Ashfuni, al-Nasyiry, dan al-Faqih ‘Ali bin Shalih al-Hadlrami dan lain sebagainya. (Lihat Nihayatul Muhtaj, juz 3, hlm 208)
Kesimpulannya, boleh-boleh saja menggabungkan niat qadha puasa dan sunnah Syawal berbarengan.
Akan tetapi, bila ingin pahala melaksanakan sunnah Syawal dengan sempurna, harus mendahulukan qadha terlebih dahulu lalu dilanjutkan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Rasulullah dalam sebuah haditsnya menyebutkan, pahala orang yang melaksanakan Puasa Syawal setara dengan berpuasa setahun lamanya.
“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim).
Baca juga: Sepak Terjang Didik Farkhan, Kajati Sulsel Baru 5 Bulan Berani Tersangkakan Eks Pj Gubernur Bahtiar
Berikut 5 keutamaan Puasa Syawal sebagaimana dikutip dari berbagai sumber.
1. Penyempurna puasa Ramadhan Puasa sunnah Syawal sebagai penyempurna puasa Ramadhan
Hal ini sebagaimana shalat yang bila ingin menyempurnakan shalat fardu, maka seseorang dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah rawatib, yaitu qabliyah dan bakdiyah.
2. Sempurnakan pahala puasa
Puasa Syawal memiliki keistimewaan untuk menyempurnakan pahala puasa menjadi pahala puasa setahun.
Hal ini sebagaimana yang ditegaskan Rasulullah dalam haditsnya.
3. Tanda puasa Ramadhan diterima
Puasa Syawal menjadi pertanda puasa Ramadhan diterima oleh Allah, sebab kebiasaan tersebut menjadi pertanda diterimanya puasa yang dikerjakan sebelumnya.
4. Tanda syukur kepada Allah
Puasa Syawal sebagai tanda syukur kepada Allah. Jamak diketahui bahwa di bulan Ramadhan banyak anugerah yang diberikan Allah.
Seperti ampunan, pahala yang berlipat-lipat, dan seterusnya.
Ini ditegaskan juga dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah ra yang artinya: “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni.”
Dalam riwayat lain: “Siapa saja yang menghidupkan malam hari bulan Ramadhan dengan dasar iman, dan berharap pahala dan ridha Allah, maka dosanya yang lalu akan diampuni.”
(HR Bukhari dan Muslim) “Karena ampunan inilah patutnya kita bersyukur kepada Allah dengan melakukan ketaatan berupa puasa Syawal.”
5. Tanda ibadah Ramadhan tak terputus Puasa Syawal menandakan bahwa ibadah yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan tidak terputus
Spirit beribadah pada bulan Ramadhan hendaknya tidak sekadar menjadi musiman, melainkan harus dipertahankan di bulan-bulan berikutnya.
Sementara Puasa Syawal dapat dikatakan adalah salah satu bentuk usaha yang dapat kita lakukan untuk melestarikan ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan.
Wallahu a'lam bishawab
(Bangkapos.com/Tribunnews.com/Tribun-medan.com)