TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Di tengah hiruk pikuk tuntutan ekonomi modern, sebuah filosofi kuno yang dihidupkan kembali oleh KSP CU Bahtera Sejahtera telah mengubah hidup banyak anggotanya, termasuk Irene Sidok , seorang guru yang berkesempatan membagikan kisah inspiratifnya.
Dengan prinsip "GOA GUD KO NAHA GITA WO" yang berarti "bahan makanan yang ada tidak boleh dihabiskan sebelum panen berikutnya", CU Bahtera Sejahtera mengajarkan kepada Irene disiplin menabung yang berujung pada kesejahteraan jangka panjang.
Ibu Irene, sapaan akrabnya, mengaku tertarik bergabung dengan CU Bahtera Sejahtera karena filosofi tersebut.
"Itu artinya ada semacam edukasi bahwa kita kalau mendapatkan uang atau apa itu tidak boleh dihabiskan, harus ada menabungnya," jelasnya, Kamis 26 Maret 2026.
Baca juga: Aset KSP CU Bahtera Sejahtera Tumbuh Rp 84,8 Miliar, SHU Naik Rp 1,5 M Tahun 2025
Filosofi ini tidak hanya menariknya untuk bergabung, tetapi juga mendorongnya untuk merencanakan keuangan masa depan dengan matang termasuk impian pensiun sejahtera dengan bunga tabungan yang bisa diambil setiap bulan.
Salah satu hal yang paling berkesan bagi Irene adalah sistem kapitalisasi di CU Bahtera Sejahtera. "Kita datang dengan tidak punya uang, tidak punya modal," katanya.
Namun, melalui edukasi sederhana, ia memahami bahwa dengan meminjam Rp 2 juta, uang itu menjadi miliknya dan ia harus rajin menabung untuk memenuhi kapitalisasi tersebut.
"Edukasi yang berbeda dari koperasi lain adalah kita harus menabung dulu baru bisa meminjam," terang Irene. Filosofi ini menanamkan kesadaran pentingnya disiplin keuangan, jauh dari iming-iming pinjaman besar yang sering ditawarkan tanpa pondasi tabungan yang kuat.
Dengan berbekal filosofi menabung dan sistem yang mendukung, Irene dan suaminya memulai rencana pembangunan lima tahunan (Repelita) mereka.
"Lima tahun pertama, kami pinjam di CU modal awal untuk membangun rumah," kenangnya. Setelah rumah berdiri, Repelita kedua difokuskan pada perluasan tempat usaha mereka, sebuah bengkel kios. Dan Repelita ketiga, mereka berhasil membeli kendaraan.
"Dampaknya sangat luar biasa karena kita memiliki asetnya lebih dulu," ujar Irene penuh syukur.
Ia menyadari, tanpa CU Bahtera Sejahtera, sulit baginya untuk memiliki aset-aset tersebut hanya dari gaji bulanan atau penghasilan harian.
"Mungkin kita sampai lima tahun, sepuluh tahun belum bisa dapat rumah. Tetapi dengan masuk CU Bahtera Sejahtera, akhirnya kita bisa dapatnya banyak sekali, kayak beranak cucu begitu."
Kisah Irene semakin menarik ketika ia menceritakan bagaimana CU Bahtera Sejahtera juga menjadi bagian dari perjalanan cintanya. Saat calon suaminya melamar, syarat utama yang diajukannya bukanlah harta, melainkan keterampilan dan komitmen untuk bergabung dengan CU.
"Syarat yang saya beri itu harus masuk ke CU Bahtera Sejahtera," katanya sambil tersenyum. Bersama-sama, mereka tumbuh dan berkembang, mewujudkan impian hidup yang lebih baik.
Irene menutup kisahnya dengan sebuah pesan penting bagi masyarakat. "Kita jangan tergoda dengan janji-janji pinjaman tetapi tidak mengedukasi diri kita untuk menabung duluan. Dan yang paling penting itu disiplin," tegasnya.
Baginya, CU adalah milik bersama dan kelalaian dalam menabung berarti menghancurkan wadah kesejahteraan itu sendiri.