Laporan Wartawan Tribungayo.com, Bustami | Bener Meriah
TribunGayo.com, REDELONG - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) melontarkan kritik keras terkait lambannya penanganan kerusakan di ruas jalan Takengon–Krueng Geukeuh (Jalan KKA) dan jalan lintas Nasional Bireuen-Takengon.
Menurut YARA, hingga saat ini, kedua jalur vital tersebut dinilai belum tertangani secara maksimal pascabencana banjir dan longsor yang melanda beberapa bulan lalu.
Kepala Perwakilan YARA Bener Meriah, Muhammad Dahlan, mengungkapkan bahwa jalur KKA merupakan salah satu titik paling krusial dengan tingkat kerusakan yang mengkhawatirkan.
Kondisi di lapangan menunjukkan adanya titik longsor serta badan jalan yang amblas sehingga sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan.
"Jalan KKA adalah urat nadi utama bagi masyarakat Gayo, tapi dilapangan kita lihat penanganannya terkesan lamban dan memicu tanda tanya besar terkait keseriusan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh serta instansi terkait lainnya," ujar Dahlan kepada Tribungayo.com, Kamis (26/3/2026).
Dahlan juga menyoroti minimnya keberadaan alat berat di sepanjang jalur tersebut.
Padahal, kondisi tanah di sejumlah titik masih sangat labil dan rawan terjadi longsor susulan, terutama saat intensitas hujan meningkat.
"Coba cek langsung ke lapangan, berapa alat berat yang siaga di jalur KKA dan Takengon-Boreuen? Jangan sampai masyarakat dipaksa bertaruh nyawa setiap kali melintas," katanya
Ia menegaskan agar pemerintah tidak membiarkan masyarakat bertaruh nyawa setiap kali melintas di jalur tersebut.
Karena keberadaan jalan ini sangat strategis karena menjadi jalur utama distribusi hasil pertanian dan perkebunan dari dataran tinggi Gayo menuju wilayah pesisir, Mulai dari Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, hingga Sumatera Utara.
Dampak dari kerusakan yang berlarut-larut ini pun mulai merembet ke sektor ekonomi.
"Jika terganggunya distribusi barang menyebabkan biaya logistik membengkak, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga kebutuhan pokok di wilayah Gayo," sebut Dahlah.
Selama perbaikan permanen tidak segera dilakukan, inflasi di daerah tersebut diprediksi akan tetap tinggi karena terhambatnya arus transportasi.
Dikatakan saat ini, situasi di beberapa titik jalur KKA bahkan dilaporkan sudah mencapai tahap kritis, di mana badan jalan hilang total dan hanya bisa dilalui secara terbatas.
Kondisi ini berpotensi melumpuhkan akses total jika kembali terjadi longsor.
Oleh karena itu, YARA mendesak Pemerintah Aceh melalui PUPR dan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah serta Aceh Tengah untuk segera menempatkan alat berat secara permanen di titik-titik rawan.
Penanganan yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar tindakan darurat, melainkan langkah rehabilitasi jangka panjang yang bersifat permanen.
Selain kepada pemerintah daerah, YARA juga meminta perhatian serius dari pemerintah pusat melalui Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera serta DPR RI.
"Kita menekankan agar pemerintah segera hadir dengan tindakan nyata sebelum jatuh korban jiwa lebih lanjut, mengingat akses jalan ini menyangkut keselamatan nyawa dan stabilitas ekonomi masyarakat luas," pungkasnya.(*)
Baca juga: Tiga Bulan Pascabencana, Akses Jalan Lintas KKA Bener Meriah Tak Kunjung Normal