Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebutkan bahwa kolaborasi masyarakat dalam pemajuan budaya merupakan modal penting bagi sebuah bangsa dapat mempertahankan eksistensi di masa depan.

Menurutnya pemajuan budaya Indonesia hanya bisa dicapai jika seluruh masyarakat khususnya generasi muda memiliki kesadaran budaya sebagai fondasi pembangunan bangsa.

"Kemajuan kebudayaan hanya bisa kita capai jika kita bekerja bersama, dengan kesadaran bahwa budaya adalah kekuatan dan modal utama bangsa ke depan,” kata Fadli dalam keterangannya, Kamis.

Hal itu disampaikannya sebagai pesan dalam orasi kebudayaan saat membuka acara Gelar Budaya dan Karya Anak Bangsa yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) di Surakarta, Jawa Tengah.

Dalam orasi itu, Fadli mengatakan budaya merupakan kekuatan strategis sebuah bangsa dan pemajuan kebudayaan merupakan amanat konstitusi yang barus diwujudkan seluruh lapisan masyarakat.

Membahas budaya Indonesia, Fadli berpendapat bahwa budaya yang ada tidak hanya beragam tapi juga sangat kaya bahkan layak disebut sebagai megadiversity.

Kekayaan budaya tersebut mencakup ribuan etnis, ratusan bahasa daerah, serta beragam ekspresi budaya yang tidak hanya terbatas pada seni, tetapi juga mencakup tradisi lisan, manuskrip, ritus, pengetahuan tradisional, hingga kuliner.

Maka dari itu, pemajuan budaya perlu terus digaungkan agar eksistensi Indonesia yang beragam dapat tetap terjaga hingga di masa depan tanpa tergerus zaman.

Di tengah dinamika global, menjaga budaya bangsa menjadi urgensi karena selain menjadi akar kehidupan sehari-hari juga dapat menjadi modal berdiplomasi dengan negara lainnya.

Penguatan budaya Indonesia menurut Fadli harus dilihat sebagai kekuatan yang tak bisa dianggap remeh karena sesungguhnya dapat menjadi penggerak ekonomi bahkan ke level global.

Berkaca dari negara lain yang berhasil menjadikan budayanya menjadi populer dan menjadi bahan diplomasi di kancah global, Fadli menyakini Indonesia juga dapat melakukan langkah serupa.

Indonesia dinilainya memiliki potensi besar untuk mengembangkan “Indonesian wave” melalui pemanfaatan kekayaan budaya yang dimiliki secara tepat.

Salah satu upaya menjaga dan menguatkan budaya di era ini ialah dengan menjaganya dan membawanya ke ruang digital.

Agar digitalisasi budaya Indonesia tak kehilangan akarnya, Fadli menyampaikan sejumlah prinsip yang perlu menjadi pegangan bersama dalam pengembangan budaya di era digital.

Pertama, pentingnya literasi budaya digital yang tidak hanya sebatas kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga memahami konteks, etika, dan hak cipta dalam representasi budaya.

Kedua, perlunya pelindungan terhadap pelaku budaya dalam ekosistem ekonomi digital agar mendapatkan akses yang adil terhadap promosi, monetisasi, dan pengembangan kapasitas.

Ketiga, penguatan arsip dan pangkalan data budaya yang tidak hanya menyimpan informasi, tetapi juga konteks dan makna budaya secara utuh sebagai fondasi strategis di era teknologi.

Selain menyampaikan orasi, Menteri Fadli mengapresiasi hadirnya acara puncak rangkaian reuni akbar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS dalam rangka Dies Natalis ke-50 UNS karena berfokus pada pelestarian kebudayaan.

Dengan mengusung tema “Merajut Pelangi Budaya Nusantara", beragam aktivitas berbau kebudayaan dihadirkan mulai dari pertunjukan wayang beber tani, pameran arsip, keris, naskah, dan koleksi museum, gelar seni budaya mahasiswa FIB, hingga pameran UMKM alumni dan Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA).

Fadli menilai tema yang diangkat mencerminkan komitmen kuat perguruan tinggi dalam merawat dan mengembangkan kebudayaan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan bangsa.