Digitalisasi Pendidikan Makin Luas, Akses Starlink dan Papan Interaktif Menyasar Daerah 3T
Siti Fatimah March 26, 2026 11:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Digitalisasi pembelajaran tak hanya terjadi di Jawa Barat khususnya dan Pulau Jawa umumnya. Di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) berlokasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur/NTT pun, digitalisasi dari  Kemendikdasmen berhasil menarik atensi dan pencapaian nilai evaluasi siswa. 

Theobaldus Banafanu, Guru IPS di SMPN Wederok, Kecamatan Weliman, Kabupaten Malaka, mengatakan, kehadiran super aplikasi Rumah Pendidikan, Papan Interaktif Digital (PID), serta akses Starlink sejak awal tahun ini, telah memunculkan kegairahan proses belajar-mengajar pada 139 siswa di sekolahnya.

Super Aplikasi Rumah Pendidikan disediakan Pusdatin Kemendikdasmen sementara PID dan akses internet melalui Direktur Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.

“Sebelumnya, buku ajar itu terbatas. Jadi kalau pegang buku, murid tak bisa menyimak seperti apa rupanya. Sekarang dengan ada PID sejak Januari 2026 lalu, guru tinggal browsing saja untuk perlihatkan wujud yang dibahas seperti apa. Intinya, kami, guru dan murid. dimudahkan segalanya saat di kelas,” katanya saat diwawancara, Rabu (18/3/2026). 

Imbasnya, ujar guru yang mengajar sejak 2019 tersebut, hasil ujian mingguan siswanya mulai terasa ada kenaikan. 

Jika sebelumnya rata-rata kelas di kisaran 60, maka sekarang sudah ada pada rerata 75-80 berkat siswa lebih memahami materi pengajaran. 

Hal ini dirasa wajar karena juga selaras dengan karakter digital native dari anak didiknya.

Sekalipun berasal dari 3T, dengan mayoritas orangtua siswa adalah petani jagung, padi, dan kopra, namun sebagian besar sudah familiar dengan ponsel cerdas. 

Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Pusdatin Kemendikdasmen) Yudhistira Nugraha mengatakan, contoh di NTT adalah bukti spirit dari paradigma Kemendikdasmen kekinian yang ingin mengubah konsep schooling jadi learning.  

“Perubahan mindset ini membuat  pembelajaran tidak lagi terbatas ruang kelas, tetapi dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja. Dengan pendekatan learning, proses belajar bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun,” sambungnya. 

Menurutnya, setelah perubahan mindset, selanjutnya diperlukan kolaborasi berkelanjutan, karena jumlah pengembang teknologi pembelajaran di Indonesia mencapai hampir 3.000 orang yang tersebar di sejumlah kementerian dan lembaga, sehingga hanya jadi ekosistem jika saling kenal dan menguatkan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.