Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Mario Giovani Teti
POS-KUPANG.COM, BA'A - Keinginan masyarakat Pulau Usu, Kabupaten Rote Ndao untuk memiliki akses penghubung yang aman akhirnya mulai terwujud.
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi memulai pembangunan jembatan gantung yang akan menghubungkan Pulau Rote dengan Pulau Usu.
Selama ini, warga setempat sepenuhnya bergantung pada transportasi laut yang kerap terkendala cuaca. Kehadiran jembatan tersebut menjadi solusi permanen untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.2 Provinsi NTT, Audrian Ramanta Herdy, S.T., M.Sc, mengatakan jembatan gantung Usu dirancang dengan bentang sepanjang 100 meter dan lebar sekitar 1,5 meter, khusus untuk pejalan kaki.
Baca juga: Pemkab Rote Ndao Percepat Penetapan dan Realisasi APBDesa 2026
"Meski diperuntukkan bagi pejalan kaki, jembatan ini didesain dengan struktur yang kuat dan aman," ucapnya, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, pembangunan jembatan dilakukan dalam dua paket pekerjaan, yakni bangunan bawah dan bangunan atas. Untuk bangunan bawah, kontrak telah berjalan dengan nilai sekitar Rp 8 miliar dan masa pekerjaan hingga 31 Desember 2026.
"Saat ini pekerjaan telah memasuki tahap awal berupa survei dan pengukuran di lapangan. Mobilisasi alat berat dijadwalkan mulai April 2026 untuk proses pembersihan lahan," katanya.
Sementara itu, pekerjaan bangunan atas masih dalam proses tender dan menunggu revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).
Setelah proses tersebut rampung, kontrak akan ditandatangani dan dilanjutkan dengan fabrikasi serta pengiriman material ke lokasi proyek.
Menurut Audrian, pelaksanaan bangunan atas harus sinkron dengan bangunan bawah sehingga waktu pengerjaan dibuat lebih panjang untuk mengantisipasi proses tersebut.
Dari sisi teknis, bangunan bawah menggunakan fondasi setempat dengan kedalaman antara 2 hingga 4 meter, menyesuaikan kondisi tanah.
Sedangkan struktur atas menggunakan sistem jembatan gantung tipe rigid berbahan galvanis yang dinilai lebih stabil dibandingkan jembatan gantung konvensional.
"Perhitungan teknis sudah mencakup beban angin, gempa, hingga beban penggunaan, sehingga dari sisi keamanan sudah memenuhi standar," pungkasnya.
Secara keseluruhan, proyek ini diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 14 miliar yang bersumber dari APBN.
Audrian mengatakan, BPJN NTT menargetkan pekerjaan utama jembatan rampung pada November 2026, sementara penyelesaian akhir dijadwalkan pada Desember 2026.
Meski demikian, ia mengakui tantangan utama proyek ini terletak pada mobilisasi alat berat dan material ke Pulau Usu. Distribusi direncanakan menggunakan ponton atau kapal khusus dari Pulau Rote.
Untuk menjaga kualitas konstruksi, material seperti agregat dan batu pecah akan didatangkan dari Takari, Kupang, NTT.
Proyek ini juga mendapat dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah. Lahan pembangunan telah siap dan sosialisasi resmi akan segera dilakukan bersama Pemerintah Kabupaten Rote Ndao.
"Masyarakat sangat mendukung karena jembatan ini sudah lama dinantikan. Ini akan membuka akses dan meningkatkan konektivitas warga Pulau Usu," cetus Audrian.
Ia berharap pembangunan jembatan gantung tersebut dapat menjadi tonggak penting dalam meningkatkan aksesibilitas, mobilitas dan kesejahteraan masyarakat setempat.
"Ini menjadi harapan baru bagi masyarakat. Kami optimistis manfaatnya akan sangat besar ke depan," tutupnya. (rio)