SERAMBINEWS.COM – Klaim Donald Trump bahwa stok rudal dan drone Iran telah dihancurkan ternyata belum sepenuhnya menggambarkan kenyataan di lapangan.
Di balik pegunungan granit yang kokoh, Iran diyakini menyimpan kekuatan militernya di lokasi yang nyaris tak tersentuh.
Sejak hari-hari awal perang, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) disebut telah mengaktifkan doktrin pertahanan “Decentralized Mosaic Defence” (DMD), dengan menyembunyikan persenjataan mereka jauh di dalam gunung granit padat.
Kedalaman dan struktur lokasi ini membuatnya hampir mustahil dijangkau bahkan oleh bom penghancur bunker paling kuat milik Amerika Serikat.
Situasi ini memicu “permainan kucing dan tikus” antara Iran dengan AS dan Israel.
Analisis sumber terbuka dan citra satelit terbaru mengungkap keberadaan kompleks rudal balistik besar di bawah gunung selatan Yazd.
Dari lokasi ini, Iran tetap mampu meluncurkan serangan meski terus digempur.
Taktiknya pun cerdik.
Drone dan rudal dikeluarkan dari gua, diluncurkan, lalu segera disembunyikan kembali ke dalam pegunungan. Saat peluncuran terdeteksi, serangan balasan dari AS dan Israel biasanya hanya mampu menghancurkan pintu masuk gua. Namun, puing-puing tersebut dapat dibersihkan dalam hitungan hari, sementara persenjataan di dalam tetap aman.
Baca juga: Komandan Angkatan Laut IRGC Dilaporkan Tewas, Iran Belum Konfirmasi
Seorang analis, Shanaka Anslem Perera, menggambarkan fasilitas ini seperti “sistem kereta bawah tanah untuk rudal balistik”.
Ia menyebut adanya jaringan rel otomatis yang mengangkut hulu ledak dan peluncur dari ruang perakitan hingga ke beberapa pintu keluar tersembunyi di lereng gunung, dengan kedalaman mencapai 500 meter.
Serangan berulang AS dan Israel pada awal hingga pertengahan Maret dilaporkan hanya merusak infrastruktur permukaan, seperti ventilasi dan pintu masuk.
Namun, bagian utama yang berada jauh di bawah tanah disebut tetap utuh dan berfungsi.
Bahkan, pada 20 Maret, sebuah rudal balistik jarak jauh sempat diluncurkan dari kompleks tersebut, meski gagal di fase awal dan jatuh di wilayah Yazd.
Para analis menilai, fakta bahwa peluncuran itu tetap terjadi menunjukkan kemampuan operasional Iran masih berjalan.
Penilaian independen turut menguatkan temuan ini. Laporan CNN menyebut adanya struktur terowongan terorganisir, sementara lembaga riset Alma memetakan sebagian jaringan tersebut. Militer Israel mengklaim sekitar 60 persen infrastruktur peluncuran telah dihancurkan, sedangkan estimasi AS menyebut sekitar 50 persen kapasitas masih bertahan.
Para analis militer menekankan bahwa kedalaman fasilitas menjadi tantangan utama.
Bom penghancur bunker terkuat AS, GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, hanya mampu menembus sekitar 40 meter batuan—jauh dari kedalaman 500 meter yang dilaporkan.
“Ini bukan sekadar selisih kemampuan, tapi ketidakmungkinan secara fisik,” ujar Perera.
Desain kompleks ini memungkinkan operasi tetap berjalan meski sebagian pintu masuk hancur.
Setiap jalur keluar berfungsi secara independen, dan jaringan terowongan dapat dialihkan bila satu akses tertutup.
“Iran tidak hanya mempersiapkan perang dengan membangun rudal,” kata Perera. “Mereka mempersiapkannya dengan membangun jalur kereta di dalam gunung.”(*)