Nelayan Tanjabtim Kena 'Jebakan' BBM, Beli Solar Subsidi Jauh, Non-subsidi Mahal
asto s March 27, 2026 10:04 AM

TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK - Hari itu, di pesisir timur Jambi, pagi baru saja dimulai. Di Desa Pangkal Duri Ilir, Kecamatan Mendahara, suara mesin perahu belum tentu terdengar setiap hari.

Bukan karena laut tak menjanjikan ikan, melainkan karena solar subsidi yang kian sulit didapat nelayan.

Nelayan di pesisir timur Jambi saat ini dalam "jebakan".

Selasa (24/3/2026), sejumlah nelayan mengeluhkan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi.

Kondisi itu tak hanya dirasakan di Pangkal Duri Ilir, tetapi juga di beberapa wilayah pesisir timur Jambi.

Di desa tersebut, tak satu pun penjual solar subsidi tersedia.

Nelayan dihadapkan pada dua pilihan berat: membeli solar subsidi di luar desa dengan jarak tempuh lebih jauh, atau membeli solar non-subsidi di dalam desa dengan harga yang jauh lebih mahal.

Keduanya sama-sama berdampak pada biaya operasional dan penghasilan yang tak pernah pasti.

Haidir (50), nelayan setempat, mengaku hampir tak pernah merasakan solar subsidi di desanya sendiri.

Untuk melaut, ia bergantung pada pasokan dari luar desa.

“Kalau di tempat lain bisa dapat sekitar Rp10 ribu per liter. Tapi kalau beli di desa sendiri bisa sampai Rp13 ribu. Selisihnya lumayan,” ujarnya.

Setiap hari, Haidir membeli sekitar tujuh liter solar.

Biaya yang ia keluarkan mencapai Rp70 ribu, bahkan bisa menembus Rp100 ribu untuk sekali melaut.

Jumlah yang terasa berat ketika hasil tangkapan tak selalu sebanding.

Harapan Serupa dari Nelayan Lain

Ibnu Hajar (56), nelayan lainnya, menyebut desanya hingga kini belum memiliki pangkalan resmi solar subsidi.

Akibatnya, nelayan harus mencari BBM ke luar desa.

Masalah menjadi semakin rumit saat stok di luar desa kosong.

Mereka terpaksa membeli dari pedagang lokal dengan harga lebih tinggi.

“Harganya bisa Rp12 ribu sampai Rp13 ribu per liter. Padahal di pangkalan sekitar Rp10 ribu,” katanya.

Kebutuhan solar untuk melaut tidak sedikit.

Untuk area pinggir laut, dibutuhkan sekitar lima hingga enam liter.

Jika melaut lebih jauh ke tengah, konsumsi bisa mencapai sepuluh liter untuk sekali perjalanan pulang-pergi.

“Kalau dihitung, solar saja bisa habis Rp100 ribu. Belum makan dan kebutuhan lain,” ujarnya.

Ibnu berharap pemerintah segera menghadirkan pangkalan solar subsidi di desanya.

Menurutnya, harga yang terjangkau sangat menentukan keberlangsungan hidup nelayan kecil.

“Penghasilan kami tidak menentu. Kalau biaya melaut tinggi, kami makin tertekan,” katanya.

Hidup yang Bergantung Cuaca

Kesulitan nelayan pesisir timur Jambi tak berhenti pada persoalan BBM.

Cuaca menjadi faktor lain yang menentukan ada atau tidaknya penghasilan.

Saat angin kencang dan gelombang tinggi, nelayan memilih tak melaut.

Risiko terlalu besar untuk dipertaruhkan.

Dalam kondisi cuaca baik, penghasilan nelayan bisa mencapai Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per hari.

Namun angka itu tak pernah pasti.

“Kalau ombak besar, tidak sanggup. Selain berbahaya, menarik jaring juga berat,” ujar Ibnu.

Sebagai alternatif, Haidir memilih mencari ikan dengan cara togok atau nogok di sungai.

Cara itu dilakukan dengan memasang jaring menggunakan pancang, tanpa harus ke laut.

“Kalau tidak ke laut, kami cari udang di sungai pakai togok,” katanya.

Biasanya, Haidir berangkat melaut sejak pukul 06.00 WIB dan kembali sekitar pukul 15.00 WIB.

Namun cuaca kerap memaksa rencana berubah.

Jika gelombang tiba-tiba meninggi, ia dan nelayan lain memilih mencari tempat aman.

Mereka berteduh di sungai atau wilayah terlindung hingga laut kembali bersahabat.

“Kadang bisa pulang sampai malam kalau cuaca tak kunjung reda,” tuturnya. (Tribun Jambi/Khusnul Khotimah)

Baca juga: Tabir Gelap Kematian Dedi di Jambi: Sederet Kejanggalan dan Dugaan Rekayasa

Baca juga: 2 Jasad Misterius Gegerkan Jambi: Dari Tepi Jalan Hingga Pesisir Pantai

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.