Kebijakan pelarangan ponsel pada jam sekolah di jenjang sekolah menengah di Singapura membuktikan dampak positif. Tanpa ponsel selama jam belajar maupun beristirahat, siswa perlahan menjadi lebih aktif bergerak dan mulai kembali berinteraksi dengan teman-temannya.
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Singapura memperkenalkan aturan ini pada Januari 2026. Kementerian melarang siswa menggunakan HP sepanjang hari sekolah, termasuk saat istirahat. Beberapa sekolah, seperti Bukit Batok Secondary, sebenarnya sudah mulai membatasi penggunaan ponsel lebih awal.
Pada awal semester ketiga 2025, sekolah mendorong siswa menyerahkan ponsel secara sukarela kepada ketua kelas saat istirahat. Setiap kali menyerahkan HP, siswa mendapat stempel yang bisa dikumpulkan untuk mendapatkan akses eksklusif ke pusat kegiatan sekolah.
Program itu perlahan mengubah suasana sekolah. Saat jam istirahat, siswa tampak lebih bersemangat bergerak dan berinteraksi. Beberapa bermain biliar di ruang santai, sementara yang lain bergantian mencoba palang pull-up di koridor.
Ada pula yang bersantai di ayunan atau membentuk tim kecil untuk bermain sepak bola dan basket di bawah terik matahari. Tak sedikit siswa yang meminjam raket bulu tangkis dari sekolah dan mencari ruang terbuka yang cukup luas untuk bermain bersama. Sekolah ini menyediakan ruang bernama Hillside yang dilengkapi berbagai permainan dan fasilitas bagi siswa.
Pihak sekolah mengambil kebijakan pelarangan ponsel sebagai respons terhadap meningkatnya penggunaan ponsel pasca pandemi COVID-19.
Kepala Bagian Kesejahteraan Siswa, Nikhil Chatterji mengatakan meski tingkat partisipasinya masih tergolong rendah, tetapi lebih baik dari yang diharapkan.
"Ada penelitian yang menunjukkan seberapa dekat mereka dengan ponsel mereka, bahkan saat dimatikan, akan memengaruhi kemampuan kognitif mereka untuk memproses informasi... Jadi kami memutuskan untuk menggunakan loker, di mana ponsel juga akan disimpan dengan aman," jelasnya, dikutip dari The Straits Times.
Kepala sekolah Shirley Lee menambahkan pandangannya tentang strategi Hillside untuk mengurangi penggunaan ponsel siswa selama jam sekolah. "Anda tidak bisa hanya memberi aturan dan berhenti di situ. Jika mengambil sesuatu, Anda harus memberi sesuatu yang lebih menarik," katanya.
Selain itu, sekolah menyediakan ruang fisik dan perlengkapan olahraga agar siswa memiliki cara lain untuk menghabiskan waktu. Kepala Departemen Pendidikan Jasmani dan Ekstrakurikuler, Prabaakaran Janarthanan mengatakan siswa dapat meminjam peralatan olahraga untuk digunakan saat istirahat, makan siang, dan setelah sekolah.
Pendapat Siswa terhadap Pelarangan HP di Sekolah
Beberapa siswa menyambut positif kebijakan pembatasan HP di sekolah ini, salah satunya Jayden Chan, siswa kelas 3. Ia mengatakan kebijakan itu membuatnya lebih sering berbicara langsung dengan teman.
"Sekarang saya tidak hanya mendengar teman curhat di media sosial, tapi benar-benar mendengar suara mereka dan menceritakan hari mereka," ujarnya.
Siswa lain, Myrtle Delicia, mengatakan kebiasaan lama yang membuat siswa terisolasi kini diganti dengan interaksi langsung.
"Dulu semua orang terlihat terisolasi, hanya ponsel, ponsel, ponsel. Tapi sekarang, kamu bisa melihat semua orang benar-benar berinteraksi satu sama lain," katanya.
Siswa lain, Cesar Algallar mengaku awalnya merasa tidak nyaman ketika harus meninggalkan ponsel. Alih-alih membuka media sosial, ia kini lebih sering berbicara dengan teman atau bermain sepak bola.
"Saat antre untuk makanan, saya selalu merogoh kantong kiri untuk ponsel. Tapi sekarang, hanya kunci yang ada di sana," ujarnya.
"Tapi saya rasa itu pengorbanan yang perlu. Jika momen itu benar-benar berkesan, saya yakin tidak akan terlupakan," tambahnya.
Aturan Pelarangan HP Bikin Siswa Lebih Produktif
Selain Bukit Batok Secondary, sekolah lain juga menerapkan aturan HP lebih dulu. Salah satunya adalah St Patrick's School yang mengumumkan pada akhir 2023 bahwa HP akan dilarang sepanjang hari mulai tahun berikutnya.
Asisten Kepala Angkatan sekolah Faith Wong mengatakan kebijakan ini awalnya tidak diterima dengan baik oleh siswa.
"Ketika kami mengumumkan kebijakan ini, mereka cukup kesal dan terdengar keluhan di aula," ujarnya.
Pada paruh pertama 2024, pihak sekolah menjelaskan alasan larangan ponsel melalui pertemuan serta pelajaran pendidikan karakter dan kewarganegaraan. Mereka juga menawarkan alternatif kegiatan tanpa perangkat. Mulai paruh kedua 2024, siswa diwajibkan menyimpan ponsel di loker yang terletak di area umum yang diawasi jauh dari kelas.
"Kami melihat mereka banyak berbicara dan bermain. Beberapa bahkan mulai membentuk kelompok minat sendiri," kata Wong.
la menambahkan, saat siswa menggunakan waktu istirahat untuk menyalurkan energi, mereka kembali ke kelas lebih fokus.
Sebelumnya, banyak siswa tetap di kelas dan menggunakan ponsel selama istirahat, tetapi kini mereka lebih sering pergi ke kantin atau memanfaatkan lapangan sepak bola sekolah. Ia juga mencatat kreativitas siswa meningkat tanpa perangkat.
"Mereka lebih proaktif dalam mengatur kegiatan dan lomba antarkelompok," ujarnya.
Wakil kepala sekolah, Barnabas Tan mengakui perubahan positif pada interaksi siswa sejak larangan ponsel diterapkan.
"Momen-momen seperti ini membuat siswa membangun kenangan dan melihat sekolah sebagai tempat kedua terbaik setelah rumah," katanya.






