Mendadak Donald Trump Tahan Serangan ke Iran hingga 6 April, Ngaku Diminta Langsung oleh Teheran
Eri Ariyanto March 27, 2026 11:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Langkah mengejutkan kembali datang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendadak mengundur tenggat rencana serangan terhadap Iran hingga 6 April mendatang.

Keputusan ini langsung memicu spekulasi luas di tengah meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah.

Donald Trump mengklaim penundaan tersebut bukan tanpa alasan, melainkan atas permintaan langsung dari pihak Teheran.

Pernyataan itu memperlihatkan adanya komunikasi tidak langsung yang masih terjalin di balik ancaman militer yang sebelumnya digaungkan.

Sebelumnya, Washington diketahui telah menyiapkan opsi serangan sebagai tekanan terhadap program nuklir Iran.

Namun, dinamika diplomasi yang masih berjalan membuat langkah militer kembali dipertimbangkan ulang.

Situasi ini menunjukkan bahwa jalur negosiasi masih menjadi faktor krusial di tengah potensi konflik terbuka.

Meski begitu, penundaan ini juga memunculkan pertanyaan besar: apakah ini tanda de-eskalasi, atau justru strategi menunda serangan yang lebih besar?

Baca juga: Akhirnya Donald Trump Bongkar Hadiah Misterius dari Iran, Klaim Teheran Punya Niat yang Baik

Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (25/3/2026) memutuskan untuk memperpanjang batas waktu serangan terhadap aset energi Iran hingga 6 April.

Trump mengklaim, penundaan itu merupakan respons atas permintaan Iran. Ia menuturkan bahwa negosiasi yang ia klaim bersama Teheran menunjukkan perkembangan positif.

Pada Sabtu sebelumnya, Trump memberikan tenggat 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz yang vital bagi jalur distribusi minyak dunia.

Ia juga mengancam akan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik Iran. Namun, tenggat tersebut kini telah diperpanjang dua kali.

"Sesuai permintaan Pemerintah Iran, mohon izinkan pernyataan ini untuk menyatakan bahwa saya menunda periode penghancuran Pembangkit Energi selama 10 hari hingga Senin, 6 April 2026, pukul 20.00, Waktu Bagian Timur," tulisnya.

Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dalam rapat kabinet sebelumnya mengungkap adanya “indikasi kuat” bahwa Iran bersedia bernegosiasi.

Ia juga untuk pertama kalinya mengonfirmasi bahwa AS telah mengirimkan daftar 15 poin tuntutan kepada Teheran melalui perantara dari Pakistan.

"Kita akan melihat ke mana arahnya, dan apakah kita dapat meyakinkan Iran bahwa ini adalah titik balik tanpa alternatif yang baik bagi mereka, selain lebih banyak kematian dan kehancuran," kata Witkoff.

PRABOWO JURU DAMAI - Israel dan Amerika Serikat disorot dunia usai melancarkan serangan udara terkoordinasi ke sejumlah target strategis di Iran, Sabtu (28/2/2026).
PRABOWO JURU DAMAI - Israel dan Amerika Serikat disorot dunia usai melancarkan serangan udara terkoordinasi ke sejumlah target strategis di Iran, Sabtu (28/2/2026). ((Ist)/Kompas.com)

"Tanggapan Iran terhadap 15 poin yang diusulkan oleh AS secara resmi dikirim tadi malam melalui perantara, dan Iran sedang menunggu tanggapan pihak lain."

Laporan itu menyebut Iran menuntut penghentian serangan oleh AS dan Israel, termasuk terhadap kelompok-kelompok sekutu Teheran di kawasan seperti Hizbullah di Lebanon.

Iran juga meminta kompensasi perang serta menegaskan bahwa kedaulatannya atas Selat Hormuz harus dihormati. Tuntutan tersebut dinilai melampaui isi proposal yang diajukan Washington.

Terlalu sedikit tentara

Dalam pertemuan kabinet yang disiarkan dari Gedung Putih, Trump menyampaikan pernyataan yang berubah-ubah, mulai dari ancaman keras hingga klaim bahwa Iran berada di posisi lemah.

"Mereka ingin membuat kesepakatan. Alasan mereka ingin membuat kesepakatan adalah karena mereka telah benar-benar kalah telak," katanya.

Trump juga menyatakan kemungkinan AS mengambil alih sektor minyak Iran, dengan membandingkannya pada kesepakatan yang pernah dilakukan dengan Venezuela pasca penggulingan Nicolas Maduro.

Sementara itu, kritik muncul dari dalam Israel. Pemimpin oposisi Yair Lapid memperingatkan bahwa konflik yang berlangsung telah menimbulkan kerugian besar.

"IDF sudah mencapai batas kemampuannya dan bahkan melebihinya. Pemerintah membiarkan tentara yang terluka berada di medan perang," kata Yair Lapid.

Ia mengulang peringatan yang sebelumnya disampaikan oleh Kepala Staf Militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir.

"Pemerintah mengirim tentara ke perang multi-front tanpa strategi, tanpa sarana yang diperlukan, dan dengan jumlah tentara yang terlalu sedikit," kata Lapid.

Dalam pengarahan resmi, juru bicara militer Israel Brigadir Jenderal Effie Defrin menegaskan kebutuhan tambahan pasukan di garis depan.

"Di front Lebanon, zona pertahanan depan yang sedang kita ciptakan membutuhkan pasukan IDF tambahan... Untuk itu, lebih banyak tentara tempur dibutuhkan di IDF."

Tidak ada jalan kembali

Dalam rapat kabinet, Trump menyebut Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz sebagai sinyal keseriusan dalam negosiasi.

Di tengah intensitas serangan sejak 28 Februari, Iran kembali menjadi sasaran gelombang serangan Israel pada Kamis.

Salah satu serangan diklaim telah menewaskan komandan angkatan laut Garda Revolusi, Alireza Tangsiri, bersama sejumlah perwira senior.

Seorang jurnalis AFP di Teheran melaporkan suara jet tempur yang melintas, disusul tiga ledakan keras.

Media Iran melaporkan serangan terjadi di sejumlah kota, termasuk Isfahan, Shiraz, Bandar Abbas, Tabriz, Mashhad, hingga Birjand yang sebelumnya relatif aman.

Di Pulau Qeshm, dekat Bandar Abbas, seorang warga menyampaikan kekhawatirannya terhadap kemungkinan eskalasi militer.

"Penderitaan rakyat, kemiskinan, dan penindasan politik semakin memburuk setiap tahun," kata Sadeq, 42 tahun.

"Saya rasa perang bukanlah solusi untuk kondisi ini, tetapi mengakhirinya pun tidak akan banyak mengubah keadaan bagi kami," katanya.

Situasi di kawasan Teluk juga kembali memanas. Dua orang dilaporkan tewas akibat puing rudal balistik Iran yang berhasil dicegat di dekat Abu Dhabi. Selain itu, serangan drone dilaporkan terjadi di Arab Saudi dan Kuwait.

Iran menargetkan negara-negara Teluk yang dituduh menjadi basis peluncuran serangan Amerika Serikat, termasuk fasilitas minyak dan gas.

Diketahui bahwa harga minyak sempat turun dalam sepekan terakhir, namun kembali melonjak pada Kamis akibat ketidakpastian arah perundingan.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.