Lomba Dayung Sambong 2026 Kembali Digelar, Tradisi Lebaran Klidang Lor Batang Bangkit
muslimah March 27, 2026 02:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Tradisi tahunan lomba dayung atau Lomban di Sungai Sambong, Desa Klidang Lor, Kabupaten Batang, kembali digelar pada Jumat (27/3/2026). 

Kegiatan yang menjadi bagian dari perayaan Lebaran ini sempat tertunda akibat tingginya curah hujan yang menyebabkan jalur sungai terganggu.

Baca juga: Hujan Deras, Lomba Dayung Lomban di Sungai Sambong Batang Ditunda

Ketua Panitia Lomban 2026, Egit Elan Viantono, memastikan bahwa perlombaan kini telah berjalan normal setelah dilakukan perbaikan lintasan.

“Ini sudah dimulai seperti biasa. Perbaikan jalur di Sungai Sambong selesai kemarin sore sekitar pukul 17.30,” kata Egit kepada Tribunjateng, Jumat (27/3/2026).

Ia menjelaskan, lomba dimulai setiap hari pukul 08.00 WIB hingga 16.30 WIB, dengan total ratusan pertandingan yang digelar selama empat hari. 

Pada hari pertama tercatat 99 pertandingan, hari kedua 114 pertandingan, hari ketiga 103 pertandingan, dan hari keempat kembali 99 pertandingan.

Antusiasme masyarakat dan peserta tetap tinggi meski sempat mengalami penundaan. 

Baca juga: Misteri 2 Pria Membusuk di Lantai 3 Masjid Miftahul Jannah Brebes, Ternyata Sempat Dilaporkan Hilang

Lomba dayung ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana silaturahmi warga serta daya tarik wisata lokal saat momen Lebaran.

Upaya pelestarian tradisi ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan legislatif. 

Tokoh masyarakat Klidang Lor yang juga anggota DPRD Batang, Nur Untung Slamet, menyampaikan bahwa pihaknya turut berkontribusi melalui bantuan fasilitas.

“Melalui anggaran aspirasi, kami membantu pengadaan dua unit perahu baru untuk mendukung lomba dayung tradisional,” kata Untung. 

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Batang juga menyalurkan dua unit perahu baru pada tahun ini. Dengan demikian, total terdapat empat perahu baru yang digunakan dalam perlombaan.

Menurutnya, pembaruan sarana menjadi hal penting karena sebagian besar perahu lama telah berusia cukup tua. 

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi performa peserta sekaligus aspek keselamatan saat bertanding.

“Fasilitas yang lama sudah berumur, sehingga perlu diperbarui agar peserta bisa bertanding secara maksimal dan aman,” jelasnya.

Dari sisi anggaran, satu unit perahu dayung diperkirakan bernilai sekitar Rp 60 juta, sehingga untuk dua unit mencapai Rp 120 juta. 

Nilai tersebut dinilai masih relatif efisien jika dibandingkan dengan daerah lain.

“Di daerah lain seperti Pekalongan, harga satu unit perahu bisa mencapai Rp64 juta,” ungkapnya.

Ia menegaskan, dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk menjaga tradisi lomba dayung yang telah menjadi identitas budaya masyarakat Batang, khususnya saat perayaan Idulfitri.

“Semangatnya adalah menjaga tradisi agar tetap lestari sebagai bagian dari budaya masyarakat Batang,” pungkasnya.

Dengan kembali digelarnya lomban di Sungai Sambong, masyarakat berharap tradisi ini terus terjaga dan semakin berkembang sebagai warisan budaya sekaligus potensi wisata unggulan daerah. (Ito) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.