Studi yang terbit di jurnal Amazon pada 10 Desember 2025 lalu mengungkapkan bahwa hutan Amazon diprediksi akan memasuki iklim yang disebut sebagai iklim hipertropis pada 2100. Dengan iklim ini, Amazon akan terpanggang lebih panas daripada sebelumnya.
Selama ini, Amazon menjadi sorotan lantaran kekeringan yang terus mengkhawatirkan. Iklim 'hipertropis' yang mengerikan bisa menyebabkan kematian pohon dalam skala besar. Menurut para ahli Universitas California, kondisi ini akan berdampak pada kemampuan bumi menyerap karbon di atmosfer.
Urgensi untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Prediksi ini menjadi alarm nyata bahwa suhu bumi yang semakin panas bukan karangan belaka. Menurut peneliti, satu-satunya cara mencegah hipertropis terjadi yakni dengan mengurangi emisi gas rumah kaca.
"Terserah kita sejauh mana kita akan menciptakan iklim hipertropis ini. Nasib bumi dan umat manusia tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini," kata penulis utama studi, Jeff Chambers, dikutip dari Daily Mail, Jumat (27/3/2026).
"Jika kita terus-menerus mengeluarkan gas rumah kaca sebanyak yang kita inginkan, tanpa kendali apa pun, maka kita akan menciptakan iklim hipertropis lebih cepat," imbuhnya.
Ancaman Kematian Massal Pohon dan Hilangnya Penyerap Karbon
Pada umumnya, musim kemarau di Amazon datang pada Juli sampai dengan September dengan suhu yang lebih panas dari hari biasa. Namun, jika iklim hipertropis melanda, suhu akan meningkat jauh lebih ekstrem dan berlangsung lama hingga memberikan tekanan berlebih pada pohon.
"Ketika kekeringan panas seperti ini terjadi, itulah iklim yang kita kaitkan dengan hutan hipertropis, karena berada di luar batas apa yang kita anggap sebagai hutan tropis saat ini," jelas Chambers.
Studi menyebut bahwa pada 2100, kekeringan panjang selama 150 hari akan terjadi setiap tahun. Kondisi ini akan menambah tingkat kematian pohon hingga 0,55 persen.
Peneliti menyebut pohon yang tumbuh dengan cepat dan kepadatan kayunya rendah akan lebih mudah mati dibandingkan dengan pohon dengan kepadatan kayu yang tinggi. Itu artinya hutan sekunder lebih rentan terhadap kekeringan dan mati lebih dulu saat panas ekstrem menyerang.
Jumlah persentase kematian pohon sebanyak 0,55% memang terlihat sedikit, namun dampaknya bersifat kumulatif. Artinya, seiring berjalannya waktu, jumlah kecil itu dapat menimbulkan bencana besar di kemudian hari.
Melanda Afrika hingga Asia Tenggara
Selain hutan Amazon, para peneliti juga menyebut 'iklim hipertropis' yang mungkin akan melanda hutan hujan di Afrika bagian barat dan di seluruh Asia Tenggara. Seiring dengan meningkatnya suhu global, kekeringan ekstrem akan lebih sering datang sepanjang tahun.
Para penulis studi menyampaikan bahwa kekeringan dan cuaca panas yang terjadi saat ini adalah pertanda iklim baru yang mulai muncul. Kondisi ini merupakan peluang bagi kita untuk memahami, bagaimana hutan tropis akan merespons kondisi lingkungan pada masa depan yang semakin ekstrem.





