WARTAKOTALIVE.COM – Langit di atas Provinsi Markazi, Iran, berubah mencekam pada Jumat malam (27/3/2026).
Dentuman keras mengguncang fasilitas nuklir Arak setelah Angkatan Udara Israel (IAF) mengonfirmasi dimulainya operasi penghancuran infrastruktur yang mereka sebut sebagai aset 'rezim teror', seperti dilansir CNN.
Serangan ini menandai eskalasi paling berbahaya dalam satu bulan terakhir perang yang kian tak terkendali.
Baca juga: Rudal Iran Disalatkan Sebelum Diluncurkan ke Israel dan Pangkalan AS
Beberapa saat sebelum rudal menghantam, militer Israel sempat merilis peringatan dalam bahasa Farsi di media sosial X, meminta warga sipil di wilayah barat laut Kota Arak dan Zona Industri Khir Abad untuk segera mengungsi.
Target Vital dan Kekhawatiran Plutonium
Fasilitas Arak telah lama menjadi duri dalam sekam bagi Israel dan Barat.
Reaktor air berat ini dikhawatirkan menjadi jalur alternatif bagi Teheran untuk memproduksi plutonium—bahan baku utama bom nuklir.
Meski Iran sempat sepakat memodifikasi desainnya pada 2015, kegagalan diplomasi membuat lokasi yang masih dalam tahap konstruksi ini kembali menjadi sasaran utama jet-jet tempur Israel.
Pejabat setempat di Provinsi Markazi mengeklaim tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut berkat langkah pengamanan yang telah disiapkan.
Namun, skala kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan diperkirakan cukup masif.
Harga Mahal di Barisan Depan Amerika
Di sisi lain, keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik ini harus dibayar mahal dengan darah para prajuritnya.
Pejabat pertahanan AS mengungkapkan bahwa hingga Jumat, sebanyak 303 tentara Amerika telah terluka dalam aksi tempur melawan Iran.
Baca juga: Amerika Serikat Merasa Ditinggalkan NATO Dalam Perang Iran
Lebih dari 75 persen dari total korban luka menderita cedera otak traumatis (TBI) akibat serangan drone Iran yang terus-menerus menyasar pangkalan regional.
Hingga kini, 13 tentara AS dinyatakan gugur di medan laga, sementara 10 lainnya masih dalam kondisi kritis dengan kemungkinan bertahan hidup yang tipis.
Rakyat Sipil: Terjepit di Antara Rudal dan Represi
Laporan terbaru dari tiga lembaga HAM—termasuk Human Rights Activists in Iran (HRA)—menggambarkan potret memilukan warga sipil yang terjepit dari segala sisi.
Di satu sisi, mereka terancam oleh salah sasaran rudal AS-Israel di kawasan padat penduduk.
Di sisi lain, mereka menghadapi "tangan besi" pemerintah sendiri.
HRA mencatat sedikitnya 1.830 penangkapan dilakukan otoritas Iran terhadap mereka yang dianggap vokal atau menentang kebijakan perang sejak 28 Februari lalu.
Ketakutan menyelimuti jalanan Teheran; warga tidak hanya takut pada ledakan dari langit, tetapi juga pada ketukan pintu di tengah malam oleh aparat keamanan.
Gertakan dari Teheran: "Jangan Injakkan Kaki di Sini"
Menanggapi pengerahan ribuan Marinir AS ke wilayah tersebut, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melontarkan peringatan pedas.
Ia menyindir ketidakmampuan AS melindungi tentaranya sendiri di pangkalan-pangkalan regional.
"Bagaimana mungkin AS, yang bahkan tidak bisa melindungi tentaranya di pangkalan mereka dan membiarkan mereka bersembunyi di hotel dan taman, bisa melindungi mereka di tanah kami?" tulis Ghalibaf di akun X pribadinya.
Meski Gedung Putih menyatakan belum berencana mengirim pasukan darat, bocoran dari Pentagon menyebutkan bahwa skenario invasi untuk merebut target vital di dalam Iran telah disiapkan.
Dunia kini menahan napas, menanti apakah konflik ini akan tetap di udara atau berubah menjadi pertempuran darat paling berdarah di abad ke-21.