Jadi Sorotan Anggaran Festival Pegon Jember Rp 200 Juta, Tapi Hanya Diterima Rp 7 Juta
Haorrahman March 28, 2026 02:57 AM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Anggaran untuk penyelenggaraan Festival Pegon di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menjadi sorotan karena dianggarkan Rp 200 juta, namun yang diterima panitia hanya Rp 7 juta. 

Dalam rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026, Pemkab Jember mengalokasikan dana sekitar Rp 200 juta untuk kegiatan budaya tersebut. Namun pada realisasinya, panitia penyelenggara hanya menerima Rp 7 juta.

Festival Pegon sendiri dijadwalkan berlangsung, di kawasan pesisir Pantai Watu Ulo, Kecamatan Ambulu, bertepatan dengan momentum H+7 setelah Lebaran, Sabtu (28/3/2026).

Baca juga: TPA Mulai Penuh, Pemkab Jember Gandeng BUMN Kaji Pengolahan Sampah Jadi Energi

Sorotan DPRD

Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, menyayangkan besarnya selisih antara rencana anggaran yang telah dibahas dengan realisasi dana yang diterima panitia.

"Ini yang kami sesalkan. Angka yang diterima jauh dari yang sudah disepakati dalam pembahasan anggaran," ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Menurut Candra, Festival Pegon bukan sekadar kegiatan hiburan masyarakat pesisir selatan Jember. Kegiatan ini juga memiliki nilai sejarah serta berpotensi menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.

"Festival Pegon memiliki peran penting sebagai ruang ekspresi budaya sekaligus momentum kebangkitan ekonomi lokal, terlebih digelar pasca-Lebaran yang sarat makna syukur bagi masyarakat setempat," katanya.

Baca juga: 390.744 Keluarga di Jember akan Terima Bantuan Pangan Prabowo 

Ia menambahkan, pada tahun sebelumnya festival tersebut juga sempat tidak mendapat dukungan anggaran dari pemerintah daerah, akibat kebijakan efisiensi yang merujuk pada Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025.

Karena itu, DPRD sebelumnya telah memperjuangkan alokasi anggaran agar festival tetap dapat digelar pada tahun ini.

"Maka kami akhirnya mengupayakan, memperjuangkan niat-niat baik tersebut dengan mengalokasikan anggaran festival Pegon yang akan dilaksanakan tanggal 28 Maret 2026," jelas legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

DPRD pun berencana menelusuri penyebab terjadinya ketimpangan antara rencana anggaran dan realisasi dana yang diterima panitia.

“Harapannya ke depan, ada konsistensi antara perencanaan dan pelaksanaan sehingga kegiatan budaya seperti ini benar-benar mendapat dukungan maksimal,” ujarnya.

Baca juga: Bayi Laki-Laki Dibuang di Tanggul Jember, Ditemukan Warga Saat Mengaji

Tanggapan Pemkab Jember

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disporaparbud) Jember, Bobby Arie Sandi, mengatakan pemerintah daerah tetap memberikan dukungan terhadap festival tersebut meski tidak sepenuhnya dalam bentuk anggaran.

“Kami tetap berkolaborasi, salah satunya dengan mendukung penampilan di titik finish. Jadi di Watu Ulo itu juga kita support untuk tampilan-tampilan budaya,” katanya.

Festival Pegon akan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni budaya yang mencerminkan keragaman tradisi masyarakat di wilayah selatan Jember.

Selain budaya Jawa, pengaruh budaya Ponorogo juga terlihat dalam acara tersebut, termasuk penampilan kesenian Reog.

"Selain Festival Pegon, terdapat tradisi lain yang berlangsung bersamaan, yakni perayaan ketupatan di kawasan pesisir selatan," jelasnya.

Baca juga: Pemkab Jember Siapkan Pembelajaran Daring, Antisipasi Kebijakan Hemat BBM

Swadaya

Ketua Paguyuban Pelestarian Pegon Jember Selatan, Syamsul Arifin, mengatakan panitia awalnya mengajukan anggaran sebesar Rp 14,5 juta. Namun pemerintah daerah hanya menyetujui bantuan sebesar Rp 7 juta.

“Sisanya ya kita usahakan sendiri. Teman-teman bantu, termasuk untuk tumpeng dan kebutuhan lainnya,” ujarnya.

Akibat keterbatasan anggaran tersebut, peserta festival diminta membawa konsumsi masing-masing karena panitia tidak mampu menanggung seluruh kebutuhan acara.

Beberapa kebutuhan lain seperti tumpeng, sound system, hingga jasa kesenian reog juga dipenuhi secara swadaya oleh masyarakat.

Syamsul menyebut kondisi ini mirip dengan tahun sebelumnya ketika festival bahkan tidak mendapat dukungan dana dari pemerintah daerah.

Kondisi tersebut berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya ketika festival mendapat dukungan anggaran yang lebih besar.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya itu besar sekali, bahkan pernah pakai EO,” kenangnya.

Baca juga: PDIP Usulkan Program Bunga Desaku Jember Ditiadakan Demi Efisiensi Anggaran

Warisan Budaya

Syamsul juga mempertanyakan mengapa Festival Pegon belum menjadi prioritas pemerintah daerah, padahal kegiatan ini telah masuk dalam kalender event tahunan Jember dan diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Tahun ini, festival tersebut akan diikuti oleh 36 Pegon hias yang berasal dari Kecamatan Ambulu, Tempurejo, dan Wuluhan.

Meski dukungan anggaran terbatas, masyarakat tetap berkomitmen untuk menjaga tradisi ini agar tidak hilang.

"Walaupun seperti ini, teman-teman tetap jalan sendiri untuk melestarikan Pegon," katanya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.