TRIBUN-MEDAN.COM,- Siapa nih diantara kalian yang pernah mendengar istilah kupatan atau Lebaran Ketupat?
Ya, kupatan atau Lebaran Ketupat adalah tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, terutama di Jawa.
Lebaran Ketupat atau kupatan merupakan kegiatan perayaan hari ketujuh setelah Idul Fitri.
Baca juga: Masak Lontong Medan di Berlin, Cara Muhammad Syahreza Obati Rindu Tradisi Lebaran di Kampung Halaman
Ada juga yang merayakannya di hari ke delapan.
Pada momen ini, masyarakat akan memasak ketupat dan saling bersilaturahmi serta bermaaf‑maafan.
Lalu, dari mana akar budaya ini?
Apakah tradisi ini baru ada di era kekinian?
Baca juga: Masjid Raya Petumbukan: Tradisi Bubur Lambok dan Sejarah Panjang Ramadan
Untuk melihat lebih detail akar budaya kupatan atau tradisi Lebaran Ketupat ini, kami sudah merangkumnya secara singkat untuk pembaca, agar lebih mudah dipahami.
Tradisi kupatan diyakini berasal dari era Walisongo, khususnya Sunan Kalijaga pada masa Kesultanan Demak abad ke‑16.
Baca juga: Cap Go Meh dan Tradisi Tatung: Ritual Sakral Simbol Komunikasi Budaya
Pada masa itu, Sunan Kalijaga menggabungkan dakwah Islam dengan budaya lokal Jawa.
Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah “Bakda Lebaran” (hari raya Idulfitri) dan “Bakda Kupat” (Lebaran Ketupat) sebagai bentuk dakwah simbolis.
Pada masa itu, Sunan Kalijaga dan para wali lainnya kerap mengajak masyarakat untuk kembali melaksanakan puasa sunnah selepas menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Baca juga: Tradisi Sejak 1960, Bubur India Selatan di Masjid Ghaudiyah Medan Tetap Bertahan hingga Ramadan 2026
Puasa sunnah itu adalah puasa Syawal yang dilaksanakan selama enam hari.
Oleh karena itu, ketika masyarakat selesai menjalankan puasa enam, mereka pun merayakannya dengan mentantap ketupat.
Dilansir dari Kompas.com, kupatan menjadi ajang syukur karena umat yang melaksanakan puasa Ramadan dilanjutkan dengan puasa sunnah Syawal (6 hari).
Baca juga: Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Pertahankan Tradisi, Tadarus Al-Quran dengan Formasi Melingkar
Dalam Islam, ada sebuah hadis yang menjelaskan, bahwa siapa saja yang menjalankan puasa sunnah selama enam hari di bulan Syawal, maka ia seolah puasa satu tahun dan mendapat pahala yang begitu besar.
Secara makna, kupatan adalah ajang untuk mempererat silaturahmi, introspeksi diri, dan saling memaafkan setelah lebaran besar.
Baca juga: Tradisi Marhaminjon, Pelestarian Alam dan Kearifan Lokal di Desa Simardangiang
Dalam praktik, masyarakat biasanya saling bertukar ketupat antar keluarga dan tetangga, mengadakan “slametan” desa, dan menikmati ketupat dengan lauk khas seperti opor, sayur labu, sambal goreng, dan lontong.
Jadi, kupatan adalah tradisi khas Indonesia hasil akulturasi Islam dan kebudayaan Jawa, yang awalnya digagas Walisongo sebagai media dakwah, sekaligus ajang syukur dan pemulihan hubungan sosial setelah Idulfitri.
Pada tahun ini, kupatan atau Lebaran Ketupat dilaksanakan pada hari ini, 28 Maret 2026.
Baca juga: Ragam Tradisi Menyambut Ramadan di Sumatera Utara: Warisan Budaya Penuh Makna
Jika merujuk pada keputusan pemerintah tentang pelaksanaan Idul Fitri yang jatuh pada 21 Maret 2026, maka pelaksanaan Lebaran Ketupat atau kupatan jatuh pada hari ini.
Sebab, Lebaran Ketupat dihitung tujuh hari dari Lebaran besar atau Idul Fitri.
Sejatinya, Lebaran Ketupat ini dirayakan oleh mereka yang benar-benar menjalankan puasa sunnah Syawal.(ray/tribun-medan.com)