BANJARMASINPOST.CO.ID - Di satu sudut Jalan Belitung, Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin, suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar indah.
Tempat sederhana itu dikelola seorang pemuda 21 tahun bernama Muhammad Rais Ash-Shiddieqy.
Rais melanjutkan jejak sang ayah yang juga seorang ustadz.
Di usianya yang masih muda, dia mengajari mengaji anak-anak di lingkungan sekitarnya.
Meski jumlah muridnya tak banyak. Bagi Rais, menjaga keberlanjutan ilmu jauh lebih penting daripada sekadar angka.
Lebih jauh mengenai sosok Rais, berikut petikan wawancaranya dengan Serambi UmmaH.
Apa yang menginspirasi Anda untuk berperan di masyarakat, khususnya mengajar mengaji?
Sejak kecil saya memang sudah terbiasa melihat ayah mengajar mengaji di rumah.
Dari situ, saya pelan-pelan paham, mengajar Al-Qur’an itu bukan sekadar rutinitas, tapi bagian dari tanggung jawab sebagai seorang muslim.
Awalnya mungkin hanya membantu, mendampingi, atau sekadar ikut duduk. Tapi lama-lama tumbuh rasa ingin melanjutkan apa yang sudah beliau lakukan.
Selain itu, saya merasa kalau ilmu yang kita punya, terutama soal agama, itu sebaiknya tidak disimpan sendiri.
Harus dibagikan, walaupun dengan cara sederhana.
Jadi, ketika saya sudah merasa cukup mampu, saya beranikan diri untuk mengajar, walaupun dari lingkungan sekitar dulu.
Teladan apa yang ingin Anda ajarkan kepada anak-anak?
Kalau untuk anak-anak, saya selalu menekankan bahwa mengaji itu bukan cuma soal bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar.
Yang lebih penting justru bagaimana mereka belajar adab.
Misalnya bagaimana bersikap kepada orangtua, kepada guru, dan kepada teman.
Saya juga ingin mereka terbiasa dengan hal-hal baik sejak kecil, seperti disiplin waktu, datang tepat waktu saat mengaji, dan menghargai proses belajar.
Karena menurut saya, kalau adabnya sudah tertanam, nanti ilmunya akan mengikuti dengan sendirinya.
Jadi saya tidak ingin mereka hanya pintar membaca, tapi juga punya akhlak yang baik.
Apa motivasi Anda untuk tetap istikamah meski murid tidak banyak?
Jujur saja, kadang memang ada rasa seperti, “kok sedikit ya muridnya”.
Tapi saya coba kembalikan lagi ke niat awal.
Saya tidak mengajar untuk mengejar banyaknya murid, tapi untuk menjalankan kewajiban berbagi ilmu.
Saya juga percaya, dalam kebaikan itu yang dilihat bukan jumlahnya, tapi keikhlasan dan konsistensinya.
Walaupun hanya satu atau dua anak yang datang, kalau itu bisa menjadi amal jariyah dan memberi manfaat bagi mereka ke depan, itu sudah cukup.
Selain itu, saya merasa ini bagian dari proses belajar saya sendiri.
Dengan mengajar, saya jadi ikut mengulang dan memperbaiki bacaan serta pemahaman saya.
Adakah ayat atau hadis yang menjadi pegangan dalam menjalani ini?
Satu di antara yang selalu saya ingat adalah hadis riwayat Imam Bukhari yang menyebutkan, sebaik-baiknya manusia adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.
Dari situ saya merasa, apa yang saya lakukan ini walaupun kecil, tetap punya nilai yang besar kalau dijalankan dengan niat yang benar.
Selain itu, ada pemahaman, ilmu yang bermanfaat itu akan terus mengalir pahalanya.
Bahkan, ketika kita sudah tidak ada. Itu yang membuat saya ingin terus istikamah.
Karena ini bukan hanya untuk sekarang, tapi juga untuk bekal jangka panjang.
Bagaimana Anda menyikapi perkembangan teknologi dan zaman sekarang?
Kalau melihat sekarang, anak-anak memang tidak bisa dilepaskan dari teknologi, terutama gadget.
Jadi menurut saya, kita tidak bisa hanya melarang, karena itu juga bagian dari zaman mereka.
Yang bisa kita lakukan adalah mengarahkan. Misalnya tetap mengaji, tapi juga mengenalkan, teknologi bisa digunakan untuk hal yang baik.
Seperti belajar membaca Al-Qur’an lewat aplikasi, mendengar murottal, atau mencari ilmu agama.
Intinya, teknologi itu netral. Tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Kalau diarahkan dengan baik, justru bisa jadi sarana pendukung dalam belajar.
Apa pesan Anda untuk generasi muda saat ini?
Pesan saya mungkin sederhana, jangan terlalu cepat merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki.
Kadang kita merasa nyaman di zona kita sendiri, padahal masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk orang lain.
Cobalah cari kegiatan yang bermanfaat, sekecil apa pun itu. Tidak harus langsung besar.
Yang penting konsisten dan punya niat baik.
Karena dari situ kita belajar arti tanggung jawab dan juga kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Dan yang tidak kalah penting, tetap menjaga nilai-nilai agama di tengah perkembangan zaman.
Karena itu yang akan jadi pegangan kita dalam menjalani hidup.
(Banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman)
KETUA Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarmasin, Habib Ali Al-Kaff, memberikan apresiasi terhadap langkah yang dilakukan Muhammad Rais Ash-Shiddieqy dalam mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak di lingkungannya.
Menurut Habib Ali, di tengah perkembangan zaman saat ini, istikamah dalam mengajarkan Al-Qur’an jadi hal yang sangat berharga dan patut dijaga.
Dia berpesan agar Rais tetap menjaga niat dan keikhlasan dalam setiap langkah dakwahnya.
Sebab, mengajarkan Al-Qur’an bukan hanya soal aktivitas duniawi, tetapi juga berkaitan erat dengan bekal akhirat.
“Teruslah istikamah dalam mengajarkan Al-Qur’an dan luruskan niat hanya mengharap balasan dari Allah Subhannahu Wa Ta’ala,” ucap Habib Ali.
Dia juga mengingatkan tentang keutamaan Al-Qur’an sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: Al-Qur’an akan menjadi pemberi syafaat bagi siapa saja yang menjadikannya sebagai pedoman hidup.
Ali menyebut, orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an merupakan golongan terbaik di sisi Allah.
Hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang menyebutkan, sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an.
Tak hanya itu, dia mengutip perkataan sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, yang menyebut, dalam Al-Qur’an terkandung ilmu orang terdahulu hingga ilmu di akhir zaman.
Habib Ali turut mengajak masyarakat untuk mulai menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak dini kepada anak-anak.
Menurut dia, pembelajaran Al-Qur’an bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga menjadi fondasi dalam membentuk karakter, kecerdasan emosional, hingga kedekatan spiritual anak kepada Allah Subhannahu Wa Ta’ala.
“Orangtua adalah madrasah pertama. Ajarkan anak mengaji dengan kasih sayang, bukan paksaan, agar menjadi pedoman hidup yang kuat,” tutur dia.
Ali mengatakan, membimbing anak membaca Al-Qur’an juga menjadi investasi akhirat bagi orangtua.
Sebab, anak yang saleh dan terbiasa mengaji akan menjadi sumber doa yang tidak terputus.
“Ini bukan hanya untuk anak, tapi juga untuk orang tua. Pahalanya akan terus mengalir,” pungkasnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Rifki Soelaiman)