TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Libur usai Lebaran belum benar-benar selesai kalau belum menuntaskan satu hal berburu kuliner khas kota.
Di Semarang, arus balik bukan cuma soal kembali ke rutinitas, tapi juga momen singgah mengunyah kenangan yang rasanya nggak pernah basi.
Salah satu titik yang selalu relevan untuk itu adalah Pasar Johar.
Dari Bandara Ahmad Yani, perjalanan menuju kawasan ini memakan waktu sekitar 45 hingga 60 menit, tergantung lalu lintas.
Sementara dari Stasiun Tawang atau Stasiun Poncol, aksesnya jauh lebih dekat sekitar 15 hingga 30 menit menggunakan BRT Trans Semarang, feeder, atau angkutan online.
Pasar Johar bukan sekadar pasar namun simpul sejarah kota yang sempat “jatuh” akibat kebakaran, lalu bangkit lewat revitalisasi.
Baca juga: Daftar Lengkap 238 Perusahaan Tambang Dibekukan ESDM Jateng
Bangunannya kini lebih tertata, tapi denyut lamanya masih terasa dari lorong-lorong, dari suara tawar-menawar, hingga dari aroma masakan yang menguar.
Berikut lima kuliner yang bisa kamu jadikan pemberhentian rasa usai Lebaran:
Berlokasi di Pasar Johar Tengah Lantai 2. Menu ini seperti pembuka yang tegas. Daging kambing dibakar dengan tingkat kematangan pas empuk tanpa alot.
“Saya pakainya kambing muda, biar lebih empuk. Saya di sini sudah 1976 an. Rasa dan bumbu saya pertahankan,” ujar Bu Amini, saat ditemui Tribun Jateng, Jumat (27/3/2026).
Tidak hanya dua menu saja, Amini juga menjual beragam makanan olahan kambing seperti tengkleng, tongseng, bistik dan lainnya.
Untuk olahan kuah, rasa yang kental dan hangat rempah siap untuk memanjakan lidah para food Hunter di Kota Semarang.
Untuk harga sekira Rp20.000-an hingga Rp50.000-an.
Kalau yang satu ini lebih kalem, tapi justru itu daya tariknya. Kuah bening dengan rasa gurih yang bersih dan kaya rempah, diisi suwiran ayam, tauge, dan taburan bawang goreng.
Tak lupa pelengkap lauk seperti gorengan, perkedal sate-satean soto seperti telur puyuh, daging ayam, jeroan ayam dan sebagainya membuat makanan soto lebih nikmat.
“Ini yang ngerintis simbah sekarang sudah dari 1970-an dahulu jualnya di bawah sekarang disini (Djohar tengah lantai 2) yang terkenal dari ini kuah bening dan kaldunya. Sekarang sudah buka cabang di tiga tempat di Semarang,” tuturnya Puji, penerus Soto Pak No, Jumat (27/3/2026).
Setelah makanan berat, di lokasi yang sama semangkuk es ini jadi penyeimbang. Perpaduan santan dan gula putih menghadirkan rasa manis yang lembut, dingin, dan menenangkan.
“Isian utamanya adalah gempol dan pleret, keduanya berbahan dasar tepung beras. Gempol berbentuk bulat putih, sementara pleret memiliki warna merah muda,“ ujar Nurul Pemilik Es Gempol Kencono.
Meski kuliner Gempol Pleret termasuk sajian legendaris, namun banyak generasi muda yang datang bukan hanya untuk makan, tetapi juga mencari pengalaman baru menikmati jajanan pasar legendaris di kawasan bersejarah.
Untuk harga semangkuk es Gempol yakni Rp10.000, di warung tersebut juga tersedia jajanan jadul yang siap diajak nostalgia.
Tak jauh dari pasar Johar Tengah, ada tempat singgah di tengah riuh pasar. Kofi Djohar berdiri di antara kios-kios pedagang dengan konsep stall sederhana.
Konsep ini sengaja dipertahankan agar suasana pasar tetap autentik.
Sementara menu yang paling banyak dipesan, sebutnya, adalah kopi susu butter.
Selain kopi, ada juga kaya toast, telur setengah matang, dan milktea.
Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau. Minuman dijual dengan harga mulai Rp7.000 hingga Rp19.000.
Pendatang baru yang viral di media sosial, berlokasi di Pasar Johar Utara tempat yang terletak di pojok dengan posisi hook menjadikan lokasi yang cocok menjadi spot foto andalan menunjukan heritagenya pasar Johar.
Roti ganjel rel dengan tekstur padat dan aroma kayu manis yang khas menjadi primadona di toko tersebut. (Rad)