Di sudut lain, seorang ayah duduk diam, menatap tanah. Ia bukan tidak ingin bicara, tapi mungkin terlalu lelah untuk menjelaskan
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Edi Laber | Gayo Lues
SERAMBINEWS.COM,BLANGKEJEREN - Malam takbiran di Gayo Lues tetap bergema.
Kalimat-kalimat pujian kepada Sang Pencipta mengalun syahdu, menembus dinginnya malam.
Namun, di antara gema itu, ada tangis yang tidak terdengar tangis yang ditahan, dipendam dalam-dalam oleh mereka yang merayakan Lebaran bukan di rumah, melainkan di tenda pengungsian.
Idulfitri 1447 Hijriah seharusnya menjadi hari kemenangan. Hari di mana setiap orang kembali ke pelukan keluarga, ke rumah yang hangat, ke meja makan yang penuh hidangan.
Tapi bagi ratusan korban bencana hidrometeorologi di Gayo Lues, kemenangan itu terasa begitu jauh seakan hanya milik orang lain.
Di Desa Sere, Kecamatan Blangkejeren, Salludin hanya bisa menatap kosong ke arah luar tenda.
Di sanalah ia kini tinggal, bersama ratusan jiwa lainnya. Dulu, ia punya rumah. Dulu, ia punya dapur tempat keluarganya memasak hidangan Lebaran.
Kini, semuanya hilang hanyut bersama bencana yang datang tanpa permisi.
Baca juga: Ribuan Warga Butanussalam Gayo Lues Shalat Idulfitri di Halaman Stadion Seribu Bukit
Di Desa Sere, Kecamatan Blangkejeren, Salludin hanya bisa menatap kosong ke arah luar tenda.
Di sanalah ia kini tinggal, bersama ratusan jiwa lainnya. Dulu, ia punya rumah.
Dulu, ia punya dapur tempat keluarganya memasak hidangan Lebaran. Kini, semuanya hilang—hanyut bersama bencana yang datang tanpa permisi.
“Tidak pernah kami bayangkan Lebaran seperti ini…,” ucapnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh isak yang ia tahan.
Kalimat itu sederhana, tapi menyimpan luka yang dalam. Luka karena kehilangan, luka karena terpaksa pergi dari kampung halaman, dan luka karena belum tahu kapan bisa kembali.
Pagi hari Idulfitri, mereka sempat berdiri bersama di Lapangan Pancasila. Bersama ribuan orang lainnya, mereka menunaikan shalat.
Di sana, mereka mencoba merasa utuh—meski hanya sejenak. Namun saat takbir usai dan orang-orang kembali ke rumah masing-masing, para pengungsi kembali ke kenyataan: mereka pulang ke tenda.
Dan di situlah, rindu itu terasa paling menyakitkan.
Anak-anak masih mencoba tertawa. Mereka berlari kecil di sekitar tenda, membicarakan petasan, seolah semuanya baik-baik saja.
Tapi sesekali, pertanyaan polos itu muncul pertanyaan yang membuat hati siapa pun teriris.
Tidak ada yang mampu menjawabnya. Bahkan orang tua mereka sendiri.
Para ibu tersenyum saat menyambut tamu yang datang bersilaturahmi. Namun di balik senyum itu, ada kekosongan yang tak bisa disembunyikan.
Tidak ada opor ayam, tidak ada kue-kue yang tersusun rapi. Yang ada hanyalah makanan seadanya sekadar untuk bertahan, bukan untuk merayakan.
Di sudut lain, seorang ayah duduk diam, menatap tanah. Ia bukan tidak ingin bicara, tapi mungkin terlalu lelah untuk menjelaskan kepada anak-anaknya mengapa hidup mereka berubah begitu cepat.
Lebaran di pengungsian bukan hanya tentang kehilangan rumah. Ini tentang kehilangan rasa aman.
Kehilangan kebiasaan. Kehilangan masa depan yang dulu terasa pasti.
Lebih menyakitkan lagi, harapan yang sempat tumbuh kini perlahan memudar. Janji percepatan relokasi yang pernah terdengar belum juga menjadi nyata.
Pendataan demi pendataan dilakukan, tapi kepastian tak kunjung datang.
Situasi ini bahkan berbanding terbalik dengan harapan yang pernah disampaikan Prabowo Subianto agar tidak ada lagi korban bencana yang berlebaran di pengungsian.
Kenyataannya, di Gayo Lues, puluhan keluarga masih harus menghabiskan hari kemenangan di bawah terpal yang tipis.
Bantuan yang dulu datang silih berganti, kini mulai jarang terlihat. Padahal kebutuhan tidak pernah ikut berkurang.
Terlebih saat Lebaran ketika seharusnya semua orang merasa cukup, para pengungsi justru harus berbagi dalam keterbatasan.
Namun di tengah semua itu, mereka tetap bertahan.
Mereka saling menguatkan. Mereka berbagi makanan meski sedikit. Mereka mencoba tersenyum, meski hati mereka remuk.
Karena bagi mereka, menyerah bukan pilihan.
Lebaran ini mengajarkan satu hal yang sangat dalam: bahwa kebahagiaan ternyata bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang apa yang masih bisa kita pertahankan.
Dan para pengungsi di Gayo Lues, dengan segala luka dan kehilangan, masih mempertahankan satu hal itu harapan.
Harapan untuk kembali memiliki rumah. Harapan untuk merayakan Lebaran seperti dulu, tanpa air mata.
Di tengah gema takbir yang terus berkumandang, ada doa-doa lirih yang mungkin tak terdengar oleh banyak orang. Namun satu hal yang pasti, mereka tidak meminta banyak.
Mereka hanya ingin hidup mereka kembali.
Dan hingga hari itu tiba, Lebaran bagi mereka bukanlah tentang kemenangan melainkan tentang bertahan, sambil menunggu janji yang entah kapan akan benar-benar ditepati.(*)
Baca juga: Dikunjungi Tim Kemendagri, Bupati Nagan TRK Minta Pemerintah Pusat Perbaiki Jembatan Alue Wakie