Renungan Harian Katolik Sabtu 28 Maret 2026, "Benci: Balas Dendam Tanpa Aksi Menyinggung Rasa"
Eflin Rote March 28, 2026 11:19 AM

Renungan Harian Katolik
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
Sabtu, 28 Maret 2026
BENCI - BALAS DENDAM TANPA AKSI MENYINGGUNG RASA DAN MELUKAI HATI
(Yeh. 37:21-28; Mzm: Yer. 31:10.11-12b.13; Yoh. 11:45-56)

"Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya, lalu orang-orang Roma akan datang, dan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." (Yoh. 11:48)

Hal baik yang kita jumpai, yang orang perbuat entah untuk diri sendiri atau pun bagi sesama pasti menggembirakan, membahagiakan bahkan menghadirkan sukacita besar dalam hidup. 

Yohanes dalam Injinya mewartakan kepada kita, reaksi beberapa kelompok orang, terhadap mukjizat Tuhan Yesus bagi Lazarus yang hidup kembali setelah empat hari dalam kubur. Sejumlah besar para pelayat percaya kepada Yesus.

Orang-orang percaya ini, tentu tidak hanya heran tetapi serentak mengakui dan mengagumi bahwa ini suatu perbuatan besar dari Allah melalui Yesus Sang Mesias yang dinanti-nantikan dan belum pernah terjadi sepanjang sejarah hidup manusia. Selain Yesus Anak Allah, takkan pernah terjadi lagi.

Segelintir orang pergi melaporkan mukjizat dahsyat iman ini kepada para Farisi pembenci Yesus. Reaksi secepat kilat bagai api menyambar bensin. Para imam kepala dan para Farisi segera  memanggil Mahkamah Agama untuk bersidang agar bermufakat menentukan tindakan pembunuhan terhadap Yesus.

Mereka tahu Yesus membuat banyak mukjizat dan banyak orang telah percaya kepada Dia. Jika Yesus dibiarkan hidup maka sudah pasti bahwa semua orang akan percaya kepada Dia dan nasib, tempat suci serta bangsa mereka terancam oleh penguasa Roma.

Kesepakatan tindakan pembunuhan sudah final, tinggal menanti momen yang tepat untuk eksekusi.

Para elite agama Yahudi ternyata terjerumus dalam aliran deras arus politik dan kekuasaan. Hal ini berbahaya untuk kenyamana kini dan keselamatan kelak. Sebab politik dan kekuasaan tanpa hati nurani hanya memicu rencana jahat yang mencelakakan. 

Yesus tahu rencana pembunuhan itu, namun Ia tidak memimilih untuk menghindar atau membalas dendam tetapi menyingkirkan untuk mempersiapkan Diri menerima aksi maut itu dengan suka rela dan kebebasan penuh tanpa intimidasi dari siapa pun.

Ia merelakan Diri seturut kehendak Bapa-Nya sebagaimana termaktub dalam Kitab Suci: nubuat tentang Hamba Yahweh yang menderita dan mati di salib.

Ia secara suka rela berserah total sebab Ia telah tahu lebih dahulu bahwa kodrat kemanusiaan-Nya yang rapuh akan mengalami maut tiga hari lamanya lalu bangkit mulia menaklukkan maut itu, adalah sarana cinta ilahi-Nya yang paling paripurna dan berkenan kepada Allah untuk menyelamatkan seluruh umat manusia. 

Yehezkiel mewartakan maksud abadi Allah untuk menyelamatkan sisa Israel yang setia dan bangsa  manusia mana pun yang percaya. "Aku akan mentahirkan mereka segingga mereka menjadi umat-Ku dan Aku menjadi Allahnya." (Yeh. 37:23c).

Untuk keselamatan umat manusia, Allah menjadi manusia lemah demi umat yang setia, beriman dan berkomitmen untuk bertobat menjauhi sikap buruk membenci dan membalas dendam tanpa nurani. 

Maka Pemazmur menanggapi dalam madah pujiannya, "Pada waktu itu anak-anak dara akan bersukaria menari beramai-ramai, orang-orang muda dan orang-orang tua akan bergembira. Aku akan mengubah perkabungan mereka menjadi kegirangan, akan menghibur dan menyukakan mereka sesudah kedukaan." (Yer. 31:13).

Orang beriman yang bertobat dan percaya kepada Putra Allah akan mendapat sukacita abadi yang sempurna dan yang mengingkari Dia lalu melakukan kejahatan untuk mematenkan kepentingan sendiri akan diberi pahala penderitaan kekal sesudah kesenangan duniawinya. 

Merasa senang akan keburukan dosa adalah ide error yang fatal. Setiap pendosa adalah penyebab penderitaan Yesus.

Kita tetap percaya dan mengandalkan Yesus, walau sering kita diperlakukan tanpa adil. 

Melalui Yesus, Allah menyucikan kita dari berhala dan dosa. Dialah Sang Anak Domba penghapus dosa demi menguduskan raga, jiwa agar kita bersatu. Yesus dibenci, didendam tanpa Ia melakukan perbuatan yang menyinggung rasa dan melukai hati para lawan-Nya. 

Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Sabtu/Pekan V Prapaskah/A/II, 280326)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.