TRIBUN-MEDAN.com - Keputusan untuk membatalkan pernikahan dalam waktu kurang dari 24 jam sebelum pelaksanaan bukanlah perkara mudah.
Namun, situasi tersebut harus dihadapi oleh seorang wanita yang terpaksa membatalkan pernikahannya setelah calon suaminya diduga melakukan pelanggaran serius sehari sebelum akad nikah yang telah dijadwalkan.
Dikutip dari Mstar.com, Sabtu (28/3/2026), dalam keterangannya, wanita tersebut mengungkapkan bahwa calon suaminya digerebek saat bersama wanita lain pada malam sebelum hari pernikahan mereka.
Ia menjelaskan bahwa setelah mengetahui kejadian tersebut, dirinya segera mengambil keputusan tegas dengan meminta calon suaminya untuk tidak menghadiri acara pernikahan.
Tidak hanya itu, ia juga langsung menghubungi penghulu untuk menyampaikan bahwa akad nikah yang telah direncanakan tidak jadi dilaksanakan.
“Mantan tunangan saya ditangkap saat bersama wanita lain pada malam sebelum kami melangsungkan akad nikah. Jadi saya bilang kepadanya agar tidak perlu datang. Saya juga menghubungi penghulu untuk memberi tahu bahwa pernikahan dibatalkan,” ujarnya dalam unggahan tersebut.
Meski akad nikah dibatalkan, wanita itu memutuskan untuk tetap melangsungkan acara yang sebelumnya telah dipersiapkan.
Keputusan ini diambil mengingat seluruh persiapan telah dilakukan dan para tamu undangan sudah terlanjur hadir.
Dalam pelaksanaan acara tersebut, suasana dibuat berbeda dari rencana semula. Ia menyebut bahwa pihak penyelenggara hanya memutar lagu-lagu santai dan tidak memperbolehkan pemutaran lagu bertema cinta, sebagai bentuk penyesuaian terhadap kondisi yang terjadi.
Kepada para tamu yang hadir, wanita tersebut mengaku terpaksa memberikan penjelasan bahwa pengantin pria tidak ingin melanjutkan pernikahan.
Hal ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan para tamu atas ketidakhadiran mempelai pria.
Selain menghadapi tekanan emosional, wanita tersebut juga harus mengurus persoalan finansial akibat pembatalan pernikahan. Ia mengungkapkan bahwa sebagian vendor bersedia mengembalikan dana yang telah dibayarkan.
“Alhamdulillah, saya mendapatkan pengembalian penuh dari fotografer. Untuk baju pengantin, saya menerima pengembalian sebesar 50 persen, sementara untuk hantaran hanya sekitar 40 persen,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dirinya tidak berada lama di lokasi acara. Setelah memastikan acara berjalan, ia memilih meninggalkan tempat tersebut dan menghabiskan waktu sendiri untuk menenangkan diri.
“Saya hanya sebentar di acara. Setelah itu saya pergi ke mal, menonton film, dan menenangkan diri. Sekitar pukul 22.00 baru saya pulang,” tuturnya.
Hal lain yang turut menjadi perhatian adalah hilangnya sebagian uang hasil pengembalian dana. Ia mengaku tidak mengetahui ke mana perginya uang sekitar RM3.000 tersebut, dan hingga kini masih merasa heran atas kejadian itu.
Dalam pernyataan lanjutan, wanita tersebut mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut justru ia anggap sebagai titik balik dalam hidupnya. Ia mengaku bersyukur karena kejadian tersebut memberinya kekuatan untuk mengakhiri hubungan dengan mantan tunangannya.
Menurut pengakuannya, hubungan tersebut sebelumnya telah diwarnai dengan tindakan kekerasan. Ia bahkan menyebut pernah mengalami perlakuan kasar dan beberapa kali mencoba mengakhiri hubungan sebelum kejadian ini terjadi.
“Mantan tunangan saya sebenarnya bersikap kasar. Jujur, saya merasa lega pernikahan ini tidak jadi. Sebelumnya saya sudah beberapa kali meminta putus, dan saya juga pernah dipukul,” ungkapnya.
(cr31/tribun-medan.com)