Selat Hormuz Ditutup, Benarkah Namanya Diambil dari Dewa Zoroaster?
GH News March 28, 2026 06:13 PM
Jakarta -

Selat Hormuz saat ini tengah banyak diperbincangkan usai gejolak konflik negara Iran dan Israel-Amerika Serikat memanas. Pasalnya, selat ini merupakan jalur perdagangan minyak utama di bumi.

Selama perang ini, Selat Hormuz ditutup oleh Iran. Hal ini memberikan dampak besar terhadap distribusi minyak bumi dari Timur Tengah dan menyebabkan pasokan minyak berbagai negara menipis.

Di balik fungsi vital dari selat ini, ada sebuah hal menarik lainnya.

Beragam Teori Asal-usul Nama

Tak banyak yang tahu, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran penting. Ia juga menyimpan jejak sejarah yang unik bahkan sakral dan melibatkan unsur mitologi, bahasa, hingga dinamika politik kawasan.

Dikutip dari Al Jazeera, secara umum nama "Hormuz" berasal dari "Hormoz", bentuk bahasa Persia Tengah dari Ahura Mazda. Ahura Mazda adalah dewa dalam ajaran Zoroastrianisme yang melambangkan kebijaksanaan, cahaya, dan keteraturan kosmis. Namun, penjelasan ini bukan satu-satunya yang berkembang.

Dalam kajian etimologi, sejumlah teori lain turut mencoba menelusuri asal-usul nama "Hormuz". Salah satunya mengaitkan istilah tersebut dengan frasa "Hur-Muz", yang diartikan sebagai "tempat kurma". Penafsiran ini dinilai cukup masuk akal, mengingat kawasan Teluk sejak lama dikenal sebagai sentra penghasil kurma.

Ada pula teori yang menyinggung kemungkinan pengaruh bahasa Yunani, yang mengaitkan kata "Hormuz" dengan istilah untuk teluk kecil atau lekukan pantai.

Beragamnya penafsiran ini menunjukkan kawasan Selat Hormuz sejak dahulu merupakan titik temu berbagai peradaban besar mulai dari Persia, Arab, hingga Yunani yang saling berinteraksi dan meninggalkan jejak budaya masing-masing.

Selat Hormuz dari Masa ke Masa

Selat Hormuz sempat dikuasai oleh berbagai kerajaan dan pihak di masa lalu. Mulai dari abad ke-11, oleh kepala suku di Arab yang bernama Muhammad Diramku.

Saat itu ia meninggalkan Oman dan datang ke pesisir Iran untuk mendirikan Kerajaan Hormuz. Ia bukan hanya seorang pangeran, tetapi juga pedagang ulung.

Pada abad ke-15, Hormuz berkembang menjadi sebuah negara pelabuhan terbesar pada abad pertengahan. Tempat itu menjadi tempat berkumpulnya pedagang dari China, Mesir, Jawa, Bengal, dan Yaman.

Pada masa Dinasti Ming, penjelajah laksamana Zheng He juga sempat berkunjung. Hampir setiap penjelalah pernah ke sana termasuk juga Venesia Marco Polo.

Laksamana Alfonso de Albuquerque pun pernah menguasai jalur tersebut. Ia merebutnya hanya berbekal tujuh dan 500 orang prajurit.

Hormuz kembali direbut oleh Shah Abbas I (Abbas Agung) pada 1622. Ia didukung oleh angkatan laut Inggris.

Kemudian pada tahun 1951, angkatan laut Inggris memberlakukan blokade selat. Hal itu dilakukan untuk membatalkan keputusan Perdana Menteri Iran Mohammad Mosaddegh yang ingin menasionalisasi industri minyak Iran.

Blokade dilakukan hampir selama dua tahun. Bahkan Inggris mengkudeta Mosaddegh bersama Central Intellegence Agency (CIA).

Fungsi vital Selat Hormuz kembali menjadi sorotan saat perang Iran dan Irak tahun 1980-1988. Pada 1984 dan 1987, sebanyak 546 kapal diserang dan menyisakan 430 pelaut tewas.

Hingga Kini, Iran Kuasai Selat Hormuz

Meski telah beberapa kali dikuasai dan rebut banyak negara, penguasa Selat Hormuz saat ini adalah negara Iran. Mengutip BBC, Selat Hormuz kini ada dalam teritorial Iran dan Oman.

Jalur utama Selat Hormuz dikendalikan oleh Iran, yakni terdapat di sepanjang pantau utara. Sedangkan wilayah Hormuz lebih dikontrol oleh Oman.

Iran telah membatasi selat ini secara militer dengan memasang ranjau. Sehingga kapal-kapal Iran di sekitar selat memiliki senjata anti-rudal.Tampilkan kutipan teks

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.