Tribunlampung.co.id, Iran - Perang antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) masih terus terjadi. Terbaru, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) luluh lantak digempur sekutu Iran, Hizbullah, di Lebanon.
Bahkan, akibat serangan yang terukur tersebut, anak seorang jenderal sekaligus pejabat Israel dikabarkan tewas.
Ia juga merupakan tentara Israel yang terlibat perang di Lebanon.
Dikutip Tribunlampung.co.id dari Tribunnews.com yang melansir The Times of Israel, anak jenderal Israel yang tewas itu ialah Sersan Aviaad Elchanan Volansky (21).
Ia berasal dari Yerusalem, merupakan anggota Batalyon ke-77 Brigade Lapis Baja ke-7.
Baca juga: Gempuran Rudal AS-Israel Tak Surutkan Langkah Jutaan Warga Iran Jalani Ibadah Salat Id
Volansky adalah putra dari Pengawas Keuangan Lembaga Pertahanan, Brigjen (purn.) Yair Volansky.
Menurut penyelidikan awal IDF, anggota Hizbollah meluncurkan dua rudal anti-tank ke arah Israel.
Adapun serangan yang terjadi pada Jumat (27/3) menargetkan tank Merkava Israel yang ada di Sungai Litani.
Rudal pertama dicegat oleh sistem perlindungan aktif TROPHY milik Merkava.
Sementara rudal kedua menghantam tank tersebut, menewaskan Volansky dan melukai tentara Israel yang lain.
Volansky adalah tentara IDF keempat yang tewas dalam serangan darat Israel yang diperbarui terhadap Hizbullah di Lebanon selatan.
Pemerintah Amerika Serikat di bawah pimpinan Donald Trump dikabarkan mulai melunak, membuka peluang jalur diplomasi baru di tengah konflik yang masih memanas dengan Iran.
Utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, menyatakan bahwa Washington berharap dapat segera menggelar pertemuan langsung dengan Teheran dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut disampaikan Witkoff dalam sebuah forum investasi di Miami pada Jumat (27/3/2026), sebagaimana dilansir Tribunnews.com.
Dalam kesempatan itu dalam mengungkap optimisme bahwa proses diplomasi bisa segera dimulai, meski belum memastikan waktu pasti pertemuan tersebut.
“Kami berharap pertemuan bisa terjadi dalam waktu dekat. Kami telah mengajukan proposal dan menunggu respons dari Iran,” ujar Witkoff, sebagaimana dikutip dari The Times of Israel.
Witkoff juga menjelaskan bahwa Amerika Serikat telah menyodorkan proposal berisi 15 poin sebagai dasar kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama sekitar satu bulan.
Salah satu poin utama dalam proposal tersebut adalah tuntutan penghentian program pengayaan uranium Iran. Washington menilai langkah ini penting untuk mencegah munculnya kekuatan nuklir baru di kawasan Timur Tengah.
Menurut Witkoff, adanya perpanjangan tenggat waktu dari pihak Iran menjadi sinyal positif bagi kelanjutan negosiasi.
Ia juga menyebut bahwa komunikasi antara kedua negara masih berlangsung, meski dengan pendekatan yang berbeda.
Sementara itu dalam perkembangan terbaru, Iran dilaporkan mulai mengizinkan sejumlah kapal melintasi Selat Hormuz.
Langkah ini dinilai sebagai indikasi awal adanya ruang kompromi dalam konflik yang telah mengganggu jalur distribusi energi global.
Witkoff menilai kebijakan tersebut sebagai “pertanda baik” yang dapat membuka jalan menuju perundingan lebih lanjut.
“Presiden menginginkan solusi damai. Namun, tekanan tetap diperlukan agar pihak lain mau duduk di meja perundingan,” katanya.
Lebih lanjut melalui Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pemerintah AS menegaskan bahwa Washington menargetkan penghentian operasi dalam hitungan pekan, bukan bulan.
Pernyataan ini menandai adanya perubahan pendekatan di tengah konflik yang terus memanas.
Rubio menyebut bahwa tujuan strategis Amerika Serikat diyakini dapat dicapai tanpa perlu mengerahkan pasukan darat, dengan mengandalkan kombinasi serangan udara dan tekanan diplomatik.
Namun di lapangan, dampak konflik terus meluas. Sejak pecah pada 28 Februari, serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.340 orang di Iran.
Angka tersebut mencerminkan tingginya intensitas operasi militer yang berlangsung dalam waktu relatif singkat.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah target di kawasan Timur Tengah, termasuk wilayah yang memiliki kepentingan militer Amerika Serikat.
Serangan ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur di berbagai titik strategis.
Dampak konflik juga terasa di tingkat global. Lonjakan harga energi mulai membebani pasar internasional, sementara gangguan di jalur pelayaran utama seperti Selat Hormuz memperburuk distribusi minyak dunia.
Selain itu, risiko bagi militer AS juga semakin nyata. Sedikitnya 13 personel Amerika dilaporkan tewas sejak konflik dimulai, menunjukkan bahwa eskalasi yang terjadi tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga langsung menyentuh kekuatan militer kedua belah pihak.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa meski upaya penghentian operasi mulai direncanakan, situasi di lapangan masih sangat dinamis dan penuh risiko, baik secara militer maupun ekonomi global.