Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON - Dampak banjir yang melanda Desa Buket Linteung, Kecamatan Langkahan dan ratusan desa lainnya di Kabupaten Aceh Utara pada akhir November 2025, tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga melumpuhkan perekonomian masyarakat hingga 80 persen.
Lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber utama penghasilan warga rusak parah, membuat sebagian besar masyarakat kehilangan mata pencaharian.
Di tengah kondisi sulit tersebut, bantuan yang dijanjikan Pemerintah Pusat hingga kini belum juga diterima oleh warga terdampak.
Bantuan yang dinantikan meliputi jatah hidup (jadup) sebesar Rp 15 ribu per jiwa per hari, dan bantuan tunggu hunian tetap (DTH) sebesar Rp600 ribu per kepala keluarga (KK) per bulan.
Kemudian, bantuan perabot rumah tangga Rp3 juta, serta bantuan pemulihan ekonomi sebesar Rp5 juta.
Semua bantuan yang dijanjikan itu, sampai dengan Sabtu (28/3/2026), belum disalurkan.
“Belum ada yang kami terima sampai sekarang. Ini membuat kondisi masyarakat semakin sulit. Mereka tidak punya penghasilan, sementara bantuan belum jelas kapan disalurkan,” kata Keuchik Buket Linteung, Mansur kepada Serambinews.com, Sabtu (28/3/2026).
Baca juga: Ribuan Korban Banjir di Pedalaman Aceh Utara Bertahan di Gubuk Beratap dan Dinding Terpal
Ia berharap, pemerintah segera merealisasikan bantuan tersebut agar warga dapat bertahan dan mulai memulihkan kehidupan mereka pascabencana.
“Warga sangat berharap bantuan segera turun. Tanpa itu, kondisi mereka akan semakin berat,” ujarnya.
Sementara itu, pembangunan hunian sementara (Huntara) pada sejumlah dusun mulai menunjukkan perkembangan.
Di Dusun Kareung, sebanyak 40 unit Huntara saat ini dalam tahap penyelesaian.
Meski dalam suasana Lebaran, para pekerja tetap melanjutkan pembangunan sehingga sebagian warga sudah mulai menempatinya.
Di Dusun Teungoh, dari lebih 170 KK yang terdampak banjir, sebanyak 157 KK telah memilih tinggal di Huntara.
Sementara sisanya memilih mengambil Dana Tunggu Hunian (DTH) untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal secara mandiri.
Sedangkan di Dusun Leubok Muku, sebanyak 84 unit Huntara telah dibangun.
Namun, masih terdapat 11 KK yang belum menempatinya, karena fasilitas pendukung seperti WC belum sepenuhnya siap.
“Sebagian dari mereka masih bertahan di tenda dan berjualan di sana. Padahal jarak lokasi pengungsian dengan huntara hanya sekitar 200 meter, sehingga sebenarnya sudah bisa ditempati,” jelas Mansur.
Adapun di Dusun Pateung, seluruh warga terdampak telah menempati huntara yang dibangun sebanyak 45 unit.
Baca juga: Pembangunan Huntap untuk Korban Banjir Sumatera dan Aceh: Dapat Rp 60 Juta atau Dibangun Pemerintah
Meski sebagian warga sudah mulai berpindah ke Huntara, masih terdapat sejumlah keluarga yang memilih bertahan di lokasi pengungsian atau menunggu opsi relokasi.
Hal ini disebabkan berbagai faktor, termasuk kesiapan fasilitas dan pertimbangan jarak dari tempat tinggal asal maupun sumber penghidupan mereka.
Pemerintah diharapkan dapat mempercepat realisasi bantuan serta penyelesaian fasilitas pendukung Huntara agar seluruh warga terdampak dapat segera menempati hunian yang layak dan memulai kembali kehidupan mereka.(*)