Video warga memblokir rel kereta api di Bandar Lampung viral setelah kecelakaan mobil dengan KA babarajang pada malam takbiran.
SERAMBINEWS.COM, BANDAR LAMPUNG - Peristiwa kecelakaan di Bandar Lampung yang melibatkan sebuah mobil dan kereta api (KA) pada malam takbiran atau Jumat (20/3/2026) malam, memicu kontroversi.
Hal ini terjadi setelah video warga ramai-ramai memblokir rel kereta api viral di media sosial (medsos).
Pihak keluarga korban akhirnya buka suara untuk meluruskan narasi yang beredar.
Reni Antika, kakak pengendara mobil, menegaskan bahwa adiknya tidak menerobos perlintasan.
Ia berdalih adiknya benar-benar tidak mengetahui adanya kereta api yang melintas.
Menurutnya, kontur jalan menuju rel berbelok, menurun, dan terhalang bangunan warga, sehingga pandangan pengendara terbatas.
Ditambah lagi, tidak ada palang pintu, penjaga, maupun lampu sorot di lokasi.
Baca juga: Abodemen Jembatan Rel Kereta Api Gandapura Ambruk dan Erosi Meluas
Reni menjelaskan, mobil adiknya baru menyadari keberadaan kereta babarajang (kereta batu bara panjang), ketika sudah berada di tengah rel.
“Kami benar-benar buta, tidak ada tanda-tanda kereta melintas,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut sangat berbahaya dan sudah berulangkali menimbulkan korban.
Dalam pertemuan dengan PT KAI Divre IV, pihak keluarga meminta agar kerusakan kendaraan diperbaiki dan perlintasan dipasang palang pintu serta dijaga petugas.
Namun, menurut Reni, pihak KAI menyebut kompensasi hanya diberikan jika ada korban jiwa, sehingga keluarga merasa kecewa.
Sebagai bentuk protes, warga kemudian melakukan aksi simbolis dengan memalangkan besi di perlintasan kereta babarajang.
Reni menegaskan, aksi itu dilakukan secara singkat, hanya sekitar dua menit, dan pada saat tidak ada kereta melintas.
Baca juga: VIDEO - Viral! Istri Pergoki Suami di Kamar Kos, Suasana Langsung Memanas
Ia juga menyebut aksi tersebut sudah dilaporkan kepada pihak berwenang.
Tujuannya bukan untuk mengganggu operasional, melainkan agar PT KAI memberi perhatian serius terhadap keselamatan di lokasi tersebut.
“Kami lakukan supaya didengar, karena sudah banyak korban di sana. Apa harus jatuh korban lagi?” katanya.
Video aksi warga yang memblokir rel kemudian viral di media sosial, memunculkan beragam opini publik.
Dalam rekaman berdurasi 39 detik, terlihat sejumlah pemuda mengangkat besi menyerupai potongan rel dan menaruhnya di jalur kereta.
Warga sekitar juga tampak berkumpul di lokasi perlintasan tanpa palang pintu.
Situasi ini menambah sorotan terhadap lemahnya pengawasan keselamatan di sejumlah titik perlintasan kereta api di Lampung.
Kasus ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap aspek keselamatan transportasi publik.
Baca juga: Korupsi Jalur Kereta Api Sumut-Aceh, Eks Dirjen Kemenhub Prasetyo Tetap Divonis 7,5 Tahun Penjara
Pihak keluarga korban berharap PT KAI segera memasang palang pintu, lampu peringatan, dan menempatkan petugas jaga di lokasi rawan.
Mereka menekankan bahwa meski kereta api memiliki prioritas jalur, keselamatan manusia tetap harus menjadi yang utama.
Insiden ini juga menjadi pengingat bahwa koordinasi antara pemerintah daerah, PT KAI, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mencegah tragedi serupa terulang.(*)