Warga Lereng Merapi Gelar Halalbihalal, Sapi Turut Serta
GH News March 28, 2026 08:13 PM
Boyolali -

Warga lereng Gunung Merapi di Boyolali menggelar tradisi angon hewan ternak dalam syawalan di puncak perayaan Hari Raya Idulfitri, Sabtu (28/3/2026). Ratusan ekor ternak sapi dan kambing ikut dalam arak-arakan ini.

Tradisi itu digelar warga di Dukuh Mlambong, diikuti warga di lingkup RW 04 Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Yakni Dukuh Mlambong, Rejosari, Gedongsari, Wonodadi dan Tegalsari.

"Ini tradisi tahunan. Dilaksanakan setahun sekali saat syawalan," kata tokoh masyarakat setempat, Jaman, di sela-sela acara.

Jaman mengatakan tradisi arak-arakan sapi itu berlangsung turun- temurun sejak zaman nenek moyang. Sampai saat ini masih dilestarikan oleh warga. Bahkan pelaksanaannya semakin meriah.

Ratusan warga dari berbagai daerah tumplek blek menyaksikan tradisi yang berlangsung sekali dalam satu tahun ini. Tamu undangan dari dinas terkait Pemkab Boyolali juga turut hadir.

Tradisi diawali dengan kenduri ketupat yang diikuti warga di lingkungan RW 04. Semua warga membawa ketupat berbagai jenis berikut lauk pauknya. Setelah didoakan, kemudian warga makan bersama. Para pengunjung pun juga dipersilahkan dan ikut makan bersama.

Setelah kenduri ketupat, warga kemudian pulang ke rumahnya masing-masing. Selanjutnya mereka mengeluarkan sapi untuk diarak keliling kampung.

Barisan paling depan, sejumlah pemudi dengan membawa spanduk acara tradisi ini. Di belakangnya ada gunungan hasil bumi dan ketupat. Diikuti kelompok kesenian reog dan warok dari Desa Sruni turut memeriahkan. Disambung kemudian barisan ibu-ibu dengan mengenakan seragam kebaya.

Baru kemudian ratusan sapi dan kambing milik warga. Sejumlah warga juga membawa sapi tunggang. Sapi-sapi juga tampak diberi hiasan kalung ketupat.

Tradisi Bakdo Sapi atau Lebaran Sapi

Jaman mengatakan tradisi arak-arakan sapi Digelar di akhir perayaan Lebaran atau di H + 7 Lebaran, bertepatan dengan kupatan atau syawalan. Sehingga oleh masyarakat setempat juga biasa disebut bakdo kupat dan bakdo sapi alias Lebaran sapi.

Bakdo kupat karena hari ini warga juga menggelar kupatan, dan bakdo sapi karena pada tradisi ini warga membawa ternak sapinya keluar kandang digembala keliling kampung.

"Tradisi ini juga sebagai wujud syukur kepada Allah, yang telah melimpahkan rezeki kepada masyarakat disini melalui hewan-hewan ternak yang dipeliharan warga maupun hasil pertanian warga," kata ketua RW 04 Desa Sruni itu.

Para pengunjung dari anak-anak hingga orang dewasa tampak menonton di pinggir jalan. Acara pun berlangsung meriah.

Menurut dia, kepercayaan warga pada tradisi syawalan warga membawa hewan ternaknya keluar kandang, karena pada hari itu Kanjeng Nabi Sulaiman memeriksa hewan-hewan ternak milik warga. Sehingga warga pun mengeluarkan sapinya dari kandang dan dibawa keliling kampung.

Setelah arak-arakan sapi, pengunjung juga dihibur kesenian tarian tradisional reog.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.